Wednesday, April 11, 2012

Saat Terakhir Timor Lorosae 1999 (9)


Dilli, 29 Agustus 1999

Matahari terbit dengan cerahnya pagi ini di Bumi Lorosae. Sinarnya yang terang mengiringi langkah-langkah mereka yang berharap untuk segera mendapatkan kemakmuran dengan cara masing-masing. Sebagian yakin bahwa dengan tetap menjadi bagian Indonesia, kemakmuran akan segera terwujud. Tapi sebagian besar lainnya yakin bahwa hanya kemerdekaan yang akan menjadi jalan menuju kemakmuran. Hau hili ukun rasikan

Kemarin ketika briefing di markas UNAMET, saya kebagian untuk memantau daerah pemilihan Bidau Santana, tepatnya di TPS SDN Bidau Santana. Kesanalah pagi ini tujuan saya bersama 2 teman lainnya. Dengan penuh semangat pagi itu kami berjalan keluar dari SKB menuju jalan raya depan Katedral Dilli. Rencananya kami naik taksi ke Bidau Santana seperti teman-teman yang kebagian daerah lain.


30 menit berlalu, matahari semakin terik. Satu per satu teman-teman observer lain sudah mendapat taksi menuju tempat tugas masing-masing. Sampai akhirnya tinggal saya dan 2 teman tadi yg masih belum dapat taksi. 3 taksi sudah kami hentikan, tapi ketika menyebut daerah Bidau Santana, supir taksinya langsung geleng-geleng kepala dan berlalu.

45 menit berlalu, matahari semakin menyengat di kulit. Kami lalu putuskan untuk berjalan kaki saja. Bermodal tanya sana sini, kami langkahkan kaki menuju Bidau Santana. Tidak perlu waktu lama untuk mendapat jawaban kenapa taksi-taksi tadi menolak mengantarkan kami ke Bidau santana. 15 menit berjalan kaki, di suatu jalan lurus, setelah jembatan kecil kami lihat banyak gubuk-gubuk tempat berjualan yang porak poranda. Saat kami tiba di depan gubuk-gubuk tersebut, tiba-tiba keluar sekitar 5 orang dengan wajah dingin memegang senjata tajam dan yang paling depan memegang pistol. Kami dicegat. 
"Kalian siapa?!", yang memegang pistol menanya kami dengan suara sedikit keras
Saya sedikit gentar waktu itu. Menghadapi kondisi seperti ini, salah jawab bisa runyam urusannya. 
"Kami observer!", tak kalah keras saya menjawabnya. Saya pikir kalo keliatan takut pasti akan semakin ditekan oleh orang-orang seperti ini
"Kalian netral kah?!", tanya si Pistol lagi
"Iya, kami netral"
"Awas kalau kalian tidak netral"
"Siap, kak!", jawab gue sambil sedikit senyum.
Suasana menjadi sedikit cair. si Pistol pun memberi jalan dan teman-temannya yg pegang parang pun ikut memberi jalan.
Kami tak sia-siakan kesempatan ini. Berjalan terus tanpa menoleh lagi ke belakang. Peluh keringat pun mulai membasahi pakaian kami. Sepertinya campuran keringat hangat dan keringat dingin.

Tak jauh dari tempat berjumpa dengan si Pistol dan kawan-kawan tadi, sekitar 15 menit perjalanan kami pun kembali dicegat dan ditanyakan hal yang sama. Total ada 3 kali kami dicegat dalam perjalanan menuju Bidau Santana. ketiga-tiganya dicegat oleh orang-orang bersenjata dan muka dingin.



Suasana TPS SDN IX Bidau Santana 

Bersama Civil Police dari Korea Selatan


TPS di SDN IX Bidau Santana ini sudah ramai didatangi oleh masyarakat yang akan menyalurkan aspirasinya. Petugas-petugas di TPS yang sebagian besar adalah petugas  UNAMET dari negara-negara lain. Ketika kami datang para petugas tersebut dengan menyiapkan segala sesuatunya. Ada 5 kotak bilik suara disediakan. 


Foto ini diambil sebelum dilarang memotret di dalam ruang pemilihan. "Mandor" dibelakang itu nampak buncit ya? :)