Di keheningan malam itu Desa Warukin, Kec. Tanta, Kab. tabalong nampak tenang. Nyaris tidak terlihat aktivitas penduduk desa tempat bermukimnya masyarakat adat Dayak Maanyan tersebut. Di jalan utama desa hanya ada sesekali kendaraan yang melintas membelah kegelapan malam. Salah satunya adalah kendaraan mang Husin Nafarin yang ditumpangi oleh saya menuju kediaman pak Rudy Lucky, Ketua/Penghulu Adat Dayak Maanyan Warukin. Kami datang untuk menghadiri Upacara Ritual Adat Pagar Banua atau disebut Ipaket.
Minggu, 07 September 2014
Minggu, 06 Juli 2014
Selamat Datang Satrio Piningit (?)
Sekitar pertengahan 2003,
kunjungan terakhir saya dalam rangkaian penelitian skripsi di Dieng tentang
Mitos Anak Gembel. Kunjungan kali ini sebenarnya hanya untuk silaturahmi dan
konfirmasi data-data yang telah saya kumpulkan lebih kurang sekitar 2 tahun di
Dieng.
Pada saat itu bangsa Indonesia
sedang bersiap menghadapi Pemilu Presiden. Kalo tidak salah ingat waktu itu SBY
yang menjabat sebagai Menkopolkam mengundurkan diri karena hendak mencalonkan
diri sebagai Presiden. Megawati kabarnya agak tersinggung dan sejak itu
hubungan keduanya memburuk.
Tentang kepemimpinan Indonesia, Joyoboyo
meramalkan akan munculnya Satrio Piningit yang nanti akan membawa Indonesia
kemasa keemasannya. Ramalan itu dituliskan ulang oleh Raden Ngabehi
Ronggowarsito. Sebenarnya saya tidak terlalu percaya dan cenderung menolak
ramalan tersebut. Konsep satrio pingit sebagai Ratu Adil menunjukan kepasrahan
masyarakat terhadap kemakmuran bangsanya sehingga mengharapkan pertolongan dari
sosok hebat seperti Satrio Piningit.
Sabtu, 15 Februari 2014
Manjat Pohon Manau Berduri
Memanjat pohon manau berduri merupakan suatu tradisi pada masyarakat Dayak Deah di Tabalong, Kalsel. tradisi yang sarat dengan prosesi ritual ini adalah suatu mekanisme ujian bagi calon pemimpin.
Kamis, 09 Januari 2014
Monumen Tanjung Puri alias Tugu Obor, Api Abadi dari Tabalong
Penulis :Yudi Febrianda dan Firman Yusi
Fotografer : Yudi Febrianda
Terletak di perempatan jalan keberadaan tugu ini sangat strategis dan mencolok sekali. Jika datang dari arah selatan, yaitu dari arah Banjarmasin atau jika dari arah Timur, yaitu dari Kaltim ketika memasuki kota Tanjung perhatian pertama pasti akan terkesima dengan sosok kokoh nan berapi-berapi ini. Popular dengan nama Tugu Obor karena terdapat api abadi dipuncaknya. Api tersebut selalu hidup walau hujan badai karena berasal dari gas alam yang disalurkan dari explorasi minyak Pertamina. Namun nama tepatnya adalah Monumen Tanjung Puri, dibangun dimasa kepemimpinan Bupati Dandung Suchrowardi (1984 - 1994).
Rabu, 01 Mei 2013
Tentang Pejalan. Tentang Mitos, Tentang Folklore
e-Magazine, the-travelist.com pada edisi ke-4 terbit dengan tema "Traveling through Folktales".
Kebetulan sebagai lulusan Antropologi, saya diwawancara tentang Folktale atau lebih luas nya tentang Folklore dalam kaitannya dengan Traveling.
Kamis, 10 Januari 2013
Tentang Kontrol Otak
di-copy dari blog lama, postingan 21 Januari 2010
Tentang kebiasaan jelek. Sebenarnya itu kan masalah kebiasaan aja. Alam bawah sadar sudah ter sugesti bahwa melakukan itu adalah tidak apa-apa. Dan seringnya emang nikmat
Tentang kebiasaan jelek. Sebenarnya itu kan masalah kebiasaan aja. Alam bawah sadar sudah ter sugesti bahwa melakukan itu adalah tidak apa-apa. Dan seringnya emang nikmat
Penggerak Utama dari hampir semua tindakan
kita adalah otak. Saya menyebutnya teori
kontrol otak. Apa yg
kita lakukan karna inisiate oleh otak, di approve oleh hati dan dijalankan oleh
tubuh.
Saniangbaka - Sejarah Nagari Intel Pagaruyuang - 2 of 2
Hasil penelitian Antropologi Yanti Diyantini untuk Skripsi S1 di jurusan Antropologi Unpad.
Penelitian dilakukan bersama oleh Yudi F dan Yanti D pada tahun 2006
Bagian kedua dari bagian lainnya
Catatan yang
mengisahkan sejarah nagari Saniangbaka sangat sedikit ditemukan. Dalam banyak
tambo dan buku-buku yang berkaitan dengan Minangkabau, tidak banyak yang
mencatat sejarah ini. Salah satu yang memuat sejarah Saniangbaka adalah dalam
Mahmoed (1978). Disebutlah suatu masa Datuk Katumenggungan mendirikan sebuah
kerajaan bernama Bungo Setangkai yang berpusat di Sungai Tarab. Mula-mula
perkembangan kerajaan ini adalah membuat kubu pertahanan kerajaan dan untuk
membuat lingkaran pertahanan ini Datuk Katumenggungan menugaskan seorang
hububalang pemberani dari Pariangan Padang Panjang untuk menjadi kepala
pertahanan. Hulubalang ini kemudian ditugaskan untuk membuat pertahanan
kerajaan, yang mula-mula membuat sebuah nagari bernama Batipuh. Setelah
Batipuh, kemudian hulubalang ini membuat 10 koto yaitu bentuk suatu daerah,
sebelum menjadi nagari, yang penduduknya sudah banyak meski tinggal berjauhan
tetapi sudah mulai berinteraksi secara intensif di suatu tempat. Koto-koto
tersebut terdiri dari Paninjauan, Gunung, Jao, Tambangan, Singgalang, Pandai
Sikek, Koto Laweh, Koto Baru, Aia Angek, Panyalaian. Setelah kesepuluh koto itu
selesai, hulubalang tersebut membuat kubu pertahanan ke arah timur dengan 10 daerah
pula yaitu Sungai Jambu, Labuatan, Simawang, Bukit Kandung, Sulit Aie, Tanjung
Balit, Singkarak, Saniangbaka, Silungkang dan Padang Sibusuk (Mahmoed,
1978:37-38).
Saniangbaka, Nagari Intel Pagaruyuang - 1 of 2
Hasil penelitian Antropologi Yanti Diyantini untuk Skripsi S1 di jurusan Antropologi Unpad.
Penelitian dilakukan bersama oleh Yudi F dan Yanti D pada tahun 2006
Bagian pertama dari beberapa bagian :)
![]() |
| Saniangbaka tampak dari Bukit Aie Angek |
Secara adminisitratif Nagari Saniangbaka merupakan bagian dari
Kecamatan X Koto Dibawah Singkarak, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Nagari
ini berbatasan dengan daerah lain yaitu di sebelah Utara dengan Nagari Muaro
Pingai; Sebelah Selatan dengan Nagari Koto Sani dan Sumani; Sebelah Barat
dengan Lubuk Minturun – Kodya Padang, dan Sebelah Timur dengan Nagari
Singkarak. Nagari yang mempunyai luas daerah 91,72 Km2 ini berada pada
ketinggian 400 M di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun.
Nagari ini terdiri atas 6 jorong, yaitu Jorong Aia Angek, Balai Batingkah,
Balai Panjang, Balai Lalang, Balai Gadang dan Kapalo Labuah.
Pemukiman di
nagari dikelilingi oleh perbukitan, yang oleh masyarakat dinamakan hutan
tunjuk, Danau Singkarak dan sebagian lainnya oleh area persawahan. Kontur tanah
nagari yang beragam membuat nagari ini kaya akan sumber daya alam. Hutan
tunjuknya, yang kebanyakannya adalah pusako, merupakan ladang subur yang
menghasilkan hasil perkebunan seperti kopi, cengkeh, kayu jati dan sebagainya.
Penduduk nagari juga seringkali mengumpulkan kayu bakar dari hutan ini. Selain
menjadi daerah perladangan, salah satu bukit diantara perbukitan yang menjadi
hutan tunjuk tersebut diduga mengandung batu bara.
Ini sesuai dengan yang disampaikan oleh dubalang[1] suku Balai Mansiang bahwa kemungkinan bukit tersebut mengandung batu bara sangat besar. Ini dibuktikan dengan dilakukannya penelitian tentang kandungan mineral dalam di dalamnya oleh pemerintah daerah. Kenyataan ini juga masuk akal karena kadang-kadang pada musim kemarau tiba bukit tersebut terbakar dengan sendirinya.
Sementara itu Danau Singkarak mengandung kekayaan ikan khas yang jarang ditemui di daerah lain yaitu ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) dan rinuak (Rasbora argyrotaenia). Meski kedua jenis ikan ini juga terdapat di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, tetapi konon menurut beberapa nelayan di Saniangbaka dan Maninjau, kekhasan ikan dari masing-masing danau dapat dibedakan secara kasat mata baik dari ukuran tubuhnya maupun rasanya. Kelangkaannya membuat kedua jenis ikan ini menjadi ciri khas daerah yang selalu diburu pembeli. Keduanya tidak hanya dijual di dalam wilayah Sumatera Barat saja, tetapi juga di daerah lain di dalam dan luar negeri (Hartoto dan Iwakuma, 2002;
Jumat, 07 September 2012
Rumah Cemara, Ginan dan Sebuah Pembuktian
Sabtu, 25 Agustus 2012
Ingat! Indonesia Tidak Hanya Bali #2 - Intisari online
disalin dari intisari-online
ditulis oleh Astri Apriyani
lanjutan dari seri #1
Intisari-Online.com - Jika sebelumnya sudah dideskripsikan keindahan lima pulau (kepulauan) mempesona di Indonesia, sekarang mari kita lanjutkan. Masih ada beberapa pulau lain yang patut masuk dalam daftar destinasi idaman Anda. Tentu saja, di luar Bali serta masih atas rekomendasi para pelancong lokal: Giri Prasetyo (24), Citra Rahman (25), Yudi Febrianda (35), Lucia Nancy, Gilang Pratama (23), Kusumorini Susanto (31), dan Galih Mulya Nugraha (26).
Jumat, 24 Agustus 2012
Ingat Indonesia Tidak Hanya Bali #1 - Intisari Online
disalin dari Intisari-Online.
tulisan oleh Astri Apriyani
Suatu hari di bulan Ramadhan 2012. beberapa hari lagi akan merayakan Idul Fitri. Saya sudah mudik ke kampung istri di Bandung. Sedang menikmati hari-hari nan santai. Gak perlu bangun pagi buta lalu siap tempur mengarungi medan macet di Jakarta. Benar-benar sedang santai.
Setelah sahur dan shalat subuh saya tidur dan berniat bangun se siang mungkin. Sekitar jam 8 pagi, whatsapp saya berbunyi. Ada pesan masuk dari Atre alias Astri Apriyani, "bang, boleh nanya? Pulau apa di Indonesia yg terindah?". Dengan kondisi masih lulungu, masih loading kesadaran, saya coba untuk menjawab pertanyaan yang terlihat sederhana tapi butuh memutar otak dan ingatan serta mencocokan dengan perasaan.
Di Indonesia begitu banyak pulau yang indah. Dan bukan perkara gampang untuk memilih satu dari ratusan atau ribuan pulau indah tersebut. akhirnya saya memutuskan untuk menjawab Kepulauan Anambas. Kebetulan pada 2007 pernah sekitar sebulan keliling Anambas untuk pemetaan potensi wilayah.
Lalu Atre bertanya kembali, "kenapa memilih Anambas?". Nah, pertanyaan nya ternyata bertambah. Saya yang masih belum 100% loading perlu memutar otak lebih keras lagi. Sialan si Atre. Udah setting diri untuk bersantai, tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan yang mesti mutar otak dan menggali ingatan.
Lalu beginilah hasilnya....
Langganan:
Komentar (Atom)
Nothing is Impossible if You and Me Became Us
Babak perdelapan final Liga Champion 2016-2017 antara Paris Saint Germain vs Barcelona, pada pertandingan pertama dimana PSG jadi tuan ru...
-
Membaca Perjalanan ke Atap Dunia karya Daniel Mahendra ini seperti menyeret kita ikut ada dalam alur ceritanya. Kita seperti malai...
-
Penulis :Yudi Febrianda dan Firman Yusi Fotografer : Yudi Febrianda Terletak di perempatan jalan keberadaan tugu ini sangat strate...



