Tuesday, January 13, 2015

Balada Pi Ik


 Namanya Pi Ik. Sebuah nama yang tidak biasa di telingaku. Dia baru kelas 7 SMPN 3 Halong di Desa Uren, Balangan, Kalsel. Perawakannya rata-rata seperti perempuan desa lainnya. Kulit agak gelap, jelas karena sering disinari matahari. Setiap hari dia berangkat sekolah dari rumahnya jam 5 pagi dan tiba di sekolah jam 8 pagi. 3 jam ia tempuh perjalanan melewati kebun, hutan, jalanan setapak naik turun dengan berjalan kaki.

Tadi kubertemu dengannya sepulang sekolah di rumah singgah yang didirikan melalui program CSR sebuah perusahaan tambang di Kalsel. Bersama teman-teman sekolahnya ia beristirahat di rumah singgah tersebut. Mereka ini adalah murid-murid tangguh. Tidak hanya Pi Ik ternyata yang harus menembus dinginnya subuh untuk mencapai sekolah mereka beberapa jam kemudian. Tapi tidak ada tersirat sedikit pun beban dari wajah-wajah mereka.

Kutanya ke Pi Ik, "kenapa kamu mau sekolah? Padahal kamu harus jalan kaki 6 jam sehari?"
"hmmm....karena saya ingin sekolah aja. Saya ingin jadi guru", kata Pi ik
"lalu apakah kamu akan tinggal di rumah singgah ini biar gak perlu jalan kaki berjam-jam lagi?", tanyaku lagi
"tidak pak. Bagaimana pun saya harus pulang ke rumah karna ibu saya sedang sakit", jawab Pi Ik dengan nada biasa. Tidak ada nada sedih atau menghiba dari suara dan raut wajahnya. Seakan semua yang dialaminya itu adalah hal biasa. Seperti perjuangan anak-anak di kota yang mesti berjalan dari parkiran ke dalam mall. Atau sama seperti menceritakan ibunya yang kecapekan fitness.

Jika Laskar Pelangi punya tokoh Lintang yang berjuang sedemikian berat utk bersekolah, di belahan bumi lain di negara ini ternyata banyak Lintang-Lintang lain yang kadang jauh lebih berat dari Lintang perjuangannya

Minggu depan insyaallah aku akan coba datang ke rumah Pi Ik


*Tanjung, 13 Januari 2015*