Dieng, Negeri Para Dewa


skripsi S1 Antropologi karya Yudi Febrianda dengan judul : 

"Mitos Anak Gembel di Dataran Tinggi Dieng", 2003

silahkan menggunakan isinya untuk kepentingan akademis, penulisan, dll asal mencantumkan sumbernya


Lokasi Dan Keadaan Alam

Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) terletak 55 km di sebelah Timur Laut kota Banjarnegara dan 26 km sebelah Utara kota Wonosobo. Sebuah kawasan wisata seluas 8.359 Ha, yang merupakan perpaduan antara keindahan alam dan cagar budaya peninggalan leluhur di sekitar abad VII.

Dilihat dari sisi kondisi gunung dan geologis tanahnya, dataran dengan ketinggian 2.093 meter diatas permukaan laut, dulu merupakan sebuah gunung berapi yang sangat besar dan tinggi. Suatu saat gunung tersebut meletus denga dahsyatnya, melemparkan badan puncaknya ke daerah sekelilingnya yang kini membentuk bukit-bukit besar maupun kecil, seperti rangkaian perbukitan Gunung Perahu (2.565 m), Jurang Grawah (2.450 m), Gunung Kendil (2.326 m), serta perbukitan lain, diantaranya Gunung Pakuwojo, Bismo Pangonan dan Sipendu dengan ketinggian antara 2.245 m – 2.395 m.


Perbukitan kecil (sekunder) yang merupakan potongan atau irisan badan puncak gunung yang terlempar, antara lain membentuk Gunung Naga Sari, Pangamun-amun, Gajah Mungkur serta perbukitan dengan ketimggian antara 1.630 m – 2.154 m.

Kini, areal perbukitan yang tampak seperti gelombang raksasa di tengah lautan lepas itu, seluruhnya terjamah dan diolah tangan-tangan petani menjadi lahan subur penghasil kentang terbesar di Indonesia.

Kemudian tubuh gunung dan bagian dalamnya yang tersisa akibat letusan dahsyat tersebut, menjelma menjadi dataran luas yang dipenuhi bekas-bekas kawah yang masih aktif mengepulkan asap belerang dan golakan lumpur panas yang dapat kita saksikan hanya dalam jarak 0,50 – 1 meter.

Kawah-kawah yang sudah mati, kini menjelma menjadi telaga-telaga serta sumur-sumur raksasa yang dipenuhi air, dengan lubang permukaan antara 200 m2 dan kedalaman hingga 100 meter seperti sumur Jalatunda dan kawah Sinila, yang pernah menyemburkan gas beracun hingga menewaskan 149 penduduk sekitarnya pada tahun 1978.

Diareal kawasan wisata yang bersuhu antara 15 – 20 derajat celsius di musim kemarau dan 5 – 10 derajat celsius di musim hujan atau malam hari itu, terdapat 6 buah telaga, yakni Telaga Warna, Pengilon (cermin), Swiwi, Balekambang, Merdada,dan Dringo. Akan tetapi, sebagian telaga tersebut kini dalam kondisi menyedihkan akibat tingginya tingkat pelumpuran serta munculnya kawasan industri agrobisnis.

Sejak tahun 1971 kawasan Dieng ditetapkan oleh Gubernur Jawa Tengah, Moenadi kala itu, sebagai daerah wisata yang wilayahnya terdiri dari enam desa di wilayah kabupaten Banjarnegara dan dua desa di wilayah kabupaten Wonosobo. Desa-desa tersebut adalah Dieng Kulon, Kepakisan, Pekasiran, Bakal, Karang Tengah, dan Kepucukan di wilayah kabupaten Banjarnegara. Kemudian untuk wilayah kabupaten Wonosobo adalah Dieng Wetan dan Sembungan.

Kabupaten Wonosobo memiliki kawasan Dieng Plateau bagian timur atau lazim disebut Dieng Wetan. Di kawasan tersebut terdapat obyek wisata Tuk Bima Lukar1, Telaga warna, Telaga Pengilon, Gua Semar, Kawah Sileri, Kawah Candradimuka, dan Sumur Jalatunda.
Desa Dieng Wetan termasuk dalam wilayah administratif kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah. Desa Dieng Wetan dapat dijangkau tanpa banyak kesulitan dari berbagai arah karena tersedia prasarana dan sarana perhubungan yang cukup memadai. Jarak desa ke kota kecamatan 9 kilometer, ke kota kabupaten 26 kilometer, ke ibu kota propinsi 156 kilometer, dan ke ibu kota negara 248 kilometer (lihat Lampiran).

Letak Desa Dieng Wetan secara administratif juga berbatasan dengan desa-desa lainnya (lihat Lampiran), yaitu :
  • Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Patak Banteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Sikuning, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Batur, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Jojogan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
Dari luar, cukup mudah menjangkau Desa Dieng Wetan dengan angkutan umum, karena sudah dibangun jalan aspal yang menghubungkan Desa Dieng Wetan dengan kota Wonosobo. Desa Dieng Wetan berada dibagian Utara Kabupaten Wonosobo, yang dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua atau lebih. Untuk memasuki Desa Dieng Wetan, dari kota Wonosobo sebelumnya kita melalui dua desa yaitu Desa Kejajar dan Desa Patak Banteng. Dari kota Wonosobo kita dapat menggunakan kendaraan umum bis Wonosobo – Dieng – Batur, sampai lokasi dengan ongkos sebesar Rp. 3.500/orang, dengan lama perjalanan sekitar 45 menit – 1 jam. Sedangkan untuk menuju ke kota Wonosobo-nya sendiri, dari kota Bandung kita dapat menggunakan kendaraan umum bis Patas–AC Budiman, Bandung – Wonosobo dengan ongkos Rp. 35.000/orang, dengan lama perjalanan kurang lebih 9 jam.

Jalan dari kota Wonosobo hingga Desa Dieng Wetan sudah berupa jalan aspal yang dibangun sejak Dataran Tinggi Dieng dijadikan tempat pariwisata, kurang lebih 30 tahun yang lalu. Jalan aspal tersebut pada saat musim hujan akan penuh dengan lumpur, yang di bawa oleh air hujan dari ladang-ladang penduduk, yang letaknya dipinggiran lembah dan gunung. Ladang-ladang penduduk yang berada dipinggiran lembah dan gunung tersebut, sangat rawan akan bahaya longsor, sehingga pada saat musim hujan lumpur yang dibawa oleh air hujan tersebut mampu membuat jalanan yang menghubungkan Wonosobo – Dieng – Batur, tertutup oleh lumpur yang cukup banyak.

Desa Dieng Wetan memiliki luas wilayah sekitar 282,00 Ha, yang dipergunakan antara lain untuk pekarangan, tegalan, hutan negara, kuburan. 


Desa Dieng wetan terbagi menjadi 2 dusun yaitu : Dusun Dieng Wetan, dan Dusun Kali Lembu yang masing-masing membawahi 1 Rukun Warga dan 4 Rukun Tetangga. Desa Dieng Wetan dapat digolongkan sebagai desa yang berada di daerah dataran tinggi di Propinsi Jawa Tengah. Ketinggian wilayah desa ini sekitar 2.093 meter diatas permukaan laut (Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonosobo, 2000).

Seperti yang disebutkan diatas bahwa daerah dataran tinggi Dieng memiliki rata-rata temperatur maksimum 15 derajat celsius, sedangkan temperatur minimum 5 derajat celsius, akan tetapi memasuki bulan Juni, Juli, Agustus dan September terjadi pergantian musim dari musim hujan ke musim kemarau. Maka pada bulan-bulan tersebut suhu udara pun turut berubah yang biasanya 15 derajat celsius, kini menjadi 17 derajat celsius pada siang hari. Sebaliknya pada malam hari pada umumnya 5 derajat celcius, turun sampai 5 bahkan dibawah nol derajat celsius. Akibatnya pada pagi hari tampaklah embun-embun beku (frost) yang menyerupai lapisan salju yang tipis terhampar indah diatas permukaan tanah.

Embun beku (frost) ini, oleh masyarakat Dieng disebut bun upas tersebut tidak disukai. Sebab mematikan tanaman kentang, yang justru merupakan komoditas andalan masyarakat Dieng dan sekitarnya.

 

Sejarah Dieng

Bila dijelaskan secara etimologis, maka nama atau sebutan "Dieng", pertama, berasal dari bahasa Sansakerta : "ardi", artinya "gunung" dan "hyang" (Wirjosuparto, 1957), ditafsirkan menjadi gunung tempat persemayaman dewa-dewi, sekaligus pengertian ini dihubungkan dengan peninggalan-peninggalan purbakala berwujud candi yang banyak bertebaran disana. Bangunan candi yang ada di daerah dataran tinggi Dieng, ada lima kelompok. Empat kelompok merupakan Ceremonial Site yaitu kelompok Candi Pendawa, kelompok Candi Gatotkaca, kelompok Candi Bima dan kelompok Candi Dharawati/Parikesit. Kemudian kelompok kelima adalah kelompok bangunan profan atau bangunan tempat tinggal yang terletak tidak seberapa jauh dari kelompok bangunan sakral (candi-candi Pendawa Lima) yang sama-sama berada di dataran ( Subroto, 1984 : 1 ).

Maka unsur keyakinan keagamaan itu tercermin dalam konsep "kahyangan", sebuah konsep tentang "dunia gaib" yang supranatural. Oleh karena itu hanya dijangkau oleh dan dimengerti sebagai suatu "keyakinan". Pikiran rasional yang biasa tidak dapat dan tidak bisa menjelaskan hakikat dan eksistensi dunia gaib itu. Hanya suatu keyakinan yang dianut, yang sanggup menjelaskan kepada penganutnya.

Arti kedua dari kata Dieng adalah yang berasal dari dari bahasa Jawa "adi" yang berarti "indah" atau "elok" dan "aeng" yang bermakna "mengagumkan" karena bersifat "aneh".
Arti ini, menurut Mochtar Buchori yang menjabat deputi ketua LIPI bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, merupakan hasil kotak-katik semantik. Suatu permainan yang amat digemari masyarakat Jawa. Ilmu kotak-katik kata ini oleh Mochtar Buchori disebut "keretabasa", yaitu semacam etimologi rakyat (Kompas, 8 November 1985 : IV).

Akan tetapi arti itu pun merupakan taksiran faktual terhadap kenyataan keadaan Dataran Tinggi Dieng yang seadanya, yang sesungguhnya dan yang dapat diamati.Dengan demikian, ketika kita menyebutkan nama Dieng maka kita juga mau mengatakan dan menjelaskan kenyataan keadaan Dataran Tinggi Dieng secara alami, apa adanya, bahwa Dieng Plateau adalah sebuah dataran tinggi yang indah, yang elok, tetapi sekaligus juga "aneh" yang menimbulkan decak kagum mereka yang mengunjunginya. Hal tersebut merupakan daya pesona alami atau natural attraction dari Dieng. Akan tetapi juga merupakan sesuatu yang mendebarkan dan mengerikan jika ditinjau dari korban bencana yang telah ditimbulkan oleh potensi energi kandungan panas bumi Dieng.

Masyarakat Dieng hidup sebagai petani atau buruh tani di dataran tinggi ditanami tanaman, kentang, kacang dieng, kubis (kol), carica serta palawija. Di depan rumah mereka yang berada di tepi jalan yang dekat ladang terdapat onggokan "lemi" (sejenis pupuk kompos). Lemi menurut bahan bakunya dibedakan menjadi 2 (dua) jenis. Pertama, lemi yang bahan bakunya dari ampas tebu, jerami, sekam dan lumpur rawa. Lemi jenis ini dapat diperoleh dari PT Dieng Djaya yang sebenarnya merupakan pupuk kompos yang tidak terpakai lagi (afkiran) setelah dipergunakan dalam budidaya Champignon oleh petani PIR di daerah lokasi Telaga Merdada, desa Karang Tengah dan desa Sumberejo. Kedua, lemi yang bahan bakunya terdiri dari "belek" kandang dengan istilah "CM" yang merupakan campuran dari kotoran ayam, sapi, kerbau, kuda bahkan babi. Untuk lemi jenis ini dapat diperoleh masyarakatsecara mudah, karena lemi tersebut berasal dari daerah Jakarta dan Yogyakarta. Dengan adanya lemi tersebut, terutama yang bahannya terdiri dari kotoran binatang ternak, maka bila kita melewati jalan menuju daerah lokasi wisata kerapkali tercium bau anyir yang tidak sedap dan menusuk hidung (polusi udara).

Adapun sebagian besar dinding rumah masyarakat Dieng, bukan lagi terdiri dari "gedeg", melainkan sudah dengan tembok. Hal tersebut dimungkinkan, karena transportasi di daerah Dieng sekarang talah baik, apalagi jalur Dieng – Batur – Wanayasa – Pekalongan kini sudah memakai aspal Hot–Mix, sehingga dapat semakin memperlancar pemasaran budidaya pertanian mereka, dengan demikian akan meningkatkan pula taraf hidup perekonomian mereka.

Namun, di antara rumah mereka yang telah berdinding tembok, tidak ada pagar dinding pembatas, meskipun banyak di antara rumah mereka yang berhimpitan. Jika kita simak dari segi fisik struktur dan jarak rumah di Dieng, maka hal seperti itu mengisyaratkan tentang "kerukunan dan harmoni" dalam konsep filsafat hidup bermasyarakat orang Jawa.

Dalam masyarakat Dieng Wetan ada kegiatan kebersihan desa, slametan, membangun mesjid, perayaan hari besar dan kemerdekaan, kelahiran, dan kematian, khitanan, upacara pernikahan dan ritus rambut gembel yang dilaksanakan secara gotong-royong. Dengan kesadaran penuh apabila mereka dimintai bantuan orang lain untuk membentu meringankan penderitaan orang lain dan menyumbang dalam suatu acara hajatan.

 

Keadaan Penduduk

Jumlah penduduk Desa Dieng Wetan seluruhnya 340 kepala keluarga (1896 jiwa) terdiri dari 956 pria dan 940 wanita dengan kepadatan 672 jiwa/km2. Dengan perbandingan tersebut Desa Dieng Wetan termasuk padat penduduknya. Jika dihitung jumlah anak yang dimiliki oleh setiap keluarga rata-ratanya adalah 5 – 6 orang anak.
 
Keadaan penduduk yang padat ini adalah karena adanya kebiasaan perkawinan dalam usia muda pada waktu dahulu, tetapi sekarang ini walaupun kebiasaan perkawinan dalam usia muda di Desa Dieng Wetan masih ada, tetapi hal ini disertai juga dengan kesadaran untuk menjarangkan dan mengurangi kelahiran. Jika dilihat dari pemakaian alat kontrasepsi menurut buku Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonosobo, di Desa Dieng Wetan ini yang menggunakan IUD sebanyak 58 jiwa, Suntik 228 jiwa. Dengan masuknya program Keluarga Berencana (KB) di daerah ini, semboyan "banyak anak banyak rejeki", kini tidak berlaku lagi. Selain itu masyarakat Desa Dieng Wetan telah banyak melihat kenyataan yang sedang terjadi dalam pola hidup pertaniannya. Dengan mempunyai banyak anak berarti dalam pembagian warisan lahan pertanian akan jauh lebih menyusut, yang nantinya justru akan membuat penderitaan bagi anak keturunannya.

Menurut informan Yahna (40 tahun) yang menjabat sebagai Kepala Desa Dieng Wetan, di zaman dahulu setiap warga desa terjamin kemungkinannya untuk bekerja di ladang melalui sistem kompleks untuk menyewakan tanah dan mengikut sertakan orang pada waktu panen. Sistem ini sekarang sedang ambruk. Usaha-usaha intensifikasi pertanian yang padat modal memaksa petani yang lebih miskin untuk menyerahkan tanah mereka kepada petani yang lebih kaya supaya dapat membayar semua hutang-hutang mereka.

Perkembangan penduduk juga didukung oleh adanya para pendatang dari luar. Para pendatang ini adalah orang-orang yang bekerja sebagai pedagang di daerah wisata, guru Sekolah Dasar. Pada perkembangan selanjutnya para pendatang ini ada yang menikah dengan penduduk setempat dankemudian menetap disana.

 

Mata Pencaharian

    Sebagaimana umumnya masyarakat pedesaan di Jawa, mata pencaharian penduduknya kebanyakan bersumber pada sektor pertanian yaitu petani pemilik, petani penggarap dan petani ladang atau petani kebun. Sedangkan mata pencaharian penduduk di sektor lainnya merupakan jenis mata pencaharian penduduk yang jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan jenis mata pencaharian penduduk di sektor pertanian. Mata pencaharian penduduk di sektor lain tersebut pada umumnya merupakan pekerjaan sampingan.

    Sektor mata pencaharian lain diluar sektor pertanian disebabkan karena adanya pengaruh dibukanya daerah Dieng sebagai daerah pariwisata, tepatnya pada tahun 1971 oleh Gubernur Jawa Tengah kala itu, Moenadi, seperti menjadi pedagang, pengelola losmen, pengelolal rumah makan, dan menjadi pengemudi ojek. Mereka yang menjadi pedagang biasanya bearasal dari daerah Karesidenan Kedu dan Surakarta, sedangkan penduduk asli daerah Dataran Tinggi Dieng biasanya hanya sebagai usaha sambilan saja. Adapun barang yang mereka perdagangkan biasanya merupakan hasil budidaya (komoditi) pertanian mereka seperti jamur Champignon adalah jamur yang merupakan kelompok Ascomicetes, jamur yang mereka jual itu sebenarnya adalah jamur "afkiran", kentang (Solanum Tuberasum) jenis Granolla, cabai dieng, carica (baca : karika), paprika, kubis (Brassica Oleracea), dan menjual tanaman souvenir dari hutan seperti palas payung (Licuala Grandis) yang termasuk jenis palem, bunga edelweis, tanaman perdu, paku rambut (Lycopodium Cernum), dan bambu kuning (B. Vulgaris Var. Striata).

    Sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW), Desa Dieng Wetan terdapat tiga penginapan resmi yaitu Hotel Bu Djono, Hotel Asri, dan Home Stay. Hotel tersebut bertaraf Melati 3. Sewa kamar di losmen dan hotel tersebut berkisar antara Rp.15.000,00 sampai dengan Rp.60.000,00.

Saat ini mata pencaharian terbesar adalah petani 870 orang. Mereka tersebut adalah orang yang terlibat di dalam berbagai kegiatan pertanian tanpa memperhatikan apakah orang yang bersangkutan itu sebagai keluarga atau sebagai anggota keluarga. Mereka yang dimaksud dengan buruh industri adalah orang yang bekerja pada perusahaan yang mengelola usaha budidaya jamur merang yang terbesar di Asia Tenggara yaitu PT Dieng Djaya, anak perusahaan PT Mantrust Jakarta. Sedangkan penduduk yang tidak bekerja (dikelompokkan pada kelompok lain-lain) adalah orang-orang yang sakit, orang tua, dan anak-anak yang masih sekolah serta mereka yang tidak mempunyai pekerjaan tetap setelah lulus dari sekolahnya.

 
Tabel 3.4 : Keadaan Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Pokok
Jenis Mata Pencaharian
Jumlah 
Bertani
Buruh Industri
Tukang Kayu dan Batu
Pedagang
Jasa Angkutan
PNS / ABRI
Pensiunan
Lain-lain 
870
96
29
47
44
27
7
776 
45,88
5,06
1,53
2,48
2,32
1,43
0,37
40,92 
Jumlah  
1896 
100,00 
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Wonosobo 2000.

 
Mata pencaharian terbanyak kedua setelah petani adalah pada sektor industri, yaitu sebanyak 96 orang (5,06 %). Tabel 3.4. menunjukkan keadaan penduduk berdasarkan mata pencaharian pokoknya.

Walaupun penduduk telah banyak lowongan pekerjaan lain, tetapi tidak meninggalkan kepetaniannya. Keengganan meninggalkan sektor pertanian ini didasari bahwa hasil dari ladang, yaitu kentang, kol, kubis, bawang putih, masih dianggap mendatangkan hasil yang cukup besar bagi para petaninya. Bahkan para pemuda melalui Karang Taruna saat ini sedang mengupayakan untuk merintis pembuatan manisan carica dengan sistem home industry. Dan dengan kesadaran sendiri, mereka mengupayakan penghijauan kembali hutan-hutan sekitar yang sempat dijarah oleh beberapa warga untuk dijadikan ladang yang sempat membuat Dieng Wetan banjir lumpur ketika musim hujan.

 

Agama dan Sistem Kepercayaan

Dalam aspek kehidupan beragama, seluruh penduduk Desa Dieng Wetan beragama Islam yaitu sebanyak 1896 orang (100 %), dengan berbasiskan pada organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) yang dapat disebut "revivalis pra-modernis" yang melakukan sikap anti bid'ah (praktek-praktek agama yang dianggap telah menyimpang dari ketentuan ajaran Islam murni dan menyebabkan masyarakat muslim terlena dalam tradisi), tetapi agak lebih toleran terhadap tradisi lokal dan yang sepanjang dibenarkan oleh "fiqh" (hukum Islam) dan Syari'ah (aturan Islam). Seperti diketahui, berbagai ajaran NU berupaya untuk melestarikan ajaran kaum ulama mubaligh Islam pendahulunya yang merupakan kaum ulama sufi. Dalam sufisme atau Islam – tassawuf yang dikembangkan oleh para wali memiliki "kemiripan" dengan konsep filsafat mistik orang Jawa, sehingga menjadikan tassawuf lebih mudah diterima.

Dalam hal ini, organisasi Muhammadiyah menentang ajaran "sufisme" NU atau Islam – tassawuf, yang dikembangkan oleh para wali, karena terlalu menekan individualisme dan mengabaikan masyarakat dengan meninggalkan kehidupan duniawi serta biang kemandegan intelektualisme Islam atau statis (jumudis) dan tidak memiliki etos pembaharuan. Sebagai organisasi yang mengembangkan etos pembaharuan atau semangat tajdid (pembaharuan, reformasi dan verifikasi), Muhammadiyah menentang tradisi "Islam kejawen" yang dianggap "bid'ah".

Berhubung masyarakat Desa Dieng secara implisit sebenarnya merupakan masyarakat "Islam kejawen" yang memiliki ciri khas sebagaimana Islam di Jawa, maka mereka lebih mudah menerima ajaran NU dibanding dengan ajaran Muhammadiyah yang berbau modernisme. Di Desa Dieng Wetan terdapat 2 mesjid dan 7 mushola, bahkan sekarang ini sedang dibangun mesjid raya, yang diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar 1 milyar rupiah, dan diperkirakan akan rampung sekitar tahun 2004.

Semua sarana peribadatan ini digunakan oleh warga masyarakat setempat untuk melakukan berbagai aktivitas peribadatan, seperti ibadah shalat berjama'ah pada waktu shalat (maghrib, isya, shubuh) serta ibadah shalat Jumat, dan berbagai ibadah lainnya, seperti pengajian, ceramah-ceramah keagamaan, upacara peringatan hari-hari besar besar agama Islam dan lain sebagainya.

Walaupun semua penduduk di Desa Dieng Wetan beragama Islam, tapi dalam prakteknya seringkali muncul unsur-unsur kepercayaan di luar agama Islam. Ini tampak secara umum bahwa banyak pula penduduk yang tidak menjalankan ajaran agama Islam seperti sholat maupun berpuasa di bulan Ramadhan. Unsur-unsur di luar agama Islam ini adalah peninggalan dari kepercayaan kejawen dan agama Hindu serta agama Budha yang telah mempengaruhi alam pemikiran mereka secara turun temurun, yang merupakan akar dari kehidupan keagamaan atau kepercayaan, seperti dalam hal hidup misalnya, mereka masih percaya bahwa kehidupan ini adalah bagian dari alam yang lebih luas lagi yang didalamnya terdapat kekuatan-kekuatan yang tidak nampak dan bisa mempengaruhi alam kehidupan mereka di dunia ini. Dengan adanya pemikiran demikian, banyak praktek-praktek religi yang dilakukan oleh penduduk merupakan peninggalan nenek moyang, seperti bertapa di gua-gua dan puncak gunung.

Masyarakat Desa Dieng Wetan juga masih mempercayai adanya Dewa-Dewa, atau penunggu dari suatu tempat. Dewa dan danyang itu dipercaya sebagai makhluk yang menjaga dan mengawasi seluruh wilayah dan masyarakat desa. Nama-nama dari danyang yang dipercayai oleh masyarakat Desa Dieng Wetan, diantaranya :
NO
NAMA 

TEMPAT KEDIAMAN

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11 
Begawan Sampurna Jati
Nini Dewi Kumala Sari
Begawan Kendali Seta
Bapa Cakra Kusuma
Bapa Jati Kusuma
Dewi Retna Ayu Rasa Wulan
Pangeran Permana Jati
Ki Lurah Renggo Bawono
Resi Kumara Seta
Mbah Citro
Kyai Kolodete 
Gua Semar
Gua Sumur
Gua Jaran
Siti Inggil
Siti Inggil
Danau Pengilon
Candi Arjuna
Candi Semar
Candi Bima
Pemakaman Penduduk
Gunung Kendil 

 

Akses Transportasi

Hubungan Desa Dieng Wetan dengan desa-desa tetangganya ditempuh melalui jalan-jalan yang telah diperkeras dengan aspal, jalan-jalan setapak hanya dipakai penduduk mempersingkat waktu tempuh. Jalan aspal ini menghubungkan Desa Dieng Wetan dengan jalan raya utama yang menghubungkan kota-kota di Jawa Tengah, seperti kota Wonosobo, Magelang, Banjarnegara, Parakan, dan Yogyakarta. Jalan ini umumnya dipakai oleh penduduk untuk bepergian ke pasar dengan jarak sekitar 9 kilometer, yang berada di Desa Kejajar yang sekaligus juga sebagai puasat kecamatan. Penduduk biasanya pergi ke pasar untuk berbelanja barang keperluan sehari-hari dan juga untuk membeli keperluan pertanian, seperti pupuk dan lainnya, sementara untuk menjual hasil pertanian mereka seperti kentang, kol, kubis, sawi, bawang putih, mereka biasa langsung menjualnya ke para pedagang besar yang biasanya mendatangi mereka pada saat menjelang panen, dan biasanya hasil panen tersebut langsung didistribusikan ke kota-kota besar seperti kota Bandung, dan Jakarta.

Untuk bepergian penduduk biasa menggunakan jasa angkutan bis umum atau kendaraan pribadi seperti mobil dan motor. Untuk keperluan yang mendesak, jasa ojek selalu siap mengantar ke tujuan. Kendaraan ojek ada sepanjang waktu, selain dipakai oleh penduduk, ojek juga menjadi sarana transportasi alternatif bagi para wisatawan yang ingin diantar menuju tempat-tempat wisata yang jarak dari satu tempat ke tempat lainnya itu cukup jauh. Di Desa Dieng Wetan ini para pengendara ojek ini terhimpun dalam kelompok persatuan tukang ojek yang dibentuk atas prakarsa Kepala Desa Dieng Wetan, dan khusus untuk kelompok tukang ojek desa Desa Dieng Wetan berpangkalan di pertigaan jalan masuk kelokasi wisata Dieng yang lewat jalur Wonosobo. Mereka beranggotakan 34 orang. Menurut informasi dari para tukang ojek, untuk menjadi tukang ojek sekarang dibatasi dengan membuat kartu anggota. Jika ada yang berminat menjadi tukang ojek, mereka harus membeli kartu anggota seharga Rp. 1.500.000,00 dari anggota pendahulunya. Hal ini mengingat, bahwa penghasilan tukang ojek rata-rata lebih dari Rp. 25.000,00 per hari. Para tukang ojek ini dikoordinir langsung oleh Kepala Desa Dieng Wetan yang telah memprakarsai berdirinya berdirinya perkumpulan tukang ojek. Mereka membuat SIM dan Kartu Anggota Ijin Trayek secara kolektif. Tetapi mereka tidak mau bergabung dengan SPSI, yang dianggap terlalu mengikat dan mengurangi kebebasan.

Kendaraan ojek, merupakan sarana angkutan penduduk untuk pergi ke pasar, serta untuk wisatawan baik domestik maupun asing, untuk pergi ke lokasi wisata yang tempatnya menyebar dan berjauhan. Mengingat medan lokasi wisata Dieng cukup berat, maka untuk mengantar penduduk maupun wisatawan, mereka mayoritas menggunakan kendaraan bermerk Honda GL PRO dan Yamaha RX KING. Mengenai tarif ojek untuk lokasi yang berdekatan Rp.1000,00 per lokasi dan tarif ojek untuk lokasi yang berjauhan seperti Kawah Candradimuka, Sumur Jalatunda, dan Telaga Merdada, tarif dapat berkisar Rp.2000,00 sampai dengan Rp.3000,00 per lokasi. Bagi wisatawan yang ingin menyewa kendaraan ojek per hari bertarif Rp.40.000,00 hingga Rp.50.000,00 atau Rp.5000,00 per jam.

Agar tertib dan tidak terjadi keributan di antara mereka dalam mencari penumpang, maka setiap pangkalan mempunyai aturan tata tertib sendiri. Hal tersebut tampak jelas pada pangkalan ojek di desa Dieng Wetan. Mereka terbagi menjadi dua giliran (shift). Shift pertama mulai pukul 06.00 – 13.00 WIB dan shift kedua mulai pukul 13.00 WIB sampai dengan malam hari. Adapun dalam membawa penumpang, mereka juga bergilir berdasar nomor urut (antrian) kedatangannya di tempat pangkalan. 

 

Organisasi Sosial

    Kelompok kekerabatan terkecil pada masyarakat Desa Dieng Wetan adalah keluarga batih yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang bersyfat monogami, sekalipun poligami tidak dilarang. Dalam satu rumah tangga pada umumnya hanya terdapat ayah, ibu dan anak-anak yang belum menikah. Ayah bertindak sebagai kepala keluarga yang bertugas tidak hanya memimpin keluarganya tetapi juga mencari nafkah, untuk menghidupi tanggungannya itu. Selain memelihara dan mengasuh anak-anak serta menyiapkan makanan untuk keluarga, seorang ibu juga mempunyai peranan ekonomi yang tidak kurang fungsinya daripada ayah. Ia membantu pekerjaan suaminya di ladang.

    Prinsip keturunan diperhitungkan secara bilateral yaitu memperhitungkan hubungan kekerabatan berdasarkan kedua belah pihak, pihak ayah maupun pihak ibu, karena dalam keluarga yang bilateral atau parental itu kaum kerabat pihak ayah dan pihak ibu dianggap sama pentingnya dan mempunyai hak serta kewajiban yang sama terhadap harta warisan anak-anaknya.

    Pokok-pokok adat parental secara umum adalah sebagai berikut :
  1. Perempuan yang kawin tetap menjadi anggota kerabatnya sendiri dan langsung menjadi anggota kerabat suaminya.
  2. Laki-laki yang kawin tetap menjadi anggota keluarganya sendiri dan langsung menjadi anggota keluarga pihak istrinya.
  3. Anak-anak yang lahir masuk ke dalam kerabat/keluarga bapak dan kerabat/keluarga ibu.
  4. Anak laki-laki maupun perempuan mendapatkan warisan dari orang tuanya, yaitu dari ibu dan bapaknya.
  5. Kedudukan keluarga pihak istri dan keluarga pihak bapak adalah sama dan dianggap sama pentingnya serta memiliki kedudukan hak dan kewajiban yang sama terhadap harta warisan, serta terhadap anak-anak.
  6. Harta baik yang diperoleh suami maupun istri sebelum menikah dan sesudah menikah dianggap sebagai harta bersama. Pada suku bangsa Jawa hal ini disebut harta gono-gini.
  7. Adat menetap setelah menikah pada suku-suku bangsa yang parental lebih bersifat longgar, bisa matrilokal yaitu bertempat tinggal setelah menikah pada pihak keluarga perempuan, patrilokal yaitu tinggal setelah menikah pada pihak keluarga laki-laki, atau neolokal yaitu bertempat tinggal terpisah dari keluarga istri dan pihak keluarga suami, apabila pasangan yang baru menikah itu telah memiliki rumah sendiri.

 
Dalam sistem kekerabatan parental atau bilateral ini, seorang ego dapat mengetahui posisinya setelah dia memahami posisi di dalam sistem kekerabatannya tersebut. Ini artinya ego dapat menemukan sebutan kekerabatan yang tepat setelah menggabungkan penggolongan vertikal menurut senioritas, dan juga penggolongan horizontal menurut generasinya. Dalam keluarga bilateral/parental ini biasanya ayah bertindak sebagai kepala keluarga dan kedudukannya diwarisi oleh anaknya yang laki-laki.

    Pada masyarakat Desa Dieng wetan selain bentuk-bentuk keluarga batih tersebut, ada pula suatu bentuk keluarga luas, yakni suatu pengelompokkan dari dua-tiga keluarga atau lebih dalam satu tempat tinggal.

 

Ciri-ciri Budaya Masyarakat Dieng

Orang Jawa dibedakan menjadi kelompok-kelompok etnis lain di Indonesia yang dikarenakan oleh latar belakang yang berbeda, seperti bahasa dan kebudayaan.

    Menurut Franz Magnis – Suseno (1984 : 11 – 12), Wilayah kebudayaan Jawa dibedakan antara penduduk pesisir utara dimana hubungan perdagangan, pekerjaan nelayan, dan pengaruh Islam lebih kuat menghasilkan bentuk kebudayaan Jawa yang khas, yaitu kebudayaan pesisir dan daerah-daerah Jawa pedalaman, sering juga disebut kejawen, yang mempunyai pusat budaya dalam kota-kota kerajaan Surakarta dan Yogyakarta, dan di samping dua karesiden ini juga termasuk keresiden Banyumas, Kedu, Madiun, dan Malang.   

    Kemudian, Mulder (1985 : 16) juga berpendapat bahwa kebudayaan Jawa secara umum sering disebut orang sebagai Jawanisme atau lebih dikenal lagi sebagai kejawen atau kejawaan. Sebagai suatu sistem Jawanisme atau kejawen tersebut adalah kelengkapan diri setiap individu Jawa, karena di dalamnya berisikan kosmologi, mitologi, perangkat konsepsi mistik yang secara keseluruhan menimbulkan antropologi Jawa sendiri, yaitu sistem gagasan atau sistem tata nilai budaya yang menerangkan tentang etika, tradisi, dan gaya hidup Jawa.
    
Apabila kita ingin memahami masyarakat Jawa, khususnya secara spiritual, maka kita harus memahami bahwa masyarakat Indonesia khususnya di Pulau Jawa menggunakan pola dasar tiga prinsip dalam kehidupan sehari-harinya.
   
Prinsip tiga ini tercermin pada mitos : yakni kepercayaan yang menegaskan bahwa dunia itu ada dua yaitu Dunia Kecil (mikro kosmos) dan Dunia Besar (makro kosmos) yang kedua dunia ini sama-sama terdiri dari Bumi, Api, Air, dan Udara.
Mikro kosmos atau tubuh manusia juga dibagi tiga lagi :
  1. Raga, cipta, rasa, dan karsa.
  2. Raga, guru loka ; indra loka ; jana loka.
  3. Raga, teja maya ; ismaya ; manik maya.
Pola dasar kedua yang ada pada kebudayaan masyarakat Jawa, adalah prinsip simbol. Prinsip simbol ini lahir sebagai akibat adanya suatu pilihan dalam sosial budaya. Misalnya dalam strata (tingkatan) tiga : Cipta – Rasa – Karsa. Orang Jawa memilih rasa, yang menjadi dominan. Sementara Cipta dan Karsa ditempatkan pada posisi yang kurang dominan. Pada tata kehidupan lebih lanjut, orang Jawa menegaskan : bahwa hanya orang yang waspada, bijaksana, dan waskita sajalah yang mampu titen dan mampu menterjemahkan "simbol" apa artinya waspada. Waspada, adalah orang yang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, baik lahir maupun batin selalu berada pada posisi "wungu" atau "bangun". Sehingga mereka mampu dan tanggap terhadap segala getaran, baik getaran dari dirinya sendiri atau lingkungan yang mempengaruhi hidup mereka.
    
Bijaksana memiliki pengertian pandai membedakan yang baik dan buruk, pandai berpikir atau pikirannya tajam. Jadi, bijaksana dapat diartikan pula berbudi luhur, tinggi dan halus budinya. Bahasa Jawanya, bisa nganggo budine kalawan bener.
    
Waskita artinya mengetahui tentang sesuatu, bahasa Jawanya, bisa weruh marang perkara kang samar, padang sakjroning peteng, bisa mbukak aling-aling warana kijab. Bisa mengetahui bisikan hati orang lain.
    
Masyarakat Dieng yang sebagian besar merupakan masyarakat agraris, meminjam istilah dari Suseno (1964) dibedakan menjadi dua golongan sosial (1) wong cilik (orang kecil) terdiri dari petani dan (2) kaum priyayi dimana termasuk pegawai dan orang-orang intelektual. Di samping Lapisan sosial-ekonomi ini, masih dibedakan kelompok atas dasar keagamaan. Kedua-duanya secara nominal termasuk agama Islam, tetapi golongan pertama dalam kesadaran dan cara hidupnya lebih ditentukan oleh tradisi-tradisi Jawa pra – Islam, sedangkan golongan kedua memahami diri sebagai orang Islam dan berusaha untuk hidup menurut ajaran Islam. Pertama kita sebut "Jawa Kejawen" dan kedua disebut "Santri".
    
Jika kita tinjau secara umum masyarakat Dieng masih banyak menganut tradisi Jawa pra – Islam (Jawa Kejawen) terutama mereka yang bertempat tinggal agak jauh dari balai desa Dieng Wetan dan terminal yang merupakan daerah pusat perekonomian. Meskipun mereka mengetahui Islam sebagai agama kepercayaannya, kaum "kejawen" tersebut mengusahakan kesempurnaan hidup melalui praktek-praktek askestis, meditasi dan mistik. Cita-cita astetis dan religius zaman Hindu Jawa masih hidup diantara mereka. Pada umumnya mereka merupakan buruh tani, pedagang sambilan (penjual jagung, bunga eidelweis, sayuran, jamur dan lain-lain).
    
Kaum "santri" yang berdomisili di pusat desa atau berdekatan dengan balai desa adalah merupakan petani kaya atau tuan tanah yang cukup kaya. Maka dalam pandangan Jawa, kaum "santri" berkedudukan tinggi daripada kaum "wong cilik", tetapi lebih rendah daripada kaum "priyayi". Namun kini anak keturunan kaum "santri" banyak yang mengecap pendidikan tinggi, sehingga terjadi pula dinamika perubahan sosial dari kaum "santri" menuju kaum "priyayi". Anak mereka tersebut, begitu selesai dari pendidikannya, kebanyakan bekerja sebagai pegawai negeri (Dinas Pariwisata) dan karyawan Perusahaan swasta yang ada di Dataran Tinggi Dieng.

Adapun untuk wilayah Desa Dieng Wetan, masyarakatnya menganut aliran keagamaan organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) yang dapat disebut "revivalis pra-modernis" yang melakukan sikap anti bid'ah (praktek-praktek agama yang dianggap telah menyimpang dari ketentuan ajaran Islam murni dan menyebabkan masyarakat muslim terlena dalam tradisi), tetapi agak lebih toleran terhadap tradisi lokal dan yang sepanjang dibenarkan oleh "fiqh" (hukum Islam) dan Syari'ah (aturan Islam). Seperti kita ketahui, berbagai ajaran NU berupaya untuk melestarikan ajaran kaum ulama mubaligh Islam pendahulunya yang merupakan kaum ulama sufi. Dalam sufisme atau Islam – tassawuf yang dikembangkan oleh para wali memiliki "kemiripan" dengan konsep filsafat mistik orang Jawa, sehingga menjadikan tassawuf lebih mudah diterima.
    
Jauh sebelum orang-orang Jawa mengenal ajaran-ajaran tasawuf yang dikembangkan oleh para ulama mubaligh Islam, mereka telah akrab dengan kebudayaan mereka sendiri yang khas dengan animisme dan dinamismenya di kalangan rakyat, serta Hinduisme – Budhisme di kalngan elit istana. Kebudayaan ini memiliki ciri khas yang halus, adi luhung dan sangat terbuka. Sifat khas yang seperti ini memungkinkan unsur-unsur luar tidak begitu kesulitan untuk masuk kedalamnya, melalui sinkretisasi atau akulturasi. Dengan cara inilah Islam berproses menjadi agamanya (sebagian) orang-orang Jawa yang pada awalnya dikembangkan oleh para wali.
    
Dengan cara perkembangan seperti ini, Islam di Jawa memiliki pula ciri khasnya. Banyak upacara-upacara dan kegiatan ritualistik yang sebenarnya merupakan produk animisme – dinamisme – Hinduisme – Budhisme di pertahankan dan hanya dibingkai dengn nilai-nilai Islam. Seperti dengan pemberian do'a secara Islam dalam tradisi kenduri, upacara ruwatan dan lain-lain. Dalam hal ini, organisasi Muhammadiyah menentang ajaran "sufisme" NU atau Islam – tassawuf, yang dikembangkan oleh para wali, karena terlalu menekan individualisme dan mengabaikan masyarakat dengan meninggalkan kehidupan duniawi serta biang kemandegan intelektualisme Islam atau statis (jumudis) dan tidak memiliki etos pembaharuan. Sebagai organisasi yang mengembangkan etos pembaharuan atau semangat tajdid (pembaharuan, reformasi dan verifikasi), Muhammadiyah menentang tradisi "Islam kejawen" yang dianggap "bid'ah".

Popular Posts