Pada bulan Mei 2007, saya berkesempatan eksplorasi kepualauan Natuna,
khususnya di kawasan Anambas. Lebih kurang sebulan keliling kawasan
yang termasuk daerah perbatasan ini sangat banyak hal baru yg di temui.
Alam yang masih asri, penduduk yang bersahaja, kebudayaan yang unik,
menghasilkan suatu pengalaman yang menakjubkan selama di Anambas ini
Sejak Desember 2008, Kawasan Anambas menjadi kabupaten tersendiri.
![]() |
Pantai Kusik di Pulau Jemaja |
Hari 1 : Jelajah dimulai
Selat Lampa - Bunguran - Natuna, 13 Mei 07.
Hari ini saya bersama tim berangkat menuju gugusan Anambas. Rencananya
naik KM Lawit (lagi). Dari info terakhir, KM Lawit masuk jam 8 pagi.
Sejak subuh kami sudah bersiap-siap. Jam 7 pagi kami sudah sampai di
Pelabuhan Selat Lampa. Saya, Vijay, Eman, dan 2 orang dari Pemda Natuna, Bang
Epi dan Eli . Tapi ketika di cek di Pelabuhan, ternyata KM Lawit baru masuk
jam 11 sedangkan KM Bukit Raya yang kabarnya masuk jam 11 malah sudah
datang jam 8 pagi. Terpaksalah kami menunggu 3 jam.
Sekitar pukul 11.00 WIB, KM Lawit berangkat menuju Tarempa, Letung
dan terakhir di Pelabuhan Kijang, Tanjung Pinang. Kami akan turun di
Letung. Awalnya kami sempat was-was, karena bang Epi beli tiket untuk
kelas ekonomi. Bukan karena kami gak mau susah, tapi barang-barang yang
kami bawa bernilai puluhan juta rupiah. Kebayang kalo kami di kelas
ekonomi, terpaksalah harus ada 1-2 orang yang selalu menunggu tempat
kami. Itu pun bukan jaminan. Ternyata oh ternyata…bang Epi sudah punya
rencana sendiri. Sampai di atas kapal, tiket kami ditukar dengan tiket
kelas 2. Awalnya hampir saja kami dikasih kamar Perwira, tapi berhubung
kamar tersebut sedang diisi oleh perwira kelas tinggi, kepaksa kami
pindah ke kelas 2. Gak apalah..yang penting ada kamar untuk menyimpan
barang.
Perjalanan di kapal, seperti biasanya…selalu membosankan. Rutinitas
hanya merokok, minum kopi, duduk di cafe, dan tidur. Kadang untuk
melepas kesuntukan kami hunting cewek cakep. Tapi dasar gak rejeki. Gak
ada cewek cakep yang bisa ditemui di kapal ini. Kalau pun itu ada, sudah
bini orang pula.
Sekitar pukul 22.05 WIB, kapal sampai di pelabuhan Tarempa. Tarempa
ini merupakan rute kami setelah dari Letung nanti. Terletak di P.
Siantan, Tarempa merupakan daerah pusat ekonomi di gugusan Anambas. Kota
nya lebih ramai dibaning kota-kota kecamatan lainnya di Anambas.
Nantilah cerita banyak kalo udah masuk Tarempa. Soalnya belum ada yang
bisa diceritakan sekarang. Data-data masih kurang banget bana ko
ha…hehehe…
Pukul 23.00 WIB kapal bergerak menuju Letung, jarak Letung – Tarempa
lebih kurang 70 Km dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam. Jadi kemungkinan
kami sampai di Letung sekitar pukul 2 malam. Oh, ya..di Letung ini kami
mendarat tidak langsung ke daratan. Karena kapal tidak merapat di
Pelabuhan. Ada kapal Pompong yang menjemput ke tengah. Turun dari kapal
kami pindah ke pompong, lalu diantar ke darat. Kata bang Epi tadi, kami
mungkin tidur di Pelabuhan dulu atau kalau mujur, bisa nginap di Mess
Pemda. Whatever lah bang…yang penting aman…
Jam 1 malam kami sampai di perairan Letung. Dengan kapal pongpong
kami mendarat di Letung. Ngopi-ngopi bentar di warung, lalu kami
langsung ke Mess Pemda. Ternyata yang namanya Mess Pemda ini tempatnya
lumayan enak. Kamarnya besar-besar, lantainya porselin. Tapi perabotan
masih minim. Kata Bang Epi, Mess ini memang baru selesai dibangun.
Hari 2 : Selamat Datang di Letung
Letung, 14 Mei 2007
Sehabis shalat subuh, saya dan Vijay hunting ke Pasar Pagi Letung.
Yang namanya Pasar disini jangan dibayangkan seperti pasar-pasar di
Jawa. Pasar Pagi Letung yang terletak di dekat Pelabuhan, berjarak
sekitar 200 meter, hanya suatu bangunan berbentuk panggung berukuran
lebih kurang 6×10 meter sebanyak tiga buah. Satu buah untuk pasar Sayur,
satu untuk pasar ikan, dan satu lagi untuk pasar umum. Semua bangunan
pasar tersebut dibangun diatas perairan. Pedagang yang ada pun jumlah
nya tidak sampai ratusan. Mungkin hanya sekitar puluhan saja. Pasar ini
dimulai pada pukul 5 pagi dan selesai pada pukul 10 pagi. Selepas itu
pasar akan terlihat kosong. Bahkan orang-orang pun jarang terlihat di
sekitar pasar. Sebagian pergi melaut dan sebagian lainnya bertani.
Suasana di sini memang terlihat sangat tenang. Kehidupan terasa sangat nyaman. Bahkan nyaris tanpa kriminalitas. Suasana tenang
dan bersahaja sangat terasa. Masyarakatnya walaupun pemalu tapi ramah
dan hangat. Lokasi pemukimannya pun tidak terlalu luas. Tata ruangnya
cukup bagus. Area pemukiman dengan area ekonomi tertata dengan rapih. Dan kedua area tersebut
dipertemukan oleh suatu lapangan besar yang mungkin menjadi semacam
pusat keramaian di sini. Sisi lapangan ada toko-toko atau mungkin
tepatnya kedai-kedai kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari.
Siangnya kami ke kantor camat. Biasalah urusan birokrat dulu. Abis
itu kami langsung diajak ke Pantai Padang Melang. Jalan menuju kesana
masih jalan kecil yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor atau orang
sini menyebutnya honda. Perjalanan sekitar 10 menit melewati
hutan bakau dan rumah-rumah penduduk. Pantai Padang Melang ini ternyata
adalah pantai yang bagus banget bana! Baru kali ini saya terkesan dan
cinta dengan suasana pantai
Letung, 15 Mei 2007
Hari ini kami ke Jemaja Timur, kecamatan hasil pemekaran tahun 2006.
Seperti biasa, kami lapor dulu ke kantor camat. Di kantor camat kami
juga melakukan wawancara sama SekCam-nya. Perjalanan ke Jemaja Timur ini
melewati jalan aspal beton. Tapi berhubung masih masih kecamatan baru,
kantor camatnya pun masih sementara.
Setelah dari kantor camat kami jalan. Awalnya saya ndak tau mau dibawa
kemana kami sama bang Fachri (orang kantor camat Jemaja) dan bang Epi.
Ternyata setelah melewati hutan bakau, perkampungan, kami akhirnya
sampai di Air Terjun Neraja .
Alamak…air terjun ini indah nian. Seperti kolam mandi untuk para
bidadari. Mungkin Tuhan sengaja menciptakan air terjun Neraja ini untuk
kolam mandi para bidadari dari surga. Airnya yang jernih, mengalir
melewati bebatuan yang bertingkat-tingkat dan mengenang di dua buah
kolam yang luasnya tidak terlalu besar. Suasana nya yang tenang dan asri
bikin nyaman untuk berlama-lama di sini. Jangan-jangan dulu Jaka Tarub
mencuri selendang bidadari di kolam ini…
Mengingat waktu yang terbatas, kami tidak bisa berlama-lama di sini.
Sekitar 2 jam kemudian kami berangkat menuju Kuala Maras, suatu
pelabuhan tradisional yang mempunyai sejarah cukup dalam. Konon dahulu
kala, Kuala Maras ini adalah pelabuhan para Datuk Kaya dari Malaka dan
tempat masuknya Portugis di Pulau Jemaja. Terbukti ada ditemukan
meriam-meriam peninggalan Portugis yang sekarang diletakan di depan
Mesjid Al-Munawarah (1936) di Ulu Maras, kampung yang bersebelahan
dengan Kuala Maras. Memasuki pelabuhan Kuala Maras, suasana kampung
nelayan sangat terasa. Rumah-rumah penduduk berbentuk panggung yang
didirikan diatas air. Dan berjejer sepanjang jalan sampai ke dermaga
pelabuhan. di sini kami makan siang dulu. Tapi karena cuaca keburu
mendung dan rinai sudah turun, abis makan kami segera berangkat.
Terlebih lagi jam sudah menunjukan pukul 3 sore. Padahal kami belum ke
Ulu Maras dan abis Maghrib ada janji dengan pak Andrim, Ketua LAM (Lembaga Adat Melayu) untuk
menampilkan kesenian Gubang.
Di Ulu Maras hanya mampir ke Mesjid Al Munawarah sambil berteduh. Di
mesjid inilah terdapat 5 buah meriam peninggalan Portugis. 4 buah
berukuran besar dan 1 buah berukuran kecil. Tidak lama di sini, mungkin
hanya 2 batang rokok, kami lalu berangkat pulang ke Letung. Hujan masih
turun, tapi hanya rinai saja. Tapi kalo ndak ditempuh, bisa-bisa kami
kemalaman di jalan. Untung tas kamera ada bag-cover nya dan kami ada
bawa raincoat.
Letung, 16 Mei 2007
Hari ini hari Rabu, tapi bukan hari Rabu seperti biasanya, Rabu ini
kami di Letung, Pulau Jemaja. Suatu pulau yang entah disengaja atau
tidak oleh Tuhan, dianugerahi alam yang indah, rancak, pantai-pantai nya
bikin orang betah berlama-lama. Tenang, sunyi, alami, masyarakatnya
yang hangat dan masih kuat kekeluargaannya. Jujur aja, hatiku tertambat
di sini. Apalagi setelah saya melihat bagaimana indahnya pantai Kusik.
Ini pantai seperti diciptakan oleh Tuhan di kala hatinya sedang
berbunga-bunga. Pantai yang landa, airnya yang jernih berwarna
hijau, seakan memanggil untuk segera mencumbui kesejukannya. Kalo tidak
ingat waktu terbatas, mungkin saya sudah terjun ke airnya yang jernih
itu.
Di tepi pantai tumbuh pohon kelapa yang air kelapa muda nya seakan
sengaja disediakan bagi siapa saja yang haus. Belum lagi penduduknya
yang ramah hangat. Lokasi pantai Kusik ini terletak di sebelah utara
Letung. Untuk mencapainya hanya bisa dengan honda selama lebih kurang 30
menit melalui jalan kecil menyusuri pantai dan melewati bukit-bukit.
Lalu perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati pinggang
bukit selama lebih kurang 20 menit. Dari ketinggian sudah terlihat
pantai yang berwarna hijau itu seakan menggoda saya untuk segera
menghampirinya.
Sesampai di bibir pantai, saya sempat terdiam sesaat. Berkali-kali mulutku tak terasa mengucapkan puja-puji kepada Allah sang pencipta. Pantai Kusik itu Indah, kawan! walau panjang garis pantainya tidak terlalu panjang dan
dikurung oleh pulau-pulau yang jaraknya mungkin hanya beberapa
kilometer. Tapi disinilah letak keindahannya. Tidak ada ombak besar,
airnya tenang dan bening. Menghadap ke utara, sunset bisa diliat dari
sebelah kirinya. Dan di pantai senyum ramah penduduk sudah menyambut
kami.
Hanya sempat terdiam sesaat, rasa penat dan lelahku setelah
perjalanan sekitar 45 menit hilang musnah. Tidak sabar saya segera jepret
sana sini. Sorot sana sini. Seakan saya kehilangan setiap jengkal
pantai ini. Saking semangatnya, saya sampai lupa cek settingan kamera.
Rupanya setelah selesai jepret sana sini, gue baru sadar, kalo kamera ku
di setting pada ISO 400! Mampus dah…grainy abis….Goblok!!! hanya makian
dan rasa sesal bertubi-tubi menghantam dada ini.
Rasa sesal ini sedikit terobati oleh (lagi-lagi) keramahan
penduduknya. Kami diajak minum air kelapa dicampur sirup dan teh manis
panas di rumah pak Pitar. Pak Pitar ini berasal dari Indragiri Hulu.
Masih urang awak lah, katanya. Dia lancar berbahasa Minang. Seakan
bertemu kamanakan, dia banyak bercerita dan memberi nasihat kepada gue.
Hehehe….Eman hanya bisa mengangguk balam saja. Bingung dia, ni orang
cakap apa…bahkan Anis, tokoh Pemuda Letung yang mengantar kami, sempat
protes ke Pak Pitar waktu beliau mengutip perkataan HAMKA,
"berpikirlah
seperti orang Batak, bicara seperti orang Minang dan kerja seperti orang
Jawa"
Kenapa Melayu ndak disebut pak?? Protes Anis. Tapi untunglah ndak disebut pak,
kalo sampai disebut mungkin bunyinya, bersantailah seperti orang
Melayu…
Hahaha….ini kau yang bilang ya nis…
Pulangnya kami dikasih oleh-oleh Limau Gadang, atau kalo di Jawa orang menyebutnya Jeruk Bali. Makasih pak Pitar, makasih Kusik…
Tidak sadar waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Padahal kami ada
janji dengan pak Andrim untuk shooting kesenian Gubang di rumahnya. Dan
sesampai di Letung kami ternyata memang sudah ditunggu-tunggu. Hanya
sempat minum segelas air dan sebatang rokok sambil menunggu transfer isi
CF ke Laptop. Baru kali ini selama di Natuna, CF ku langsung penuh
hanya di satu lokasi. Benar-benar gue puasin motret di Kusik.
Dengan badan masih basah oleh keringat, kamera segera gue siapin. CF
gue masukin lagi ke kamera, batrai camcorder dan kaset miniDV gue ganti
dengan yang baru (dan baru kali ini juga batrai camcorder langsung habis
di satu lokasi). Gue mungkin seperti orang kesurupan di Kusik tadi.
Setelah tanya sana sini, akhirnya gue dan Eman sampai di rumah pak
Andrim. Tadinya Cak Pau mau antar kami. Dasar Cak Pau, waktu mau
berangkat dia dengan santainya bilang…depan mesjid tu, belok ke kiri,
lurus…beko basue rumah pak Andrim.
Ternyata di rumah Pak Andrim telah berkumpul para pemain Gubang, pak
Andrim, bang Epi, dan Vijay. Hanya sempat salaman sebentar, kamera
langsung gue siapkan. Mereka ternyata sudah menunggu sejak jam
3, sedangkan gue dan Eman baru datang jam ½ 5 sore. Ya maap pak…bukan
kami tidak menghargai bapak-bapak…tapi kami kesurupan di Kusik!!
Hehehe….
Setelah shooting dan motret Gubang, segera kami tancap gas ke Mess
untuk siap-siap berangkat ke Tarempa. Waktu sudah menunjukan pukul 6
sore. Kapal Lawit masuk jam 8 malam. Hanya ada waktu 2 jam untuk
bersiap-siap. Seperti dikejar hantu, kami buru-buru berkemas. Untung ada
Cak Pau yang gesit. Tapi untunglah gue sempat ngerokok dan mandi dulu.
Jam 7 malam kami sudah duduk di warung dekat dermaga. Dan jam 8-an,
kapal Lawit akhirnya datang. Kami harus segera meninggalkan pulau
Jemaja. Intan yang terpendam di dalam tanah.
Sampai jumpa Letung, sampai jumpa Jemaja, sampai jumpa Cak Pau, Bang
Fachri, Anis, Indra….mudah-mudahan Tuhan kasih gue rejeki untuk bisa
kembali ke sini.
Jemaja, I’m Falling in Love in You….
Tarempa, 17 Mei 2007
Jam 1 malam kami sampai di Tarempa, kota pelabuhan di pulau Siantan.
Baru terasa rada kota di sini. Ruko-ruko 2 lantai berjejer sepanjang
jalan Hang Tuah, jalan yang posisinya persisi sejajar dengan dermaga.
Jadi begitu keluar dari Pelabuhan, kita akan langsung menemui Jalan Hang
Tuah. Kami makan malam dulu di sini. Makan nasi Goreng dan Kopi Tarik.
Waktu baca menu, sempat bingung juga..apa ni Kopi Tarik?? Ternyata Kopi
tarik tu rasanya gak jauh beda dengan kopi susu. Hanya bedanya di proses
pembuatan, kopi tarik menggunakan dua cangkir gede dan air kopi
dipindahkan2 antar dua cangkir tersebut dengan menarik salah satu
cangkir .
Pagi nya gue, Vijay, Eman, dan Elly pergi sarapan ke pasar Tarempa.
di Tarempa ini banyak terdapat warung kopi. Rata2 yang punya orang Cina.
Namun Cina di sini udah berbaur ama masyarakat. Nah, kami memilih
sarapan di salah satu warung kopi yang menghadap ke laut. Dari sini kami
ngeliat ada sekitar belasan kapal2 nelayan yang berukuran besar. Tapi
gak tau itu kapal nelayan darimana.
Abis sarapan kami jalan2 dulu di sekitar pasar Tarempa ini. Ternyata
pasarnya jauh lebih ramai dari pada pasar Ranai yang sebenarnya adalah
ibukota kabupaten. Fasilitas2 lainnya jauh lebih lengkap daripada di
Ranai. Lelah jalan2, kami pulang menuju rumah sodara bang Epi, tempat
kami nginap di Tarempa, sekaligus jadi base camp selama di daerah
Siantan. Di perjalanan pulang, ketika melewati pos jaga TNI AL, di
seberang pos itu gue liat angle yang menarik untuk motret kapal2 nelayan
yang tadi sempat gue potret juga sewaktu sarapan tadi. Baru beberapa
langkah berjalan mencari posisi yang pas utk motret, gue dikejar sama
penjaga Pos TNI AL tadi.
Mas!! Mas!! Mau kemana?? Sempat terjadi
ketegangan karena si penjaga langsung ngebentak2.
“Sabar pak…jangan marah2 dulu…baek2 aja ngomong nya. Saya gak tau
kalo di sini gak boleh motret. Lagian saya kan belum sempat motret”,
balasku
“Gue tidak marah!!”, jawab si penjaga dengan suara yang makin keras.
“Sekarang kita ke pos dulu!”
“Lho? Ngapain pak?? Saya kan belum ngapa2in”
“Ada apa ini??”, tiba2 datang seorang AL lagi. Sejenak penjaga yang tadi berbisik2 dengan temannya itu.
“Disini gak moleh motret mas!”, temannya ikut ngebentak
“Kenapa pak?”
“Itu kapal sitaan, kapal Thailand dan Vietnam”, jawab dia polos
..hehehe…makasih atas informasinya pak
“Ok pak..jadi yg boleh dipotret yg mana ??”
“Pokoknya jangan yg disini!”, jawab si penjaga tadi sengit
“Ya, udah makasih pak…”, jawabku sambil balik badan dan senyum sendiri
Hehehe….emang kapal2 tersebut Cuma bisa dipotret di depan pos jaga aja. Tapi thanks banget atas informasinya pak penjaga.
Siangnya kami berangkat ke Palmatak pake pompong. Asyikk…ini pertama
kali naik pompong di siang hari. Tapi panasnya….ampun dah….gosong
rasanya nih kulit.
Di Palmatak ini kami nginap di Penginapan Asih di desa Ladan,
satu-satunya penginapan yang ada. Fasilitas yang ada hanya tempat tidur
dan kipas angin. Kamar mandi ada di lantai bawah. Sebenarnya penginapan
Asih ini hanya rumah biasa yang dikondisikan jadi penginapan. Makan
malam pun kami di ruang keluarga si pemiliknya. Selama 2 malam, kami
berenam, gue, Vijay, Eman, Elly, Bang Epi, dan Said kena charge 570rb
utk 3 kamar + makan malam.
Oya, sebelum sampai di Ladan, kami sempat mampir ke Air Sena, kampung
tengah laut. Tempat kami mampir di suatu komplek budidaya ikan Napoleon
dan Karapu. Yang punya namanya Kenken, orangnya cukup ramah. Kami
ditemani dan dia tidak keberatan ketika kami tanya-tanya. Karamba dia
ada 26 buah. Tiap karamba di isi oleh ikan Napoleon, Karabu dan
bibit-bibitnya. Ikan Napoleon ini dijual ke Hongkong dan Singapura. Yang
berat nya ½ kg – 1 ½ kg bisa dihargai sampai jutaan rupiah. Liat ikan
napoleon itu mondar-mandir dalam karamba serasa ngliat segepok uang
ratusan ribu melayang-layang dalam air…di Karamba Kenken ini juga ada
supermarket nya lho..termasuk juga penjualan solar untuk nelayan2 dan
kapal.
Palmatak, 18 Mei 2007
Ke Payaklaman, mau liat Rumah Sakit Lapangan. Satu dari empat Rumah
Sakit Lapangan yang dibuat oleh Depkes. Rumah Sakit ini cukup unik.
Terbuat dari kontainer2 dan peralatannya cukup lengkap+modern. Semua
container beserta isinya didatangkan dari Jerman. Sampai di lokasi hanya
tinggal merakit dan menyusun kontainer2 tersebut.
Di jalan sempat liat kapal nelayan Tegal merapat untuk nambah bekal. Kapal ini lumayan besar.
Ke Batu Hampar liat dermaga Conoco dari kejauhan
Ke Payakmaram, RS Lapangan. Wawancara dan liat2 fasilitas rumah sakit
Ke Pulau Mubur (Bayat) liat sumber air bersih
Pulang
Pulau Penjalin, 19 Mei 07
Ini ngetikya di atas pompong kami hampir seharian berada di atas
laut. Rencananya hari ini mau liat penyu bertelur di pulau Penjalin,
sebelah utara pulau Matak. Berangkat tadi siang sekitar jam 1 pake
pompongnya pak Mukti, sekaligus diantar beliau. Selain itu juga ikut
bang Jet dan 2 orang teman pak Mukti. Waktu berangkat hari sedikit
gerimis, tapi baru 10 menit berjalan, hujan semakin lebat.
Pertama kami mampir di Air Sena, tempat karamba nya Dodo. Data2
perikanan masih kurang kata Vijay. Karamba Dodo ini lebih besar dari
karamba nya Kenken yang kami singgahi dalam perjalanan dari Terempa –
Palmatak. Waktu kami datang, ada sebuah kapal nelayan Hongkong yang
entah sedang apa, tapi begitu kami merapat, kapal itu langsung kabur. Di
karamba nya Dodo ini ikan-nya jauh lebih besar2. Mungkin sebesar paha
si uncu. Ada juga lobster gede2. Di sini kami gak lama2, karena keburu
Dodo nya datang dengan muka yang tidak bersahabat.
Selanjutnya kami menuju ke Pulau Keramat Kianpandan. Tempat makam
yang di keramatkan penduduk sekitar sini. Konon kabarnya makam2 itu
adalah makam para perompak (lanun). Kalo diliat sekilas, makam2 tersebut
mungkin berasal dari jaman hindu atau animisme dulu.
Sempat ada perubahan rencana di sini, karena meliat kondisi cuaca
yang sangat gelap. Pak Mukti sempat berpikir utk membatalkan ke Pulau
Penjalin. Tapi untung saja setelah berlayar beberapa ratus meter, cuaca
terlihat mulai rada cerah. Ke Penjalin tetap jadi.
Sekitar pukul 7 malam, akhirnya kami sampai di perairan Pulau
Penjalin. Hari sudah gelap. Bulan tak ada. Langit pun gelap tertutup
oleh awan. Pompong yang kami tumpangi sempat membentur karang.
Sebelumnya sempat beli ikan tongkol besar 3 ekor dari kapal nelayan yang
ketemu di jalan. Harganya Cuma 5 ribu seekor, padahal besar nya sepaha.
Ikan itu untuk bekal makan kami malam ini. Oya, malam ini kami bermalam
di atas pompong.
Kapal pompong kami lempar sauh hanya sekitar 300 meter dari bibir
pantai. Karena gelap tadinya gue gak sadar, kalo ternyata air laut di
sekitar kami sangat bening. Sampai terumbu karang di bawahnya keliatan
jelas. Wuihh…kebayang indahnya kalo pagi hari nih….
BTW, liat penyu bertelur nya jam berapa ya?? Ini udah jam ½ 4 pagi.
Elly, Bang Jed, Bang Epi masih mancing. Pak Mukti dan kawan2 nya tidur,
Vijay dan Eman ikut2an tidur. Eman dari tadi coba mancing tapi gak
dapat2 ampe dia bosan dan capek ndiri.
Pagi nya baru dapat info dari pak Mukti, ternyata tidak ada penyu
yang naik malam itu. Jadi dia mutusin tidak usah mendarat. Yaa..sayang
amirr….
Sampe subuh kami di atas pompong-nya pak Mukti ini. Penyu yang
ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Matahari terbit dengan indahnya dan
kami angkat sauh. Melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Temburun. Air
terjun yang sangat indah. Bertingkat2 seperti taman-taman dalam rumah
dan langsung menghadap ke laut. Kata pak Fala sih, air terjun seperti
itu sangat langka, bahkan beliau titip foto masih dalam format RAW. Di
air terjun ini kami mandi pagi dulu. Serasa mandi di taman2 surga…
Tarempa, 20 Mei 07
Siangnya kami sampe di Tarempah. Rasa penat dan jenuh menuntun
pikiran dan kaki kami memasuki sebuah penginapan tidak jauh dari
pelabuhan Tarempah. Otak kami sudah dipenuhi angan-angan untuk tidur
enak di kamar ber-AC. Tapi dasar nasib sial, gue dan Vijay kebagian
kamar yang walau ada AC merk LG, tapi setelah berjam2 tidak terasa
nikmatnya AC. Rasa panas masih terasa.
Tarempa, 21 Mei 07
Ke Antang jam 10-an
Di Antang istirahat dulu di rumah sodara bang Jed.
Jalan ke pelabuhan tempat penahanan kapal-kapal nelayan asing.
Pulang nya mampir makan siang di rumah Wely, sodara bang Jed
Lalu mampir ke rumah Nek Yangnasih
Maghrib balik ke tarempah
Makan malam di Siantan Nur
Tidur di rumah sodara nya bang Epi lagi.
Tarempa, 22 Mei 2007
Pagi sampe siang kami sarapan dan dilanjutkan wawancara dengan Camat
Siantan Timur dan Siantan Selatan yang kebetulan sedang berada di
Tarempa.
Siangnya ke Air Bini, ibu kota kecamatan Siantan Selatan. Kami naik
pompong khusus carteran. Pompong carteran ini rada mewah. Stir nya pun
bukan kayu panjang seperti pompong2 lainnya. Tapi udah berbentuk stir
kapal yang bulat. Trus, tempat duduk nya pun rada luas. Sebelum
berangkat bang Epi sempat beli Kopi Cantik. Waah…apa pula ini. Ternyata
yang namanya kopi cantik itu adalah kopi yang dibikin di kaleng bekas
susu. Tutupnya dibuka dan dikasih tali. Katanya ini minuman yang sering
jadi bekal nelayan ketika akan berangkat melaut. Kreatif juga….sisa susu
di kaleng gak kebuang percuma.
Di Air Bini kami Cuma mampir ke kantor camat dan dilanjut ke air
terjun air bunyi. Konon katanya Air bunyi ini gak kalah sama Temburun.
Perjalanan ditempuh dengan pompong kecil karena jalur ke sana melewati
rawa-rawa. Kepaksa kami ganti pompong tapi untung disedian ama SekCam
nya. Serasa perjalanan di sungai Amazon ketika mau masuk ke lokasi Air
bunyi. Untung aja gak ada buaya dan ular.
Air bunyi ini merupakan aliran air yang melewati bebatuan besar
sepanjang lebiih kurang 2 km. Jalan menuju kesana harus melewati
batu-batu besar tersebut. Tapi entah dapat energi darimana, badanku
terasa ringan loncat sana-sini. Sampe akhirnya kepeleset, hampir aja
kamera kecebur ke air. Untung reflekku masih bagus…hehehe…
Ada beberapa tingkatan air terjun. Kami Cuma sampe ke tingkat 3 nya.
Jalannya yang kudu loncat batu bikin waktu dan tenaga habis. Di tingkat
3, waktu udah menunjukan jam ½ 6 sore. Kepaksa kami balik ke pompong.
Sampe di Air bini, langsung pindah ke pompong carteran. Oya, Di
perjalanan pulang gue duduk di buritan lagi. Menikmati sunset, bintang
dan bulan sambil dihembus angin bikin mata dan hati sejuk pisan.
Tarempa, 23 Mei 2007
Hari ini rencana mau menyusuri jalan darat. Setelah hamper sejam
muter2, gue dan Eman nemuin jalan gede arah bukit dari Tarempa. Setelah
berjalam sekitar sejam, ternyata sampai ke Kampung Harung Hijau di Desa
Tiangau, Siantan Selatan. Setengah perjalanan masih bagus, aspal beton
dan cukup lebar. Tapi begitu mau masuk ke daerah Tiangau, jalan tanah
dan berbatu. Naik turun nya tajam. Beberapa kali motor mati dan hampir
jatuh. Tau-tau kita nyampe di Harung Hijau, desa Tiangau.
Ternyata di Tiangau ini, bahasa yang digunakan adalah bahasa Minang
karena penduduknya mayoritas berasal dari Teluk Kuantan. Bahkan adat
istiadatnya pun masih menggunakan budaya Minang. Kesenian yang ada
diantaranya Randai. Ini juga sebenarnya bisa jadi aset bagi wisata
budaya Siantan.
Dari obrolan dengan angku Malin Kayo dan Uda Guru, ternyata Tiangau
itu berasal dari kata Tian Gau, seorang Cina pemilik lahan di sana
dulunya. Namun karena ada kebijakan dari pemerintah ttg pajak tanah,
tanah si Tiang Gau ini dibagi dua dengan pemerintah dan sebagian lagi
dijual ke penduduk. Lama kelamaaan daerah tersebut dikenal dengan nama
Tiangau. Tahun 1950 penduduknya masih puluhan orang. Pak Malin Kayo ini
tercatat sebagai penduduk ke 100 yang masuk ke Tiangau. Dulunya di
Tiangau ini juga terdapat orang Jawa, Cina dan Melayu. Tapi lama
kelamaan karena kecerdikan orang2 Minang yang ada di sana, setiap ada
orang Jawa yang sakit, tidak pernah diobati, sehingga jumlahnya makin
sedikit. Ini keterangan dari pak Malin Kayo.
Dari keterangan pak Malin Kayo juga didapat cerita sejarah orang Suku
Laut yang berdiam di Pulau Mengkait. Ternyata mereka adalah kelompok
Dubalang Pagaruyuang jaman pra Islam yang lari karena ada perselisihan.
Diperkirakan sama dengan suku Kubu dan Talang mamak. Kajian yang menarik
sebenarnya, sayang waktu kembali jadi penghalang. Ingin rasanya ke
Pulau Mingkait euy..
Mayoritas penduduk Tiangau mempunyai pekerjaan di bidang perkebunan.
Komoditas utama mereka adalah cengkeh dan karet. Ada juga buah-buahan
yang sifatnya musiman. Hanya sayang akses menuju lokasi cukup sulit.
Sehingga hasil kebun mereka susah untuk dipasarkan.
Disini, tugas visual dan pemetaan ama Eman, dan Sosek diambil alih
oleh Yudi. Vijay?? Dia nyangkut di Tarempa. wawancara sama tokoh adat
dan tokoh nelayan. Sekitar jam 2 an kami balik ke Tarempa. dan langsung
makan siang ama Vijay di Cafe La Luna di Pantai Semen Panjang.
Abis makan, kebingungan dan kepusingan menghampir kami. Ternyata
data-data kemungkinan masih banyak yang kurang. Pergerakan yang kurang
efektif karena kami terlalu didesak waktu oleh bang Epi.
Sore sampai malam, semua pergerakan dihentikan dulu. Kejar laporan
dan cek kekurangan serta atur pergerakan lagi. Biar lebih enak kami
putuskan nginap di penginapan. Walau harus keluar uang sendiri..Kamar
lebih luas, ada AC, dan yang penting bisa sambil nonton Final
Champion tapi alhasil karena kecapek an siang dan malam nyusun
laporan, kami ketiduran, dan Final Champion pun lewat. Eh, gak
lewat-lewat banget kok. Cuma sempat bangun pas gol nya doang..hehehe…
Tarempa , 24 Mei 2007
Bangun kesiangan, tari sambutan melayu pun ketinggalan. Pagi ini ada
pesta perpisahan anak2 SMA 1 Siantan di Lapangan depan rumah sodara bang
Epi. Untung masih ada tari Zapin, sehingga target visual pun gak
lepas-lepas amat.
Kata Vijay, hari ini dia ama Eman mau ke Tiangau lagi, mau kejar data
perkebunan. Di Tiangau tersebut ternyata adalah sentra perkebunan
Siantan. Cengkeh, buah-buahan, karet, dll. Sedangkan Visual, Cuma dapat
tugas ambil gambar kesenian di pentas anak SMA itu. Sisa nya bebas..
Siangnya gue iseng nyusurin jalan di belakang kantor camat..ternyata
tu jalan nembus ke Pantai Tanjung Momong dan Antang. Pantai Tanjung
Momong ternyata cihuy juga. Walau pasir pantai nya gak gitu luas, tapi
tempatnya enak untuk santai-santai. Duduk2 di sini beberapa lama, Vijay
dn Eman yang ternyata udah beres di Tiangau nyusul. Setelah di cek di
peta, ternyata jarak ke Antang Cuma 1 km lagi. Kagok euy, kami putusin
aja nerusin ke Antang, sekalian mo ketemu pak Syafaat, ketua kelompok
pengawas nelayan.
Di Antang Vijay wawancara ama pak Paat, gue ama Eman rencananya mo
liat pengrajin kayu diantar ama Noni anak si pengrajin tersebut, pak
John. Workshop pak John ternyata berada di Komplek Anambas Resort.
Sekalian aja kami gali data ttg Resort tersebut. Kebetulan bu Christina,
istri pak Tolam si pemilik sedang ada di sana. Beliau cukup ramah. Kami
di antar keliling resort dia. Semua tipe kamar di liatin sampe
restorannya. Beliau kayaknya senang kami datang. Mungkin di pikirannya
kami akan membantu untuk promo. Emang iya kok bu
Sekitar maghrib gue ama Eman balik ke rumah Pak Paat. Mau pamitan
pulang. Pak Paat sih nawarin nginap aja. Tapi berhubung kami belum
ngomong sama bang Epi, kepaksa di tolak. Pulangnya mendadak kami dikasih
cendramata langka ama pak Paat. Kuda Laut Putih!! Katanya tu kuda
berkhasiat untuk stamina pria…hehehe…
Tarempa , 25 Mei 07
Pagi hari Vijay dan Eman sarapan di warung kopi depan Pasar Ikan.
Ternyata Vijay terlibat diskusi yang cukup hangat dengan pak Paat dan
Pak Tarmizi, ketua kelompok Nelayan Siantan. Dan Vijay juga ketemu
dengan orang dari IPB yg sedang riset juga di Anambas.
Hari bebas bagi visual. Aktifitas baru berjalan setelah jumatan. Eman
dan Vijay ke Rintis, katanya mo liat perkebunan karet. Di Rintis ini
kabarnya banyak penduduk keturunan Sunda-banten. Sedangkan gue akhirnya
jalan-jalan di sekitar pasar Tarempa, Semen Panjang, dan duduk di Cafe
La Luna. Jam 5 an Vijay dan Eman nyusul ke La Luna.
Tarempa , 26 Mei 2007
Hari terakhir di Tarempa, hari terakhir di Anambas, hari terakhir
penjelajahan ini. Tidak sedih tidak gembira. Semua mengendap di dalam
hati. Sudah banyak kenangan, suka dan duka kami lewati selama di Anambas
ini.
Agenda hari ini hanya wawancara dengan Camat Siantan. Abis tu bebas….
Selamat tinggal Anambas, semoga ada umur panjang kita kembali bersua…
Selamat tinggal Jemaja, Selamat tinggal Siantan, Selamat tinggal Palmatak
Selamat tinggal cak Pau, bang Fachri, pak Andrim, angku Pitar, Anis,
Indra, pak Mukti, bang Agus, Pak Paat, Angku Malin Kayo, pak Ibrahim,
Pak John, Noni, Ita, Anggie……
Selamat tinggal lah kalian semua…
.:Jelajah Selesai:.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar