Tarempa : Kota Penikmat Kopi

*tulisan ini dimuat di majalah online “the Travelist” edisi 1



Ketika saya pertama kali menginjakan kaki di Tarempa setelah turun dari pompong (perahu motor) atau kapal laut, kesan pertama yang tertangkap adalah orang Tarempa sangat menyukai aktifitas meminum kopi. Hampir di setiap sudut terdapat warung kopi. Sejak pagi sampai sore warung-warung kopi ini tak pernah sepi.


Tarempa merupakan sebuah kota yang terletak di Pulau Siantan, ia merupakan ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas. Sebuah kepulauan yang terletak di sebelah timur negara tetangga, Malaysia.

Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Andrea Hirata di novel Padang Bulan, bahwasanya kopi sudah menjadi bagian hidup orang Melayu. Di Warung kopi inilah segala sesuatu bisa diobrolkan. Sembari meminum kopi, saya mendengar obrolan yang bermula dari gosip murahan, kelakuan anggota DPR, sampai perang di belahan dunia sana. Semuanya habis dikupas dengan berbagai sudut pandang.

Saya tidak menyangka mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki dan tentunya minum kopi di kota Tarempa ini. Sebuah kota yang memiliki teluk dan menjadi pelabuhan utama, tempat singgah dan pusat informasi para wisatawan. Dari Tarempalah wisatawan menuju Pulau Temawan, Pulau Penjaul, Pengunungan Lintang sampai Air TerjunTemurun dan Air Terjun Air Bini.

Terkenal sebagai pelabuhan utama, maka tak heran jika terdapat pangkalan TNI AL untuk memantau dan menjaga peraiaran Indonesia, karena kabupaten ini berbatasan langsung dengan negara tetangga. Ternyata, di Pangkalan TNI AL ini terdapat banyak kapal-kapal nelayan asing yang tertangkap sedang mencuri ikan di peraiaran Indonesia. Akan tetapi, hati-hati jika hendak memotret kapal tangkapan nelayan asing di depan pos TNI AL tanpa ijin, karena bisa ditahan oleh petugasnya yang cukup ketat.

Kapal-kapal nelayan asing yang tertangkap di Tarempa


Di Pelabuhan Tarempa, kapal KM Bukit Raya berlabuh, dari Tanjung Priok via Pontianak – Selat Lampa – Tarempa, ataupun dari Tanjung Pinang langsung. Ya, sejak terbentuknya kepulauan Anambas sebagai kabupaten, maka transportasi menuju tempat ini semakin mudah. Terbukti dengan terbukanya Airport di P. Matak (30 menit naik pompong dari arempa) untuk maskapai Wings Air melalui Batam atau punt Tanjung Pinang.

Memasuki Tarempa seperti kembali ke jaman 40-50-an. Bangunan – bangunan seperti kios - kios, rumah- rumah, dan warung kopi yang banyak berjejer di sepanjang jalan dan sekitar pasar masih banyak yang terbuat dari kayu. Mungkin hanya bangunan pe- merintah dan militer yang sudah memakai semen dan batu. Kota ini pada saat jaman penjajahan dahulu, pernah menjadi Kota Keresidenan. Pemekarandiri dari Kabupaten Natuna- pun baru terlaksana pada tahun 2008.

Sebagaimana wilayah Propinsi Kepulauan Riau lainnya, Kabupaten Kepulauan Anambas sangat kaya akan seni dan budaya. Tarempa sebagai ibu kota kabupaten menjadi pusat ragam budaya yang terutama berakar dari budaya Melayu. Kini, berbagai sanggar seni mulai bermunculan, dari seni tari,seni musik hingga seni beladiri daerah yang berupaya melestarikan budaya tradisional.

Mayoritas penduduknya adalah Suku Melayu seperti masyarakat pesisir pada umunya, bersifat terbuka ter- hadap pendatang, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwasanya Etnis Tionghoa, Suku Bugis, Banten, Jawa, Minang, Batak dan Sunda juga menetap di pulau ini (dan juga tersatukan oleh kebiasaan minum kopi di warung kopi).

Saya kembali menyeruput kopi –yang rasa kopinya sebenarnya tidak terlalu istimewa. Namun keistimewaanya justru terdapat pada suasana-nya yang mampu membuat orang betah berlama-lama di sini. Secangkir kopi bisa menjadi teman anda untuk mengobrol berjam-jam. Entah sejak kapan kebiasaan ini mulai ada. Sepertinya tidak ada yang tahu atau mungkin tidak ada yang peduli. Yang jelas, kebanyakan pemilik warung kopi adalah masyarakat dari Etnis Tionghoa.


salah satu warung kopi di Tarempa

Bermacam menu kopi disuguhkan dengan sebutan yang khas. Ada Kopi O atau Kopi Obeng alias kopi hitam dengan kadar gula yang melebihi standar kemanisan kopi di Jawa. Ada Kopi Cantik, yaitu kopi yang diseduh didalam kaleng bekas susu yang dibuka bagian atasnya. Kopi Cantik ini merupakan langganan para nelayan yang akan melaut karena lebih mudah dibawa.

Namun, tempat yang paling nyaman untuk menikmati kopi ada di sepanjang Jembatan Semen Panjang. Sebuah jempatan yang berada diatas laut yang jernih dan pemandangan sekitar yang indah. Jembatan yang menghubungkan antara kota Tarempa dengan Desa Antang ini terletak di timur Pelabuhan Tarempa. Di sepanjang jembatan tersebut terdapat beberapa kafe yang cukup luas dan menu yang lebih beragam.

Duduk di salah satu kafe ini serasa berada di suatu kafe di sebuah sudut kota kecil di Eropa. Hening, sepi, angin berhembus sepoi-sepoi ditingkahi oleh suara camar mengantarkan matahari kembali ke peraduannya di Barat, sambil menikmati secangkir kopi menghadap ke lautan. Sungguh suatu pengalaman yang tak terlupakan.

Popular Posts