Senin, 26 Maret 2012

Saat-saat terakhir Timor Lorosae 1999 (1)


Di Depan markas UNAMET - Dilli




Suatu hari di Kampus FISIP Unpad Jatinangor, awal Agustus 1999
"yud, lu mau gak ke Timtim??"
"Timtim?? Mau!!! dari dulu gue pingin ke sana. tapi ngapain??"
"jadi observer jajak pendapat. tapi cuma dibayar 20rb/hari" masih mau gak??"
"20rb/hari ya?? hmm....trus ada asuransi gak?? nginap dan transport gimana??"
"iya..asuransi gak ada. nginap ditanggung, transport naek hercules. kalo mau, lu lapor sama pak Hamdani sana gih"
"Hmm...ok deh.."
Lalu akhirnya gue mendaftar ke pak Hamdani (dosen yg jadi koordinator tim relawan ke Timtim). Gue pikir, kapan lagi bisa ke Timtim gratis. walau masih ada yg bikin ragu.


---

Jatinangor, 18 Agustus 1999


"lu jadi ke Timtim?? udah lu pikir masak2?? ingat lho..di sana lagi perang. bisa2 lu gak pulang ntar"
Anjrit!! malam ini gue bingung banget. keinginan utk pergi begitu besar. tapi resikonya gede banget. Nyawa !!  Tapi kalo gue gak berangkat, bisa2 nyesel seumur hidup.
Sudahlah...gue putusin berangkat aja!! masalah mati dan hidup mah di tangan Tuhan. kalo Dia masih kasih waktu utk hidup, InsyaAllah gue akan balik.

Surat Siti Untuk Ibu


Assalamualaikum bu,

bagaimana kabar ibu sekarang?? mudah2an ibu sehat-sehat aja.Siti disini alhamdulillah ada dalam keadaan sehat dan gembira :) di sini makannya enak2 bu. siti bisa makan enak kapan saja. Allah itu baik bu...tak sekalipun dibiarkannnya siti kelaparan atau kedinginan.
Sekarang siti udah gemuk lho bu...udah gak nangis2 lagi.

oya disini siti ditemani ama ibu solok. ibu solok ternyata gemuk ya bu...heheh...beliau senang banget ketemu ama siti. pipi siti sering dicubit2nya karena gemes. ibu solok pinter masak lho bu. kemarin siti dimasakin rendang paru. wuihh..enak nya bu...

bu, siti mau bobo dulu yaa...salam utk ayah dan dek Hatta. dek hatta sekarang udah gede ya bu?? duh...pasti pinter deh...siapa dulu kakaknya..hehehe...





salam rindu,
Anakmu tercinta


Siti Amanah Pertiwi

Kamis, 22 Maret 2012

Siti Amanah Pertiwi

Namaku Siti Amanah Pertiwi. sama Ayah dan Ibu, aku biasa dipanggil Siti. Nama yg sederhana yaa?? Kata ayah, biar Siti nanti sederhana orangnya. Ayah dapat nama Siti sewaktu shalat jumat. Nama yang sederhana yang akan selalu mengingatkan ayah dan ibu bahwa Siti adalah amanah dari-Nya dan semoga menjadi ibu pertiwi. 
Sekarang Siti udah di surga. sedih juga sebenarnya berpisah dengan ayah dan ibu. tapi Siti udah gak kuat nahan sakit di kepala Siti (kata ayah, ternyata siti sakit ensepalitis, ada peradangan di otak siti). 
di sini Siti akan tunggu ayah dan ibu dan adik-adik Siti yang ternyata sudah ada 3 org. Hai, Hatta, Andin, Keumala... :)


---



Dia kami beri nama Siti Amanah Pertiwi. Sengaja kuberi nama Amanah untuk mengingatkan kami bahwa dia adalah Amanah dari Allah, bukan milik kami.

Siti meninggal karena terkena penyakit Ensipalitis, yaitu terjadi peradangan di otak nya.

waktu itu, Minggu 1 Mei 2005, jam 09-30 an setelah minum obat terakhir dari Dokter, Siti diletakan di buaian oleh Ibunya yang sedang memasak air utk mandi Siti. Tiba-tiba Siti kejang-kejang dan seperti tercekik. Seketika itu juga kami larikan dia ke RSUP M. Djamil. sesampainya di RS, dokter memberi obat anti kejang dan Siti mulai tenang. Dokter pun memeriksa cairan sumsum tulang belakang dan hasilnya negatif - Siti tak ada gangguan di Otak.

Tapi beberapa jam kemudian, Siti tiba-tiba kejang lagi sampe nafas nya berhenti. Oleh dokter Siti langsung dipindahkan ke ruang Intensif. Sejak saat itu, Siti koma dan tak sadarkan diri.

Kondisi Siti terus menurun. analisis dokter waktu itu Siti terkena Infeksi Paru-paru dan darah kekurangan Elektrolit (kekurangan Kalium dan Natrium). Karena itu tim dokter memberikan koreksi kalium dan natrium lewat infus. namun ternyata koreksi tersebut tidak membuahkan hasil.

Karena beranggapan infus di kaki dan tangan gak lancar, lalu dokter memasukan infus melalui kepala. dan ini pun tidak berhasil. Sementara kaki dan tangan Siti udah dingin, sedangkan suhu badan dan kepala nya mencapai 42 C.

Akhirnya tim dokter memutuskan mencari saluran infus lewat saluran vena dengan pembedahan di kaki. pada saat mulai membedah, tiba-tiba Siti kolaps, nafas dan jantungnya berhenti.

Dokter segera memberi pijitan jantung dan nafas bantuan serta suntikan adrenalin. setelah suntikan ketiga, Siti mulai bernafas lagi dan Siti terlihat mencoba untuk bernafas sendiri.

Saat itu kami membisikan ke Siti, " Siti, kalo Siti udah gak tahan lagi, jangan paksakan. kami ikhlas kalo emang ini jalan terbaik utk Siti". selesai kami membisikan begitu, tiba-tiba air mata Siti menetes dan beberapa detik kemudian Siti menghembuskan nafas terakhirnya, karena setelah di beri pertolongan Siti tetap tak bernafas kembali.
waktu itu jam menunjukan pukul 23.53 WIB, tanggal 2 Mei 2005.


Selamat Jalan, nak...semoga kamu jadi bintang di Surga...



Selasa, 30 Agustus 2011

Saat-saat terakhir Timor Lorosae 1999 (Epilog)


Joan berlagak sebagai pejuang yang berhasil menangkap musuh-musuhnya

Sore itu kami sedang istirahat di pelataran penginapan yg masih menghempuskan angin panas. Tadi siang Jajak Pendapat Timor-timur baru saja selesai. Nasib Timor Timur akan ditentukan dari hasil jajak pendapat tersebut. Apakah akan tetap menjadi bagian Indonesia atau merdeka dan berdiri sendiri.

Suasana makin panas. Terdengar kabar Eurico Gutteres dan pasukan Pro Otonomi-nya akan memblokir Timtim sampai hasil Jajak Pendapat keluar. Tidak seorang pun boleh keluar. 
Kami dalam ancaman terjebak di negeri yang seperti sedang bersiap perang saudara secara terbuka. Apa pun hasil Jajak Pendapat potensi perang sangat tinggi. 

Rabu, 10 Agustus 2011

Iklan Ramadhan Pertamina 2011 versi Minang : Bagus, tapii....




Iklan dengan latar belakang suatu kampong di ranah Minang ini sangat menyentuh sekali. Diceritakan seorang ayah sedang menasehati anaknya yg bernama Hakim
Ayah : “Pusako ko warisan ninik mamak, jadi waang nan tapek manaruihkannyo”
Hakim : “Tapi yaah……”
Ayah : “Kalau itu pilihan waang, pailah….”

Kamis, 04 Agustus 2011

Tragedi dan Dilema Dalam Fotografi

Sore itu KRL Pakuan jurusan Bogor harusnya berangkat dari Stasiun Juanda pada pukul 14.28 WIB namun entah kenapa Kereta datang terlambat. Baru pada pukul 14.55 kereta berangkat meninggalkan stasiun Juanda dengan membawa ratusan penumpang. Dengan kecepatan yang sedang, KRL Pakuan melintasi stasiun demi stasiun. Tiba-tiba di pintu lintasan Kereta Api di kawasan Kalibata terdengar suara keras dan Kereta terhentak cukup keras. Bayangan gerbong depan akan mental ke arah belakang memnbuat para penumpang berhamburan ke arah belakang.

Rabu, 03 Agustus 2011

Kenapa Terpilih Menjadi Petualang ACI ??



Program Aku Cinta Indonesia (ACI) dari Detik.com adalah sebuah program yg mengirimkan beberapa orang yg disebut petualang untuk berkeliling segala penjuru Indonesia. Program ini dimulai tahun 2010. dari hampir 70 ribu pendaftar, 66 petualang terpilih saat itu yg terbagi atas 33 tim dan dikirimkan ke 33 wilayah di Indonesia. 


Banyak orang-orang bertanya, kenapa saya dan 65 orang lainnya bisa terpilih. Apakah karena kami ganteng dan cantik? Faktor ini sangat jelas bukan alasannya. Atau apakah karena kami adalah para petualang yang mempunyai jam terbang tinggi yg identik dengan kekuatan dan ketangguhan fisik ? Ini juga bukan, karena diantara kami ada juga yang bukan anak gunung atau punya fisik kuat.




Press Confrence ACI 2010

Petualang ACI macem-macem rupa-rupa


sebuah tulisan dari Dadang Lesmana, Petualang ACI 2010



Kalau ada sekelompok orang yang terdiri dari anak-anak muda gokil, jail, gratil, aneh, sok imut, urakan, tapi juga plus pinter, kreatif, berwawasan dan selalu berpikir positif, itu pastilah Petualang ACI. 66 orang petualang yang lahir dari sebuah hajatan besar detikcom, Aku Cinta Indonesia.

Komunitasnya sih biasa-biasa aja, maksudnya ngga ada anak pejabat tingginya gitu loh. Tapi justru eksis karena berasal dari segala kalangan dan dari seluruh penjuru tanah air. Petualang ACI menjadi begitu bhineka dengan segala kekhasan serta keberagaman cara berpikir dan bertingkah laku. Namun perbedaan yang ada tidaklah menjadi persoalan bagi mereka. “berbeda bukan berarti tak sama” kata mereka. “ibarat pelangi, warna berbeda justru saling melengkapi, memiliki peran yang sama”.

Senin, 01 Agustus 2011

Sejarah Desa Batur dan Gunung Batur

 
Gunung Batur dan bagian yg menghitam adalah bekas desa batur


Dalam lontar Candi Supralingga Bhuana dikemukakan keadaan Bali Dwipa dan Seleparang masih sunyi senyap, seolah masih mengambang di tenga samudra yang luas.
Pada saat itu di Bali Dwipa baru ada empat buah Gunung, yaitu :
  1. Gunung Lempuyang di Bagian TImur
  2. Gunung Andakasa di Bagian Selatan
  3. Gunung Karu di Bagian Barat
  4. Gunung Beratan (Mangu) di Bagian Utara
 

Minggu, 31 Juli 2011

Bencana Purba, Minerba Dan Kemajuan Teknologi Di Kerajaan Pagaruyung

ini hanya sebuah link tulisan dari situs http://www.sigapbencana-bansos.info
sebuah ulasan menarik dari Ir. M. Anwar Syadat (Asisten Stafsus SKP BSB)



Bencana Purba, Minerba Dan Kemajuan Teknologi Di Kerajaan Pagaruyung


Ekspedisi Sir Thomas Stamford Raffles ke Minangkabau, 1818
Sejak ditempatkan di Penang oleh East India Company (EIC) Sir Thomas Stamford Raffles merasakan kecintaan kian membesar terhadap kebudayaan Melayu yang menurutnya sedang mengalami kemerosotan karena pengaruh buruk monopoli Belanda. Oleh sebab itulah Raffles berusaha keras mempertahankan pengaruh Inggris atas dunia Melayu. Puncak dari upayanya ini adalah pembentukan koloni Inggris di Singapura guna memastikan agar Inggris berperan besar di Selat Malaka. Di samping itu, setahun sebelumnya, Raffles menempuh langkah penuh semangat yang belum pernah pernah ada di Sumatra, yakni ekspedisi ke dataran tinggi Minangkabau. Bersama Lady Raffles, disertai seorang naturalis bernama Thomas Horsfield dan serombongan staf, Raffles berlayar meninggalkan Bengkulu menuju Padang pada awal Juli 1818. Catatan perjalanan ini dikirimkan Raffles kepada Duchess of Somerset, peindungnya, dalam sepucuk surat panjang pada September 1818.


selanjutnya baca di SINI

Kamis, 21 Juli 2011

Maestro Karawitan Bali : I GEDE DEWA NEGARA


tulisan ini merupakan bagian dari buku 
"9 Pengabdi Seni Menuju Keabadian. Inspirasi dari 9 Seniman Asli Bali"
terbitan PT. Bakrie Telecom, Tbk
Tulisan dan Foto oleh Yudi Febrianda




 Desa adat Bambang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli menjadi lebih dikenal masyarakat luas di Bali dengan hadirnya seorang seniman tabuh gender bernama  I Dewa Gede Negara.  I Gede Dewa Negara yang lahir, besar dan hingga kini tinggal di desa tersebut bersama istrinya, Made Tirta, sampai saat ini masih aktif dalam kegiatan kesenian, khususnya seni tabuh gender, dan kegiatan pertukangan serta bertani. Usia nya yang sudah 80 tahunan sepertinya tidak berhasil mengurangi semangat hidup I Gede Dewa Negara. Anaknya yang berjumlah 5 (lima) orang sedari kecil sudah terbiasa dengan kegiatan kesenian sang ayah, bahkan beberapa anaknya juga terbiasa terlibat dalam kegiatan tersebut dan 3 orang diantaranya saat ini telah turut melestarikan budaya Bali yaitu I Dewa Gede Darmawan (undagi/pembuat pengusung jenazah), I Dewa Gede Darmayasa (seni tabuh) dan Dewa Ketut Kadiri (seni ukir).

Nothing is Impossible if You and Me Became Us

Babak perdelapan final Liga Champion 2016-2017 antara Paris Saint Germain vs Barcelona, pada pertandingan pertama dimana PSG jadi tuan ru...