Namanya Pi Ik. Sebuah nama yang
tidak biasa di telingaku. Dia baru kelas 7 SMPN 3 Halong di Desa Uren, Balangan, Kalsel. Perawakannya
rata-rata seperti perempuan desa lainnya. Kulit agak gelap, jelas karena sering
disinari matahari. Setiap hari dia berangkat sekolah dari rumahnya jam 5 pagi
dan tiba di sekolah jam 8 pagi. 3 jam ia tempuh perjalanan melewati kebun,
hutan, jalanan setapak naik turun dengan berjalan kaki.
Tadi kubertemu dengannya
sepulang sekolah di rumah singgah yang didirikan melalui
program CSR sebuah perusahaan tambang di Kalsel. Bersama teman-teman sekolahnya
ia beristirahat di rumah singgah tersebut. Mereka ini adalah murid-murid
tangguh. Tidak hanya Pi Ik ternyata yang harus menembus dinginnya subuh untuk
mencapai sekolah mereka beberapa jam kemudian. Tapi tidak ada tersirat sedikit
pun beban dari wajah-wajah mereka.
Kutanya ke Pi Ik, "kenapa kamu mau sekolah? Padahal
kamu harus jalan kaki 6 jam sehari?"
"hmmm....karena saya ingin sekolah aja. Saya ingin
jadi guru", kata Pi ik
"lalu apakah kamu akan tinggal di rumah
singgah ini biar gak perlu jalan kaki berjam-jam lagi?", tanyaku lagi
"tidak pak. Bagaimana pun saya harus pulang ke
rumah karna ibu saya sedang sakit", jawab Pi Ik dengan nada biasa. Tidak ada
nada sedih atau menghiba dari suara dan raut wajahnya. Seakan semua yang
dialaminya itu adalah hal biasa. Seperti perjuangan anak-anak di kota yang
mesti berjalan dari parkiran ke dalam mall. Atau sama seperti menceritakan
ibunya yang kecapekan fitness.
Jika Laskar Pelangi punya tokoh
Lintang yang berjuang sedemikian berat utk bersekolah, di belahan bumi lain di
negara ini ternyata banyak Lintang-Lintang lain yang kadang jauh lebih berat
dari Lintang perjuangannya
Minggu depan insyaallah aku akan
coba datang ke rumah Pi Ik
*Tanjung, 13 Januari 2015*