Wednesday, April 11, 2012

Saat Terakhir Timor Lorosae 1999 (9)


Dilli, 29 Agustus 1999

Matahari terbit dengan cerahnya pagi ini di Bumi Lorosae. Sinarnya yang terang mengiringi langkah-langkah mereka yang berharap untuk segera mendapatkan kemakmuran dengan cara masing-masing. Sebagian yakin bahwa dengan tetap menjadi bagian Indonesia, kemakmuran akan segera terwujud. Tapi sebagian besar lainnya yakin bahwa hanya kemerdekaan yang akan menjadi jalan menuju kemakmuran. Hau hili ukun rasikan

Kemarin ketika briefing di markas UNAMET, saya kebagian untuk memantau daerah pemilihan Bidau Santana, tepatnya di TPS SDN Bidau Santana. Kesanalah pagi ini tujuan saya bersama 2 teman lainnya. Dengan penuh semangat pagi itu kami berjalan keluar dari SKB menuju jalan raya depan Katedral Dilli. Rencananya kami naik taksi ke Bidau Santana seperti teman-teman yang kebagian daerah lain.

Sekali Lagi Tentang Integrasi


*sebuah tugas kuliah tahun 2000

            
Ya, sekali lagi berbicara mengenai Integrasi. Mungkin telah ratusan tulisan, baik itu berbentuk essay pada berbagai media massa, maupun yang berbentuk buku mengenai Integrasi atau Disintegrasi di Indonesia; baik yang ditulis oleh pengamat/peneliti Indonesia, maupun oleh pengamat/peneliti asing. Hampir semuanya terilhami oleh kasus-kasus yang mengancam stabilitas, persatuan, dan keutuhan bangsa Indonesia[1]. Mulai dari kasus pemberontakan PKI (PKI Madiun dan G30S/PKI), PRRI/PERMESTA[2], Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Republik Maluku Selatan (RMS), Organisasi Papua Merdeka, Fretilin di Timor-Timur[3], Kerusuhan Lampung, Situbondo, Tasikmalaya, Pekalongan, Purwakarta dan Tanjung Priok atau gerakan Riau Merdeka, Sulawesi Merdeka, atau Andalas Merdeka[4]. Juga banyak kasus konflik antar etnis dan atau agama, seperti Kasus Dayak/Melayu versus Madura di Kalimantan (Pontianak, Sampit, Sambas, dan tempat-tempat lainnya), konflik agama di Poso, konflik agama di Ambon[5], kekerasan terhadap etnis Cina, dan konflik-konflik lainnya yang jumlahnya puluhan bahkan mungkin ratusan.
           
Nyaris perjalanan bangsa Indonesia selalu diiringi berbagai macam konflik yang mengancam keutuhan pluralitas bangsa Indonesia. Telah berbagai cara ditempuh oleh pemerintah untuk meredam konflik-konflik yang terjadi tersebut. Walaupun disayangkan langkah yang ditempuh lebih banyak dengan jalan kekerasan sehingga malah membuat konflik semakin menjadi. Sebenarnya sampai periode mantan Presiden Soeharto berkuasa ke-pluralitas bangsa Indonesia masih bisa terjaga, baik itu keagamaan maupun kesukuan (etnisitas). Dalam periode tersebut gagasan mengenai kesatuan dan dalam pluralitas, “Bhineka Tunggal Ika”, terkesan dapat dipelihara dan direalisasikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Konflik-konflik yang terjadi seperti pada contoh di atas tidaklah bergitu berarti terutama karena tidak pernah meluas, terisolasi di wilayah tertentu dan dalam lingkungan tertentu. Baru setelah rezim Orde Baru tumbang, ancaman disintegrasi bangsa semakin terasa serius.