Sabtu, 15 Februari 2014

Manjat Pohon Manau Berduri

Memanjat pohon manau berduri merupakan suatu tradisi pada masyarakat Dayak Deah di Tabalong, Kalsel. tradisi yang sarat dengan prosesi ritual ini adalah suatu mekanisme ujian bagi calon pemimpin. 

Kamis, 09 Januari 2014

Monumen Tanjung Puri alias Tugu Obor, Api Abadi dari Tabalong

Penulis :Yudi Febrianda dan Firman Yusi
Fotografer : Yudi Febrianda


Terletak di perempatan jalan keberadaan tugu ini sangat strategis dan mencolok sekali. Jika datang dari arah selatan, yaitu dari arah Banjarmasin atau jika dari arah Timur, yaitu dari Kaltim ketika memasuki kota Tanjung perhatian pertama pasti akan terkesima dengan sosok kokoh nan berapi-berapi ini. Popular dengan nama Tugu Obor karena terdapat api abadi dipuncaknya. Api tersebut selalu hidup walau hujan badai karena berasal dari gas alam yang disalurkan dari explorasi minyak Pertamina. Namun nama tepatnya adalah Monumen Tanjung Puri, dibangun dimasa kepemimpinan Bupati Dandung Suchrowardi (1984 - 1994).

Rabu, 01 Mei 2013

Tentang Pejalan. Tentang Mitos, Tentang Folklore

e-Magazine, the-travelist.com pada edisi ke-4 terbit dengan tema "Traveling through Folktales". 
Kebetulan sebagai lulusan Antropologi, saya diwawancara tentang Folktale atau lebih luas nya tentang Folklore dalam kaitannya dengan Traveling.




Kamis, 10 Januari 2013

Tentang Kontrol Otak


di-copy dari blog lama, postingan 21 Januari 2010

Tentang kebiasaan jelek. Sebenarnya itu kan masalah kebiasaan aja. Alam bawah sadar sudah ter sugesti bahwa melakukan itu adalah tidak apa-apa. Dan seringnya emang nikmat

Penggerak Utama dari hampir semua tindakan kita adalah otak. Saya menyebutnya teori kontrol otak. Apa yg kita lakukan karna inisiate oleh otak, di approve oleh hati dan dijalankan oleh tubuh.

Saniangbaka - Sejarah Nagari Intel Pagaruyuang - 2 of 2


Hasil penelitian Antropologi Yanti Diyantini untuk Skripsi S1 di jurusan Antropologi Unpad.
Penelitian dilakukan bersama oleh Yudi F dan Yanti D pada tahun 2006
Bagian kedua dari bagian lainnya




Catatan yang mengisahkan sejarah nagari Saniangbaka sangat sedikit ditemukan. Dalam banyak tambo dan buku-buku yang berkaitan dengan Minangkabau, tidak banyak yang mencatat sejarah ini. Salah satu yang memuat sejarah Saniangbaka adalah dalam Mahmoed (1978). Disebutlah suatu masa Datuk Katumenggungan mendirikan sebuah kerajaan bernama Bungo Setangkai yang berpusat di Sungai Tarab. Mula-mula perkembangan kerajaan ini adalah membuat kubu pertahanan kerajaan dan untuk membuat lingkaran pertahanan ini Datuk Katumenggungan menugaskan seorang hububalang pemberani dari Pariangan Padang Panjang untuk menjadi kepala pertahanan. Hulubalang ini kemudian ditugaskan untuk membuat pertahanan kerajaan, yang mula-mula membuat sebuah nagari bernama Batipuh. Setelah Batipuh, kemudian hulubalang ini membuat 10 koto yaitu bentuk suatu daerah, sebelum menjadi nagari, yang penduduknya sudah banyak meski tinggal berjauhan tetapi sudah mulai berinteraksi secara intensif di suatu tempat. Koto-koto tersebut terdiri dari Paninjauan, Gunung, Jao, Tambangan, Singgalang, Pandai Sikek, Koto Laweh, Koto Baru, Aia Angek, Panyalaian. Setelah kesepuluh koto itu selesai, hulubalang tersebut membuat kubu pertahanan ke arah timur dengan 10 daerah pula yaitu Sungai Jambu, Labuatan, Simawang, Bukit Kandung, Sulit Aie, Tanjung Balit, Singkarak, Saniangbaka, Silungkang dan Padang Sibusuk (Mahmoed, 1978:37-38). 

Saniangbaka, Nagari Intel Pagaruyuang - 1 of 2

Hasil penelitian Antropologi Yanti Diyantini untuk Skripsi S1 di jurusan Antropologi Unpad.
Penelitian dilakukan bersama oleh Yudi F dan Yanti D pada tahun 2006
Bagian pertama dari beberapa bagian :)


Saniangbaka tampak dari Bukit Aie Angek

Secara adminisitratif Nagari Saniangbaka merupakan bagian dari Kecamatan X Koto Dibawah Singkarak, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Nagari ini berbatasan dengan daerah lain yaitu di sebelah Utara dengan Nagari Muaro Pingai; Sebelah Selatan dengan Nagari Koto Sani dan Sumani; Sebelah Barat dengan Lubuk Minturun – Kodya Padang, dan Sebelah Timur dengan Nagari Singkarak. Nagari yang mempunyai luas daerah 91,72 Km2 ini berada pada ketinggian 400 M di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun. Nagari ini terdiri atas 6 jorong, yaitu Jorong Aia Angek, Balai Batingkah, Balai Panjang, Balai Lalang, Balai Gadang dan Kapalo Labuah. 

Pemukiman di nagari dikelilingi oleh perbukitan, yang oleh masyarakat dinamakan hutan tunjuk, Danau Singkarak dan sebagian lainnya oleh area persawahan. Kontur tanah nagari yang beragam membuat nagari ini kaya akan sumber daya alam. Hutan tunjuknya, yang kebanyakannya adalah pusako, merupakan ladang subur yang menghasilkan hasil perkebunan seperti kopi, cengkeh, kayu jati dan sebagainya. Penduduk nagari juga seringkali mengumpulkan kayu bakar dari hutan ini. Selain menjadi daerah perladangan, salah satu bukit diantara perbukitan yang menjadi hutan tunjuk tersebut diduga mengandung batu bara. 

Ini sesuai dengan yang disampaikan oleh dubalang[1] suku Balai Mansiang bahwa kemungkinan bukit tersebut mengandung batu bara sangat besar. Ini dibuktikan dengan dilakukannya penelitian tentang kandungan mineral dalam di dalamnya oleh pemerintah daerah. Kenyataan ini juga masuk akal karena kadang-kadang pada musim kemarau tiba bukit tersebut terbakar dengan sendirinya. 

Sementara itu Danau Singkarak mengandung kekayaan ikan khas yang jarang ditemui di daerah lain yaitu ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) dan rinuak (Rasbora argyrotaenia). Meski kedua jenis ikan ini juga terdapat di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, tetapi konon menurut beberapa nelayan di Saniangbaka dan Maninjau, kekhasan ikan dari masing-masing danau dapat dibedakan secara kasat mata baik dari ukuran tubuhnya maupun rasanya. Kelangkaannya membuat kedua jenis ikan ini menjadi ciri khas daerah yang selalu diburu pembeli. Keduanya tidak hanya dijual di dalam wilayah Sumatera Barat saja, tetapi juga di daerah lain di dalam dan luar negeri (Hartoto dan Iwakuma, 2002;

Jumat, 07 September 2012

Rumah Cemara, Ginan dan Sebuah Pembuktian

Sabtu, 11 Agustus 2012 saya berkesempatan mengunjungi Rumah Cemara di Gerlong – Bandung dalam pelaksanaan program kerjasama dengan Komunitas InstaSunda untuk kampanye bahaya HIV/AIDS. Kampanye yang dilakukan adalah tentang bahaya Narkoba dan HIV/AIDS melalui media social Instagram. 


Sabtu, 25 Agustus 2012

Ingat! Indonesia Tidak Hanya Bali #2 - Intisari online

disalin dari intisari-online
ditulis oleh Astri Apriyani
lanjutan dari seri #1



Intisari-Online.com - Jika sebelumnya sudah dideskripsikan keindahan lima pulau (kepulauan) mempesona di Indonesia, sekarang mari kita lanjutkan. Masih ada beberapa pulau lain yang patut masuk dalam daftar destinasi idaman Anda. Tentu saja, di luar Bali serta masih atas rekomendasi para pelancong lokal: Giri Prasetyo (24), Citra Rahman (25), Yudi Febrianda (35), Lucia Nancy, Gilang Pratama (23), Kusumorini Susanto (31), dan Galih Mulya Nugraha (26).

Jumat, 24 Agustus 2012

Ingat Indonesia Tidak Hanya Bali #1 - Intisari Online



disalin dari Intisari-Online
tulisan oleh Astri Apriyani

Suatu hari di bulan Ramadhan 2012. beberapa hari lagi akan merayakan Idul Fitri. Saya sudah mudik ke kampung istri di Bandung. Sedang menikmati hari-hari nan santai. Gak perlu bangun pagi buta lalu siap tempur mengarungi medan macet di Jakarta. Benar-benar sedang santai. 

Setelah sahur dan shalat subuh saya tidur dan berniat bangun se siang mungkin. Sekitar jam 8 pagi, whatsapp saya berbunyi. Ada pesan masuk dari Atre alias Astri Apriyani, "bang, boleh nanya? Pulau apa di Indonesia yg terindah?". Dengan kondisi masih lulungu, masih loading kesadaran, saya coba untuk menjawab pertanyaan yang terlihat sederhana tapi butuh memutar otak dan ingatan serta mencocokan dengan perasaan.  

Di Indonesia begitu banyak pulau yang indah. Dan bukan perkara gampang untuk memilih satu dari ratusan atau ribuan pulau indah tersebut. akhirnya saya memutuskan untuk menjawab Kepulauan Anambas. Kebetulan pada 2007 pernah sekitar sebulan keliling Anambas untuk pemetaan potensi wilayah.

Lalu Atre bertanya kembali, "kenapa memilih Anambas?". Nah, pertanyaan nya ternyata bertambah. Saya yang masih belum 100% loading perlu memutar otak lebih keras lagi. Sialan si Atre. Udah setting diri untuk bersantai, tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan yang mesti mutar otak dan menggali ingatan. 

Lalu beginilah hasilnya....

Jumat, 18 Mei 2012

Husin Abdullah, si Bule "Gila" Pecinta Alam Lombok


*tulisan oleh Hanindita - @sihanin
*foto oleh Yudi F dan Dokumentasi Keluarga
*dari perjalanan ACI Detikcom 2010

Husin Abdullah bersama istrinya yg asli Lombok dan 2 anaknya

Kalau kita menyebut nama Gavin Edward Birch mungkin tidak ada yang tahu siapa beliau, tetapi kalau kita menyebut Pak Husin, atau si Bule Gila orang akan langsung tahu. Berangkat dari kecintaannya pada alam dan tekadnya untuk membersihkan Senggigi, beliau rela dijuluki Bule Gila.

Husin Abdullah adalah seorang Warga Negara Selandia Baru. Beliau pertama kali datang ke Lombok pada tahun 1984 dan prihatin melihat keindahan Lombok tertutup sampah. Dua puluh lima tahun silam beliau kembali ke Lombok, menikah dengan Ibu Siti Hawa dan memulai usahanya dalam membersihkan Pantai Senggigi. Beliau pula yang pertama membangun toilet bagi warga yang kala itu belum memiliki toilet. Dua bulan yang lalu Pak Husin wafat karena malaria, kini usaha membersihkan pantai tengah dibenahi dan dilanjutkan oleh putra pertamanya Abdul Aziz Husin. Kami menemui Aziz dan Ibu Siti Hawa ketika berkunjung ke Pondok Siti Hawa pada 12 Oktober 2010 silam.

Rabu, 11 April 2012

Saat Terakhir Timor Lorosae 1999 (9)


Dilli, 29 Agustus 1999

Matahari terbit dengan cerahnya pagi ini di Bumi Lorosae. Sinarnya yang terang mengiringi langkah-langkah mereka yang berharap untuk segera mendapatkan kemakmuran dengan cara masing-masing. Sebagian yakin bahwa dengan tetap menjadi bagian Indonesia, kemakmuran akan segera terwujud. Tapi sebagian besar lainnya yakin bahwa hanya kemerdekaan yang akan menjadi jalan menuju kemakmuran. Hau hili ukun rasikan

Kemarin ketika briefing di markas UNAMET, saya kebagian untuk memantau daerah pemilihan Bidau Santana, tepatnya di TPS SDN Bidau Santana. Kesanalah pagi ini tujuan saya bersama 2 teman lainnya. Dengan penuh semangat pagi itu kami berjalan keluar dari SKB menuju jalan raya depan Katedral Dilli. Rencananya kami naik taksi ke Bidau Santana seperti teman-teman yang kebagian daerah lain.

Nothing is Impossible if You and Me Became Us

Babak perdelapan final Liga Champion 2016-2017 antara Paris Saint Germain vs Barcelona, pada pertandingan pertama dimana PSG jadi tuan ru...