Wednesday, March 2, 2011

Pacao Jara Sumbawa

tulisan oleh Hanindita | foto oleh Yudi


Jangan bayangkan stadion pacuan kuda yang mewah dan pengamanan lengkap pada joki. Di sini pagar pemisah penonton dan lintasan hanya terbuat dari bambu sederhana. Riuh suara penonton meneriaki nama kuda jagoan mereka, beradu dengan derap kaki kuda, dan suara panitia dari pengeras suara. Podium penonton pun terbuat dari kayu. Joki kuda berumur kurang dari 11 tahun, dan yang paling mencengangkan kuda ditunggangi tanpa pelana. Rasakan adrenalin mengalir selama menyaksikan pacoa jara (pacuan kuda) tradisional Sumbawa. Selamat datang di Stadion Lembah Kara Dompu.


Ketika saya mengunjunjungi stadion ini (5 Oktober 2010) sedang berlangsung semi final pacoa jara untuk memperingati HUT TNI. Di Dompu Pacoa jara diadakan empat kali dalam setahun, yaitu pada HUT Bhayangkari ((polisi)), Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, HUT TNI dan Hari Ulang Tahun Dompu. Setiap kejuaraan diadakan oleh Pemerintah Daerah Dompu, bekerja sama dengan Porbasi. Selain di Dompu, pacoa jara juga mengambil tempat di Bima, Sumbawa dan Lombok. Setiap perlombaan dihadiri oleh kuda kuda terbaik dari seluruh Sumbawa dan Lombok. Kali ini kejuaraan berlangsung sepuluh hari dari 27 September 2010. Peserta mencapai 700 tim, terbagi dalam 18 seri berdasarkan usia dan tinggi kuda. Dengan uang pendaftaran Rp. 200.000 mereka memperebutkan sapi untuk setiap juara seri dan tentu saja kebanggaan.

Joki cilik mulai berlatih sejak usia empat tahun dan ketika berumur sekitar tujuh tahun sudah pensiun. Joki tidak memiliki kuda tunggangan sendiri, mereka dibayar sekitar Rp. 35.000 sampai Rp. 50.000 oleh pemilik kuda untuk satu kali putaran dan tentu bonus jika menang. Dengan pengamanan yang minim, resiko yang ditanggung joki tidak sedikit. Banyak joki yang terjatuh dari kuda sampai patah tangan atau kaki, tapi kebanyakan hanya lecet. Diobati secara tradisional dan sudah bisa kembali berlaga keesokan harinya. Saya sempat berbincang sejenak dengan mantan joki bernama Yono berusia sepuluh tahun. Dia mengatakan pernah memenangkan sepeda motor, tapi belum bisa mengendarainya.

Sayangnya, ketika saya bertanya kepada Bapak Afit, (si pemilik kuda), apa ada joki cilik yang ketika dewasa direkrut oleh Porbasi untuk menjadi atlet profesional, beliau menjawab "Belum ada". Sungguh disayangkan, karena potensi yang dimiliki joki-joki cilik di Sumbawa sangat besar. Saya juga bertanya apakah joki cilik ini bersekolah. Beliau menjawab, jika sedang kejuaraan seperti ini, mereka membolos.
Pacoa jara dengan joki cilik telah menjadi hiburan rakyat, tradisi dan daya tarik pariwisata di Sumbawa.