Saat-saat terakhir Timor Lorosae 1999 (Epilog)


Joan berlagak sebagai pejuang yang berhasil menangkap musuh-musuhnya

Sore itu kami sedang istirahat di pelataran penginapan yg masih menghempuskan angin panas. Tadi siang Jajak Pendapat Timor-timur baru saja selesai. Nasib Timor Timur akan ditentukan dari hasil jajak pendapat tersebut. Apakah akan tetap menjadi bagian Indonesia atau merdeka dan berdiri sendiri.

Suasana makin panas. Terdengar kabar Eurico Gutteres dan pasukan Pro Otonomi-nya akan memblokir Timtim sampai hasil Jajak Pendapat keluar. Tidak seorang pun boleh keluar. 
Kami dalam ancaman terjebak di negeri yang seperti sedang bersiap perang saudara secara terbuka. Apa pun hasil Jajak Pendapat potensi perang sangat tinggi. 



Sambil menghisap sebatang rokok, aku duduk di teras penginapan ditemani Joan da Silva.
"Joan, malam ini mungkin kami akan kabur dari Dilli. Kondisi semakin tidak aman."
"iya, om...kampung sebelah sudah habis sama orang BMP (Milisi Besi Merah Putih). tapi sebentar malam saya akan antar om ke pelabuhan"

Malam, pukul 12.16 WIT, dua truk berisi pasukan Brimob datang ke penginapan kami. Truk itu parkir persis di depan rumah Joan. Suasanya mirip seperti truk pasukan PKI yang datang ke rumah DI Panjaitan. Kami dievakuasi saat itu juga. Kami dinaikan ke atas truk dan dipagari oleh para Brimob. saat naik truk aku masih berharap Joan keluar dari rumahnya dan mengejar truk yg membawaku sambil tangannya menggapai-gapai dan teriakan histeris dari dia. Dramatis sekali rasanya.

Ketika truk sudah mulai merambat pelan-pelan menuju pelabuhan, aku masih melihat ke belakang. masih berharap tiba2 Joan muncul dengan sepeda nya mengejar truk yg membawa kami. Sesampainya di pelabuhan, aku masih belum melihat Joan datang mengantar. "ah, kau ingkar janji joan !!"

Peluru berdesingan menyambut kami di dermaga. konsentrasi ku terbagi dua, antara memperhatikan peluru yg suka lewat seenaknya dan mencari sosok Joan yg masih kunanti utk mengantar ku ke pelabuhan.
tapi saat itu bukan saat utk bersentimentil, ketika peluru sempat istirahat, aku segera berlari naik ke KM Dobonsolo. Ketika berada di tangga kapal, seseoran tepat di belakangku pipinya terserempet peluru yang ditembakkan entah darimana.

Di atas kapal, sambil menunggu kapal mengangkat jangkar, aku masih berdiri di dek 5. Dalam hati dengan hati yang sedih, aku hanya bisa berbisik lirih, "Joan, aku pamit dulu...semoga kau selamat dek..."

di Benoa Bali, aku sempat lihat berita di tipi...di Dilli, kerusuhan terjadi dimana2, suasana menjadi sangat chaos. dan sekelebat mataku sempat melihat, rumah joan yg terletak di Vila Verde, sudah hangus terpanggang...
dalam hati aku hanya sempat berucap, "Joan, semoga kamu selamat dek...."


Popular Posts