Kamis, 21 Juli 2011

Maestro Karawitan Bali : I GEDE DEWA NEGARA


tulisan ini merupakan bagian dari buku 
"9 Pengabdi Seni Menuju Keabadian. Inspirasi dari 9 Seniman Asli Bali"
terbitan PT. Bakrie Telecom, Tbk
Tulisan dan Foto oleh Yudi Febrianda




 Desa adat Bambang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli menjadi lebih dikenal masyarakat luas di Bali dengan hadirnya seorang seniman tabuh gender bernama  I Dewa Gede Negara.  I Gede Dewa Negara yang lahir, besar dan hingga kini tinggal di desa tersebut bersama istrinya, Made Tirta, sampai saat ini masih aktif dalam kegiatan kesenian, khususnya seni tabuh gender, dan kegiatan pertukangan serta bertani. Usia nya yang sudah 80 tahunan sepertinya tidak berhasil mengurangi semangat hidup I Gede Dewa Negara. Anaknya yang berjumlah 5 (lima) orang sedari kecil sudah terbiasa dengan kegiatan kesenian sang ayah, bahkan beberapa anaknya juga terbiasa terlibat dalam kegiatan tersebut dan 3 orang diantaranya saat ini telah turut melestarikan budaya Bali yaitu I Dewa Gede Darmawan (undagi/pembuat pengusung jenazah), I Dewa Gede Darmayasa (seni tabuh) dan Dewa Ketut Kadiri (seni ukir).

Selasa, 19 Juli 2011

Petualang ACI DetikCom : The Best Job In The World!

 merupakan tulisan dari ACI Detik.Com

KudaLiar berfoto bersama Kuda Liar di Sumbawa


Nusa Tenggara Barat - Berpetualang menjelajahi Nusantara adalah cita-cita, bahkan menjelma menjadi obsesi saya. Sejak kecil saya sering sirik dengan bule-bule yang bisa bebas berkeliling Indonesia dan mengeksplorasi keindahan alam budaya bangsa ini.

Ketika seorang teman memberitahu ada program Aku Cinta Indonesia dari detik.com yang menawarkan keliling Indonesia gratis, adrenaline saya langsung memuncak. Ini yg saya cari! Saya langsung mendaftar dengan penuh keyakinan. Tahap demi tahap dilalui, dan Alhamdulillah saya akhirnya terpilih menjadi salah satu dari 66 petualang yang akan dikirimkan ke seluruh penjuru Indonesia. Saya bersama rekan satu tim saya, Hanindita, akan dikirimkan ke Propinsi Nusa Tenggara Barat selama 14 hari dan termasuk kloter kedua. Kami akan menjelajahi pulau Sumbawa sampai pulau Lombok dengan puluhan objek-objek menarik.


Minggu, 03 Juli 2011

Tarempa : Kota Penikmat Kopi

*tulisan ini dimuat di majalah online “the Travelist” edisi 1



Ketika saya pertama kali menginjakan kaki di Tarempa setelah turun dari pompong (perahu motor) atau kapal laut, kesan pertama yang tertangkap adalah orang Tarempa sangat menyukai aktifitas meminum kopi. Hampir di setiap sudut terdapat warung kopi. Sejak pagi sampai sore warung-warung kopi ini tak pernah sepi.

Kamis, 19 Mei 2011

Mitos 2 Naga : Jika terjadi gempa orang Bali akan teriak “idup..idup..."


Jika terjadi gempa orang Bali akan teriak “idup..idup...“.

Dahulu ketika jama kerajaan, ada seorang janda beranak dua, laki-laki dan perempuan. Pada waktu itu Danau Bratan belum ada. Singkat cerita, sang ibu mempunyai hubungan dengan siluman ular besar, atau ular Naga yang berdiam di dalam lubung padi di dekat rumahnya. Lama kelamaan sang anak mulai menaruh curiga, kenapa ibunya setiap pulang dari hutan selalu naik ke lumbung.
Pada suatu saat, ketika ibunya pergi ke hutan, dia naik ke lumbung. Di dalam lumbung dilihatnya ada tumpukan telur yang ukurannya lebih besar dari telur ayam. Di tengah tumpukan telur tersebut terdapat sebuah telur aneh. Telur tersebur diambil dan dimasak lalu dimakan oleh anaknya yang laki.

Gunung Batur - Bali : Sejarah dan Kosmologisnya


Gunung Batur terlihat dari Kintamani
Dalam lontar Candi Supralingga Bhuana dikemukakan keadaan Bali Dwipa dan Seleparang masih sunyi senyap, seolah masih mengambang di tenga samudra yang luas.
Pada saat itu di Bali Dwipa baru ada empat buah Gunung, yaitu :
  1. Gunung Lempuyang di Bagian TImur
  2. Gunung Andakasa di Bagian Selatan
  3. Gunung Karu di Bagian Barat
  4. Gunung Beratan (Mangu) di Bagian Utara
Sehingga keadaan Bali Dwipa pada saat itu masih labil dan goyah. Keadaan ini kemudian diketahui oleh Hyang Paspati yang beristana/berParahyangan di Gunung Semeru[1]. Agar Bali menjadi stabil (Tegteg) Hyang Pasupati kemudian memerintahkan SangHyang Benawang Nala, SangHyang Naga Anantaboga, SangHyang Naga Besukih dan SangHyang Naga Tatsaka memindahkan sebagian puncak Gunung Semeru ke Bali. SangHyang Benawang Nala menjadi dasar puncak Gunung Semeru yang akan dipindahkan ke Bali. SangHyang Naga Anantaboga dan SangHyang Naga Besukih menjadi tali pengikatnya. Sedangkan SangHyang Naga Tatsaka disampig menjadi pengikat puncak Gunung Semeru yang akan dipindahkan ke Bali, juga sekaligus menerbangkan dari Jawa Dwipa Wetan ke Bali. Kemudian setelah tiba di Bali, bagian puncak gunung Semeru yang dibawakan dengan tangan kanan menjadi Gunung Udaya Purwata/Tohlangkir/Gunung Agung.yang dibawa dengan tangan kiri menjadi Gunung Cala Lingga atau kemudian disebut Gunung Batur[2].

Sabtu, 09 April 2011

Natuna - Anambas : SurgaTersebunyi di Utara

Dulu kawasan ini terkenal dengan para Lanun-nya, yaitu bajak laut. Wilayah yang terletak di Laut Cina Selatan diantara Malaysia, Vietnam, P. Kalimantan ini terdiri atas 7 pulau besar, yaitu : 1. Bunguran, 2. Serasan, 3. Midai, 4. Subi, 5. Matak, 6. Siantan, dan 7. Jemaja. 4 pulau pertama termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Natuna, sedangkan Matak, Siantan dan Jemaja sejak 2008 termasuk dalam wilayah administratif Anambas setelah melalui pemekaran dari Kab. Natuna.

Untuk mencapai wilayah Kab. Natuna bisa ditempuh melalui pesawat dari Batam atau Tanjung Pinang ke Pelabuhan Udara di Ranai. Atau bisa dengan kapal laut dari Tanjung Priok dengan waktu tempuh 3-4 hari.
Sedangkan untuk ke Anambas, ada bandara Conoco di P. Matak dan pelabuhan di Siantan dan Jemaja. 

Mei - Juni 2007 saya berkesempatan untuk mengelilingi wilayah Anambas dan P. Bunguran dan sekitarnya selama sebulan. Sayang waktu itu tidak sempat ke P. Serasan, Midai dan Subi.

Tapi perjalanan mengelilingi kawasan Anambas + Bunguran sudah sangat cukup untuk membuka mata saya bahwa di wilayah paling utara Indonesia ini, yang berbatasan langsung dengan laut Vietnam dan Malaysia, tersimpan mutiara wisata yang selama ini tidak banyak diketahui orang.

Berbagai pantai dengan pemandangan yang aduhai dan penduduknya yang ramah bersahabat membuat saya betah berlama-lama di sana. Catatan perjalanan saya selama di sana akan diposting dalam tulisan terpisah. Sekarang coba dinikmati dulu beberapa foto-foto yang sedikit menggambarkan wilayah tersebut.



Pantai Tanjung Momong - Siantan - Anambas

Selasa, 22 Maret 2011

Komodo : the Last Dragon of the World

Komodo, the Last Dragon of the World (photo by Yudi)

Papan informasi di Pelabuhan Sape, Sumbawa Timur itu cukup menyita perhatian. Sebenarnya tidak ada yang istimewa kecuali table yang berisi daftar tariff penyeberangan. Tulisan Labuan Bajo-lah yang membuat mata ini terpaku. Hmm…Labuan Bajo..suatu tempat yang sangat menarik. Gerbang menuju P. Komodo, tempat berdiamnya makhluk berbentuk kadal sisa jaman purba yang bernama Komodo. (Varanus komodoensis). Tapi malam itu saya dan Hanin, teman perjalanan saya, Cuma bisa berharap dalam hati, mudah-mudahan suatu saat nanti diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa sowan ke mbah Komodo ini (dia dah idup sejak jaman dinosaurus, kebayang kan tua nya?), karena perjalanan saya harus menuju ke arah Barat, ke Dompu, Lakey, Tambora, Satondo, P. Moyo dan berakhir di Lombok. Saya dan Hanin malam itu Cuma bisa mencatat informasi tariff kapal ferry dari Pelabuhan Sape (Sumbawa Timur) ke Labuan Bajo, yaitu Rp. 90.000/org. FYI, di papan informasi itu juga ada tariff untuk Babi, Kerbau, dan Sapi *buat yg pingin murah ongkosnya bisa nyamar jadi Babi tuh 

Hari pun berlalu. Bulan Oktober berganti menjadi November. Tiba-tiba kesempatan itu datang. Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata sedang mencari fotografer yang akan dikirim ke P. Komodo untuk membuat materi foto guna memperbanyak voting Komodo National Park for the New Seven Wonders of Nature in the World!. Terutama suara-suara dari luar negeri. Per Desember 2010 posisi Komodo masih berada di rangking ketujuh. Masih perlu banyak promosi lagi. KemenBudpar melalui situs www.indonesia.travel sangat aktif mempropagandakan komodo ini. kenapa dan mengapa nya nanti kita bahas yaa

Rabu, 02 Maret 2011

Mayura, Bukti Indahnya Keberagaman


Istana Air Mayura dibangun oleh Anak Agung Anglurah Made Karang Asem pada tahun 1744. Beliau adalah seorang Raja yang membesarkan Kerajaan Karangasem di Lombok. Dahulu tempat tersebut yangbernama Kelepuk adalah hutan belantara yang banyak dihuni oleh ular berbisa. Sewaktu akan membangun tempat Mayura, Raja Bali tersebut meminta bantuan kepada Raja Makassar yang kemudian mengirimkan burung merak untuk menakut-nakuti ular di tempat tersebut. Sehingga nama tempat tersebut diganti menjadi Mayora, dalam bahasa sanskerta berarti burung merak. Dalam lidah orang Lombok, berubah menjadi Mayura (dibaca Mayure)

Pacao Jara Sumbawa

tulisan oleh Hanindita | foto oleh Yudi


Jangan bayangkan stadion pacuan kuda yang mewah dan pengamanan lengkap pada joki. Di sini pagar pemisah penonton dan lintasan hanya terbuat dari bambu sederhana. Riuh suara penonton meneriaki nama kuda jagoan mereka, beradu dengan derap kaki kuda, dan suara panitia dari pengeras suara. Podium penonton pun terbuat dari kayu. Joki kuda berumur kurang dari 11 tahun, dan yang paling mencengangkan kuda ditunggangi tanpa pelana. Rasakan adrenalin mengalir selama menyaksikan pacoa jara (pacuan kuda) tradisional Sumbawa. Selamat datang di Stadion Lembah Kara Dompu.

Kamis, 13 Januari 2011

Anak Gembel di Dieng, Titisan Sang Penguasa Gaib

 skripsi S1 Antropologi karya Yudi Febrianda dengan judul : 

"Mitos Anak Gembel di Dataran Tinggi Dieng", 2003

silahkan menggunakan isinya untuk kepentingan akademis, penulisan, dll asal mencantumkan sumbernya

Anak Gembel di Dieng
Di Dataran Tinggi Dieng terdapat anak-anak berumur sekitar 1 - 7 tahun berambut gimbal. Rambut gimbal ini bukan sengaja dibikin seperti para rasta di pantai-pantai. Rambut gimbal ini terjadi setelah mengalami suatu gejala sakit dan dipercaya merupakan titipan dari nenek moyang mereka yg sekarang menjadi penguasa alam gaib Dieng, yaitu Kyai Kolodete. Tulisan berikut mencoba menjelaskan fenomena ini dari sudut pandang Antropologi

Rabu, 12 Januari 2011

Dieng, Negeri Para Dewa


skripsi S1 Antropologi karya Yudi Febrianda dengan judul : 

"Mitos Anak Gembel di Dataran Tinggi Dieng", 2003

silahkan menggunakan isinya untuk kepentingan akademis, penulisan, dll asal mencantumkan sumbernya


Lokasi Dan Keadaan Alam

Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau) terletak 55 km di sebelah Timur Laut kota Banjarnegara dan 26 km sebelah Utara kota Wonosobo. Sebuah kawasan wisata seluas 8.359 Ha, yang merupakan perpaduan antara keindahan alam dan cagar budaya peninggalan leluhur di sekitar abad VII.

Dilihat dari sisi kondisi gunung dan geologis tanahnya, dataran dengan ketinggian 2.093 meter diatas permukaan laut, dulu merupakan sebuah gunung berapi yang sangat besar dan tinggi. Suatu saat gunung tersebut meletus denga dahsyatnya, melemparkan badan puncaknya ke daerah sekelilingnya yang kini membentuk bukit-bukit besar maupun kecil, seperti rangkaian perbukitan Gunung Perahu (2.565 m), Jurang Grawah (2.450 m), Gunung Kendil (2.326 m), serta perbukitan lain, diantaranya Gunung Pakuwojo, Bismo Pangonan dan Sipendu dengan ketinggian antara 2.245 m – 2.395 m.

Nothing is Impossible if You and Me Became Us

Babak perdelapan final Liga Champion 2016-2017 antara Paris Saint Germain vs Barcelona, pada pertandingan pertama dimana PSG jadi tuan ru...