Pada suatu
ketika di sebuah forum media sosial masyarakat suatu wilayah yang memiliki
pertambangan di Kalimantan, ada sebuah postingan tentang kisah Sawahlunto pasca
tambang. Disitu diceritakan bagaimana Sawahlunto sempat down dan perekonomian nyaris kolaps hingga muncul inisiatif, ide
kreatif dan usaha keras dari Pemerintah dan masyarakatnya untuk membangkitkan
kembali Sawahlunto. Ada yang menanggapi bahwa pemerintah dan perusahaan tambang
harus menyiapkan pasca tambang. Ada yang menanggapi bahwa masyarakat juga
berperan besar dalam persiapan pasca tambang tersebut. Tidak ada yang salah.
Semua memang benar. Semua pihak, baik itu Pemerintah sebagai pengambil
kebijakan dan sang penguasa wilayah adalah tokoh kunci dalam persiapan pasca
tambang. Perusahaan tambang yang memang punya kewajiban dan itu ditetapkan
dalam berbagai peraturan negara. Dan
yang tidak kalah penting adalah masyarakat sekitar tambang itu sendiri
Senin, 16 Maret 2015
Minggu, 22 Februari 2015
Rumah Pohon Jawukn, Desa Sungai Rumbia, Upau, Tabalong - Kalsel
Tempat yang disebut
Rumah Pohon ini bukanlah rumah dalam artisan sebenarnya. Hanya pondokan yang
dibangun pada sebuah pohon untuk tempat nongkrong. Dibuat dari bahan-bahan
bambu dan potongan kayu yang mudah didapat dari sekitarnya. Istimewanya rumah
pohon yang terletak di bukit Jawukn, Desa Sungai Rumbia, Kec. Upau, Kab.
Tabalong ini adalah pemandangannya yang mengundang decak kagum dan bikin betah
duduk berjam-jam. Arah barat terhampar hutan tropis khas Borneo yang rimbun dan
jika cuaca cerah, mentari mengeluarkan keindahannya yang menakjubkan ketika
turun perlahan lalu tenggelam. Entah siapa yang tidak akan terkesima melihat
atraksi warna kuning keemasan bercampur merah merona dan hijaunya dedaunan
pohon-pohon hutan.
Selasa, 13 Januari 2015
Balada Pi Ik
Namanya Pi Ik. Sebuah nama yang
tidak biasa di telingaku. Dia baru kelas 7 SMPN 3 Halong di Desa Uren, Balangan, Kalsel. Perawakannya
rata-rata seperti perempuan desa lainnya. Kulit agak gelap, jelas karena sering
disinari matahari. Setiap hari dia berangkat sekolah dari rumahnya jam 5 pagi
dan tiba di sekolah jam 8 pagi. 3 jam ia tempuh perjalanan melewati kebun,
hutan, jalanan setapak naik turun dengan berjalan kaki.
Tadi kubertemu dengannya
sepulang sekolah di rumah singgah yang didirikan melalui
program CSR sebuah perusahaan tambang di Kalsel. Bersama teman-teman sekolahnya
ia beristirahat di rumah singgah tersebut. Mereka ini adalah murid-murid
tangguh. Tidak hanya Pi Ik ternyata yang harus menembus dinginnya subuh untuk
mencapai sekolah mereka beberapa jam kemudian. Tapi tidak ada tersirat sedikit
pun beban dari wajah-wajah mereka.
Kutanya ke Pi Ik, "kenapa kamu mau sekolah? Padahal kamu harus jalan kaki 6 jam sehari?"
"hmmm....karena saya ingin sekolah aja. Saya ingin jadi guru", kata Pi ik
"lalu apakah kamu akan tinggal di rumah singgah ini biar gak perlu jalan kaki berjam-jam lagi?", tanyaku lagi
"tidak pak. Bagaimana pun saya harus pulang ke rumah karna ibu saya sedang sakit", jawab Pi Ik dengan nada biasa. Tidak ada nada sedih atau menghiba dari suara dan raut wajahnya. Seakan semua yang dialaminya itu adalah hal biasa. Seperti perjuangan anak-anak di kota yang mesti berjalan dari parkiran ke dalam mall. Atau sama seperti menceritakan ibunya yang kecapekan fitness.
Jika Laskar Pelangi punya tokoh
Lintang yang berjuang sedemikian berat utk bersekolah, di belahan bumi lain di
negara ini ternyata banyak Lintang-Lintang lain yang kadang jauh lebih berat
dari Lintang perjuangannya
Minggu depan insyaallah aku akan
coba datang ke rumah Pi Ik
*Tanjung, 13 Januari 2015*
Rabu, 31 Desember 2014
Pantai Kusik, Pantai Indah dan Penduduk Yang Bersahabat
Aku terusik untuk membongkar catatan lama tentang pantai Kusik ini ketika melihat twit dari @liburanlokal yang me-retwet postingan @wisataanambas yg menggunakan fotoku
Catatan ini merupakan penggalan dari cerita tentang perjalananku menyusuri Natuna dan Anambas (waktu itu Anambas masih masuk kabupaten Natuna) di Mei - Juni 2007 lalu yg tidak pernah selesai kurapihkan. sebuah catatan
Catatan ini merupakan penggalan dari cerita tentang perjalananku menyusuri Natuna dan Anambas (waktu itu Anambas masih masuk kabupaten Natuna) di Mei - Juni 2007 lalu yg tidak pernah selesai kurapihkan. sebuah catatan
Letung,
16 Mei 2007
Hari ini hari Rabu, tapi bukan hari Rabu seperti
biasanya, Rabu ini kami di Letung, Pulau Jemaja. Suatu pulau yang entah
disengaja atau tidak oleh Tuhan, dianugerahi alam yang indah, rancak! Pantai-pantainya bikin orang betah
berlama-lama. Tenang, sunyi, alami, masyarakatnya yang hangat dan masih kuat kekeluargaannya.
Jujur aja, hatiku tertambat di sini. Apalagi setelah aku melihat bagaimana
indahnya pantai Kusik. Ini pantai seperti diciptakan oleh Tuhan di kala hatinya
sedang berbunga-bunga. Pantai yang landai, airnya yang jernih berwarna
hijau, seakan memanggil untuk segera mencumbui kesejukannya. Kalo tidak ingat
waktu terbatas, mungkin aku sudah terjun ke airnya yang jernih itu.
Sebelumnya Pantai Kusik ini sama sekali tidak masuk dalam daftar objek yang akan kami kunjungi dalam rangka pemetaan potensi wilayah Anambas. kebetulan pagi itu ketika sedang sarapan di pasar Letung, kami bertemu dgn Anis, seorang pemuda Letung yang punya banyak mimpi untuk memajukan daerahnya. dari obrolan tersebut, tercetuslah informasi dari Anis tentang keberadaan suatu pantai yang indah berada di utara Jemaja. rasa penasaran kami menggiring naluri berpetualan untuk mencari dimana pantai Kusik tersebut. Padahal jam 14.00 WIB kami sudah ada janji untuk mendatangi tempat pak Adnan untuk meliput tentang kesenian Gubah
Jumat, 05 Desember 2014
Anak Gembel Dieng, Mitos, Eksistensi dan Realita
skripsi S1 Antropologi karya Yudi Febrianda dengan judul :
"Mitos Anak Gembel di Dataran Tinggi Dieng", 2003
silahkan menggunakan isinya untuk kepentingan akademis, penulisan, dll asal mencantumkan sumbernya
![]() |
| Ki Temenggung Kolodete atau Kyai Kolodete |
Sifat “aeng” yang melekat (inherent)
pada nama “Dieng” tidak hanya didominasi oleh ajaibnya fenomena alam dan
peninggalan bersejarah situs komplek percandian Dieng saja. Akan tetapi juga
“Ke–aeng–an” atau “keanehan” terlihat pada bentuk rambut anak-anak Dieng yang
berjalin-jalin membentuk ikatan yang saling melekat keras tidak mudah diurai,
yang oleh masyarakat Dieng disebut “gembel” atau “gimbal”.
Warna
rambut anak-anak itu berwarna coklat, dan bila bentuk dan warna rambut anak itu
kita amati, ternyata mengesankan rambut yang tidak terurus dan tidak terawat
baik, mirip dengan gaya rambut bintang sepak bola kenamaan Belanda, Ruud
Gullit. Namun “gaya” rambut anak-anak
Dieng bukan buatan tetapi alami.
Fenomena rambut gembel ini hanya dapat ditemukan pada masyarakat
Wonosobo dan masyarakat yang hidup di lereng Gunung Sundoro.
Minggu, 07 September 2014
Ipaket, Nyepi ala Dayak Maanyan Warukin
Di keheningan malam itu Desa Warukin, Kec. Tanta, Kab. tabalong nampak tenang. Nyaris tidak terlihat aktivitas penduduk desa tempat bermukimnya masyarakat adat Dayak Maanyan tersebut. Di jalan utama desa hanya ada sesekali kendaraan yang melintas membelah kegelapan malam. Salah satunya adalah kendaraan mang Husin Nafarin yang ditumpangi oleh saya menuju kediaman pak Rudy Lucky, Ketua/Penghulu Adat Dayak Maanyan Warukin. Kami datang untuk menghadiri Upacara Ritual Adat Pagar Banua atau disebut Ipaket.
Minggu, 06 Juli 2014
Selamat Datang Satrio Piningit (?)
Sekitar pertengahan 2003,
kunjungan terakhir saya dalam rangkaian penelitian skripsi di Dieng tentang
Mitos Anak Gembel. Kunjungan kali ini sebenarnya hanya untuk silaturahmi dan
konfirmasi data-data yang telah saya kumpulkan lebih kurang sekitar 2 tahun di
Dieng.
Pada saat itu bangsa Indonesia
sedang bersiap menghadapi Pemilu Presiden. Kalo tidak salah ingat waktu itu SBY
yang menjabat sebagai Menkopolkam mengundurkan diri karena hendak mencalonkan
diri sebagai Presiden. Megawati kabarnya agak tersinggung dan sejak itu
hubungan keduanya memburuk.
Tentang kepemimpinan Indonesia, Joyoboyo
meramalkan akan munculnya Satrio Piningit yang nanti akan membawa Indonesia
kemasa keemasannya. Ramalan itu dituliskan ulang oleh Raden Ngabehi
Ronggowarsito. Sebenarnya saya tidak terlalu percaya dan cenderung menolak
ramalan tersebut. Konsep satrio pingit sebagai Ratu Adil menunjukan kepasrahan
masyarakat terhadap kemakmuran bangsanya sehingga mengharapkan pertolongan dari
sosok hebat seperti Satrio Piningit.
Sabtu, 15 Februari 2014
Manjat Pohon Manau Berduri
Memanjat pohon manau berduri merupakan suatu tradisi pada masyarakat Dayak Deah di Tabalong, Kalsel. tradisi yang sarat dengan prosesi ritual ini adalah suatu mekanisme ujian bagi calon pemimpin.
Kamis, 09 Januari 2014
Monumen Tanjung Puri alias Tugu Obor, Api Abadi dari Tabalong
Penulis :Yudi Febrianda dan Firman Yusi
Fotografer : Yudi Febrianda
Terletak di perempatan jalan keberadaan tugu ini sangat strategis dan mencolok sekali. Jika datang dari arah selatan, yaitu dari arah Banjarmasin atau jika dari arah Timur, yaitu dari Kaltim ketika memasuki kota Tanjung perhatian pertama pasti akan terkesima dengan sosok kokoh nan berapi-berapi ini. Popular dengan nama Tugu Obor karena terdapat api abadi dipuncaknya. Api tersebut selalu hidup walau hujan badai karena berasal dari gas alam yang disalurkan dari explorasi minyak Pertamina. Namun nama tepatnya adalah Monumen Tanjung Puri, dibangun dimasa kepemimpinan Bupati Dandung Suchrowardi (1984 - 1994).
Rabu, 01 Mei 2013
Tentang Pejalan. Tentang Mitos, Tentang Folklore
e-Magazine, the-travelist.com pada edisi ke-4 terbit dengan tema "Traveling through Folktales".
Kebetulan sebagai lulusan Antropologi, saya diwawancara tentang Folktale atau lebih luas nya tentang Folklore dalam kaitannya dengan Traveling.
Kamis, 10 Januari 2013
Tentang Kontrol Otak
di-copy dari blog lama, postingan 21 Januari 2010
Tentang kebiasaan jelek. Sebenarnya itu kan masalah kebiasaan aja. Alam bawah sadar sudah ter sugesti bahwa melakukan itu adalah tidak apa-apa. Dan seringnya emang nikmat
Tentang kebiasaan jelek. Sebenarnya itu kan masalah kebiasaan aja. Alam bawah sadar sudah ter sugesti bahwa melakukan itu adalah tidak apa-apa. Dan seringnya emang nikmat
Penggerak Utama dari hampir semua tindakan
kita adalah otak. Saya menyebutnya teori
kontrol otak. Apa yg
kita lakukan karna inisiate oleh otak, di approve oleh hati dan dijalankan oleh
tubuh.
Langganan:
Komentar (Atom)
Nothing is Impossible if You and Me Became Us
Babak perdelapan final Liga Champion 2016-2017 antara Paris Saint Germain vs Barcelona, pada pertandingan pertama dimana PSG jadi tuan ru...
-
Membaca Perjalanan ke Atap Dunia karya Daniel Mahendra ini seperti menyeret kita ikut ada dalam alur ceritanya. Kita seperti malai...
-
Penulis :Yudi Febrianda dan Firman Yusi Fotografer : Yudi Febrianda Terletak di perempatan jalan keberadaan tugu ini sangat strate...




