Selasa, 22 Maret 2011

Komodo : the Last Dragon of the World

Komodo, the Last Dragon of the World (photo by Yudi)

Papan informasi di Pelabuhan Sape, Sumbawa Timur itu cukup menyita perhatian. Sebenarnya tidak ada yang istimewa kecuali table yang berisi daftar tariff penyeberangan. Tulisan Labuan Bajo-lah yang membuat mata ini terpaku. Hmm…Labuan Bajo..suatu tempat yang sangat menarik. Gerbang menuju P. Komodo, tempat berdiamnya makhluk berbentuk kadal sisa jaman purba yang bernama Komodo. (Varanus komodoensis). Tapi malam itu saya dan Hanin, teman perjalanan saya, Cuma bisa berharap dalam hati, mudah-mudahan suatu saat nanti diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa sowan ke mbah Komodo ini (dia dah idup sejak jaman dinosaurus, kebayang kan tua nya?), karena perjalanan saya harus menuju ke arah Barat, ke Dompu, Lakey, Tambora, Satondo, P. Moyo dan berakhir di Lombok. Saya dan Hanin malam itu Cuma bisa mencatat informasi tariff kapal ferry dari Pelabuhan Sape (Sumbawa Timur) ke Labuan Bajo, yaitu Rp. 90.000/org. FYI, di papan informasi itu juga ada tariff untuk Babi, Kerbau, dan Sapi *buat yg pingin murah ongkosnya bisa nyamar jadi Babi tuh 

Hari pun berlalu. Bulan Oktober berganti menjadi November. Tiba-tiba kesempatan itu datang. Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata sedang mencari fotografer yang akan dikirim ke P. Komodo untuk membuat materi foto guna memperbanyak voting Komodo National Park for the New Seven Wonders of Nature in the World!. Terutama suara-suara dari luar negeri. Per Desember 2010 posisi Komodo masih berada di rangking ketujuh. Masih perlu banyak promosi lagi. KemenBudpar melalui situs www.indonesia.travel sangat aktif mempropagandakan komodo ini. kenapa dan mengapa nya nanti kita bahas yaa

Rabu, 02 Maret 2011

Mayura, Bukti Indahnya Keberagaman


Istana Air Mayura dibangun oleh Anak Agung Anglurah Made Karang Asem pada tahun 1744. Beliau adalah seorang Raja yang membesarkan Kerajaan Karangasem di Lombok. Dahulu tempat tersebut yangbernama Kelepuk adalah hutan belantara yang banyak dihuni oleh ular berbisa. Sewaktu akan membangun tempat Mayura, Raja Bali tersebut meminta bantuan kepada Raja Makassar yang kemudian mengirimkan burung merak untuk menakut-nakuti ular di tempat tersebut. Sehingga nama tempat tersebut diganti menjadi Mayora, dalam bahasa sanskerta berarti burung merak. Dalam lidah orang Lombok, berubah menjadi Mayura (dibaca Mayure)

Pacao Jara Sumbawa

tulisan oleh Hanindita | foto oleh Yudi


Jangan bayangkan stadion pacuan kuda yang mewah dan pengamanan lengkap pada joki. Di sini pagar pemisah penonton dan lintasan hanya terbuat dari bambu sederhana. Riuh suara penonton meneriaki nama kuda jagoan mereka, beradu dengan derap kaki kuda, dan suara panitia dari pengeras suara. Podium penonton pun terbuat dari kayu. Joki kuda berumur kurang dari 11 tahun, dan yang paling mencengangkan kuda ditunggangi tanpa pelana. Rasakan adrenalin mengalir selama menyaksikan pacoa jara (pacuan kuda) tradisional Sumbawa. Selamat datang di Stadion Lembah Kara Dompu.

Kamis, 13 Januari 2011

Anak Gembel di Dieng, Titisan Sang Penguasa Gaib

 skripsi S1 Antropologi karya Yudi Febrianda dengan judul : 

"Mitos Anak Gembel di Dataran Tinggi Dieng", 2003

silahkan menggunakan isinya untuk kepentingan akademis, penulisan, dll asal mencantumkan sumbernya

Anak Gembel di Dieng
Di Dataran Tinggi Dieng terdapat anak-anak berumur sekitar 1 - 7 tahun berambut gimbal. Rambut gimbal ini bukan sengaja dibikin seperti para rasta di pantai-pantai. Rambut gimbal ini terjadi setelah mengalami suatu gejala sakit dan dipercaya merupakan titipan dari nenek moyang mereka yg sekarang menjadi penguasa alam gaib Dieng, yaitu Kyai Kolodete. Tulisan berikut mencoba menjelaskan fenomena ini dari sudut pandang Antropologi

Rabu, 12 Januari 2011

Dieng, Negeri Para Dewa


skripsi S1 Antropologi karya Yudi Febrianda dengan judul : 

"Mitos Anak Gembel di Dataran Tinggi Dieng", 2003

silahkan menggunakan isinya untuk kepentingan akademis, penulisan, dll asal mencantumkan sumbernya


Lokasi Dan Keadaan Alam

Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) terletak 55 km di sebelah Timur Laut kota Banjarnegara dan 26 km sebelah Utara kota Wonosobo. Sebuah kawasan wisata seluas 8.359 Ha, yang merupakan perpaduan antara keindahan alam dan cagar budaya peninggalan leluhur di sekitar abad VII.

Dilihat dari sisi kondisi gunung dan geologis tanahnya, dataran dengan ketinggian 2.093 meter diatas permukaan laut, dulu merupakan sebuah gunung berapi yang sangat besar dan tinggi. Suatu saat gunung tersebut meletus denga dahsyatnya, melemparkan badan puncaknya ke daerah sekelilingnya yang kini membentuk bukit-bukit besar maupun kecil, seperti rangkaian perbukitan Gunung Perahu (2.565 m), Jurang Grawah (2.450 m), Gunung Kendil (2.326 m), serta perbukitan lain, diantaranya Gunung Pakuwojo, Bismo Pangonan dan Sipendu dengan ketinggian antara 2.245 m – 2.395 m.

Minggu, 19 Desember 2010

Danau Air Asin di Pulau Satonda

Danau ditengah-tengah pulau Satonda ini berair asin karena ada jalur air dibawah yang berhubungan langsung dengan laut (Photo by Yudi)

"Jangan lupa make a wish di Satonda, have fun" ujar Riyanni Djangkaru melalui akun twitternya, @r_djangkaru, kepada saya ketika saya berkunjung ke Satonda 6 Oktober 2010.

Pulau Satonda terletak di sebelah utara Pulau Sumbawa, termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Dompu. Setelah perjalanan panjang melalui kaki Gunung Tambora, sekitar lima jam dari Lakey Hu'u, kami sampai di Desa Nangamiro, Dusun dan Labuan Beranti Kecamatan Pekat. Desa tersebut merupakan tempat untuk menyebrang ke Pulau Satonda. Perjalanan dengan perahu milik penduduk setempat mengambil waktu sekitar 20 menit. Dermaga pantai sederhana di pulau tak berpenghuni ini menyapa kami. Hanya ada pos polisi air yang sudah tak terawat dan paruga, bale-bale, untuk pengunjung istirahat sejenak.

Kamis, 16 Desember 2010

Susu Kuda Liar, Doping dari Sumbawa

Kuda-kuda ini hidup liar di padang rumput yang banyak terdapat di daratan Sumbawa (photo by YF)


Pernah dengar tentang susu kuda liar yang konon khasiatnya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan dapat meningkatkan stamina tubuh? Untuk anda yang tinggal di Jakarta dan Bandung mungkin sering mendengar tentang susu kuda liar. Lalu dari manakah berasal susu kuda liar ini? Dan tentu anda penasaran bagaimana kuda yang hidup liar bisa diambil susunya.

Rabu, 15 Desember 2010

Menyusuri Kaki Gunung Tambora, Perjalanan Deru Campur Debu

Gunung Tambora (2851 mdpl) yang terletak di ujung Utara pulau Sumbawa pernah mengguncang dunia dengan ledakannya yang maha dahsyat pada tahun 1815. Ledakan tersebut mengakibatkan korban jiwa lebih kurang 92.000 jiwa dan memusnahkan tiga kerajaan di sekitarnya, yaitu : Kerajaan Pekat, Kerajaan Sanggar dan Kerajaan Tambora. Bahkan dunia pada tahun itu tidak mengalami musim panas karena ditutup oleh debu Tambora

Lengge dan Jompa : Lumbung Padi Masyarakat Wawo - Kab. Bima - NTB

Lengge


Padi bagi masyarakat petani adalah harta mereka yang berharga. Mereka akan menyimpan padi dengan perlakuan khusus dan tempat khusus. Masyarakat Wawo di Desa Maria, 15 km dari ibu kota kabupaten Bima, mempunyai tempat penyimpanan padi yang diberinama Lengge. Bentuknya panggung terbuat dari kayu beratapkan ilalang atau rumbia berbentuk kerucut. Terdiri atas 2 tingkat. 

Bercengkrama dengan Ular di Wera

Rambo (katanya nama sebenarnya) bersama ular-ular jinak 



Kebanyakan orang pasti sepakat, ular adalah binatang melata yang menakutkan. Ular bisa menyebabkan kematian dengan bisanya yang beracun atau lilitannya yang sangat kuat. Namun lain halnya dengan ular-ular yang berada di suatu pulau karang, yang disebut Pulau Ular, di Kec. Wera, Kab. Bima, Propinsi NTB. Ular-ular di pulau karang tanpa dihuni manusia ini sangat jinak. jumlahnya mencapai ribuan ekor. Pulau Ular ini terletak berdekatan dengan objek wisata andalan lainnya dari Kab. Bima, yaitu Pulau Gilibanta dan Tolowamba. Dari Pulau Ular ini kita juga bisa lepas memandang Pulau Sangiang yang terdapat Gunung berapi.

Selasa, 30 November 2010

Kisah Relawan BTEL Rocks di Tanggap Bencana Merapi 2010


Beberapa waktu yang lalu Gunung Merapi, salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia kembali beraktivitas, memuntahkan awan panas, lahar dan debu vulkaniknya. Berbeda dengan letusan-letusan sebelumnya, kali ini letusannya jauh lebih dahsyat. Korban jiwa berjatuhan, puluhan nyawa melayang, ratusan bahkan ribuan jiwa terpaksa mengungsi, kehilangan tempat tinggal yang lenyap diterjang awan panas dan banjir lahar.

Musibah yang terjadi di wilayah yang merupakan salah satu daerah operasional BTel ini sontak menggerakkan naluri kemanusiaan karyawan BTel.  BTel sebagai perusahaan yang memiliki program CSR (Corporate Social Responsibility) tentu saja tak tinggal diam. Saat letusan pertama terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010 pukul 17.02 WIB, malam harinya atas inisiatif area Yogyakarta, pihak BTEL memberikan bantuan pinjaman 10 unit hape esia ke PMI Sleman dan 2 unit ke PMI Muntilan.

Tanggal 27 Oktober 2010 dibentuklah Team Tanggap Bencana Merapi di bawah koordinasi Fauziah Syafarina(Ririen), Manager CSR BTel. Team ini terdiri dari Ketua Team (Bapak Sudarno – GM Network Jateng DIY, dan Bapak Boedi Hartawan – GM Commerce Jateng DIY), dengan wakil ketua Bapak Hermain Hidayat, Manager Area DIY. Team Tanggap Bencana juga dilengkapi dengan beberapa orang koordinator, yaitu koordinator lapangan Yudi Febrianda dari Head Office dan Victor Apri Cahyana dari HRGA Jateng-DIY, Koordinator Logistik Widodo Yuli Prasetyo dan Wardoyo, serta Koordinator Infokom Unggul Susetyo Adi dan Koordinator Posko Abdul Chopur.

Nothing is Impossible if You and Me Became Us

Babak perdelapan final Liga Champion 2016-2017 antara Paris Saint Germain vs Barcelona, pada pertandingan pertama dimana PSG jadi tuan ru...