Kamis, 29 Oktober 2015

Baduy : Penjaga Amanah Pegunungan Kendeng





#Baduy #KearifanLokal #BulanAdat #Kepercayaan #SundaWiwitan #Kawalu #Seba
 *disarikan dari twitter @kudaliarr pada Januari 2013*

Kenapa orang Baduy memilih hidup sederhana di tengah pegunungan Kendeng? Bahkan sampai detik ini. Urang Baduy hidup di hulu sungai Ciujung karena dititipkan amanah untuk menjaga alam sana. Dan mereka sangat teguh memegang amanah tersebut. "Kami dapat amanah untuk menjaga alam ini. Dan amanah ini harus kami jalankan, bagaimana pun kondisinya" sehingga orang Baduy hidup sangat alami. Ada banyak pantangan yang berlaku di Baduy Dalam dan sedikit longgar di Baduy luar. Pada intinya smua pantangan tersebut untuk menjaga.

Kamis, 27 Agustus 2015

Explore Anambas 2007

Pada bulan Mei 2007, saya berkesempatan eksplorasi kepualauan Natuna, khususnya di kawasan Anambas. Lebih kurang sebulan keliling kawasan yang termasuk daerah perbatasan ini sangat banyak hal baru yg di temui.

Alam yang masih asri, penduduk yang bersahaja, kebudayaan yang unik, menghasilkan suatu pengalaman yang menakjubkan selama di Anambas ini

Sejak Desember 2008, Kawasan Anambas menjadi kabupaten tersendiri.

Pantai Kusik di Pulau Jemaja

Minggu, 05 Juli 2015

Novel Perjalanan Ke Atap Dunia : Racun!


https://31.media.tumblr.com/a22cbaa3f33874f95e3a66b005c98e14/tumblr_inline_my6sdneI0y1rzwi9q.jpg 
Membaca Perjalanan ke Atap Dunia karya Daniel Mahendra ini seperti menyeret kita ikut ada dalam alur ceritanya. Kita seperti malaikat yang ikut di samping si penulis menyaksikan apa dan ngapain aja dia. Alur ceritanya mengalir secara runut dan detil tapi tidak membosankan. Porsi untuk metafornya pas, tidak berlebih. Kadang ada juga novel yang metaforanya berpanjang-panjang sehingga jadi malas untuk membacanya.

**Tulisan ini ditulis untuk keperluan bedah buku “Perjalanan ke Atap Dunia“, di Rumah Dunia, Serang, Banten, 3 Agustus 2012. **


Tidak seperti tulisan tentang traveling lainnya yang memulai ceritanya dari lokasi atau objek yang akan diceritakan. “Perjalanan ke Atap Dunia” ini justru memulai dari proses niat, merealisasikan niat, proses realisasi sampai perjalanan/traveling itu sendiri. Hal ini tidak hanya membuat pembacnya tertarik untuk datang ke daerah yang diceritakan tapi juga memahami proses untuk mencapai daerah tersebut. Mulai dari bagaimana mengurus visa, tiket, mengatur waktu, bagaimana menyiapkan dananya sampai mengatur itineraryyang sesuai dengan kantong dan keinginan.

Menarik menyimak bagaimana proses DM yang tadinya menyimpan mimpi untuk pergi ke Tibet karena masa kecilnya membaca komik Tintin di Tibet lalu mimpi itu tiba-tiba membuncah karena seorang teman bernama Ijul. Pada bagian ini saya mendapatkan pelajaran bahwa kita butuh keberanian untuk mewujudkan mimpi. Selama ini seringkali saya punya alasan untuk menunda wujudkan mimpi-mimpi. Padahal sebenarnya itu hanya sekadar menutupi kegamangan karena tidak tahu bagaimana cara mewujudkan mimpi tersebut.

Senin, 29 Juni 2015

Puisi Cinta secinta-cintanya.

Aku cinta kau karena aku cinta saja.
Cinta secinta-cintanya. 
Utuh. Penuh
Tidak tercemar oleh nafsu, karna kau pun tidak se seksi aura kasih
Juga bukan karena prestise, karna kau bukan seleb
Pun tidak pula karena kasihan, kau tidak kerempeng dan menggenaskan
Kau hanya perempuan dgn tingkat kecantikan ke 3.638.920.
Kau juga sering sakit2an
Kau kadang pemarah, suka ngeyel
Jadi usah ditanya kenapa aku cinta
Aku cinta karena cinta itu sendiri
Ada paham kau, dek?

Senin, 16 Maret 2015

Menyiapkan Diri Menghadapi Pasca Tambang



Pada suatu ketika di sebuah forum media sosial masyarakat suatu wilayah yang memiliki pertambangan di Kalimantan, ada sebuah postingan tentang kisah Sawahlunto pasca tambang. Disitu diceritakan bagaimana Sawahlunto sempat down dan perekonomian nyaris kolaps hingga muncul inisiatif, ide kreatif dan usaha keras dari Pemerintah dan masyarakatnya untuk membangkitkan kembali Sawahlunto. Ada yang menanggapi bahwa pemerintah dan perusahaan tambang harus menyiapkan pasca tambang. Ada yang menanggapi bahwa masyarakat juga berperan besar dalam persiapan pasca tambang tersebut. Tidak ada yang salah. Semua memang benar. Semua pihak, baik itu Pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan sang penguasa wilayah adalah tokoh kunci dalam persiapan pasca tambang. Perusahaan tambang yang memang punya kewajiban dan itu ditetapkan dalam berbagai peraturan negara. Dan yang tidak kalah penting adalah masyarakat sekitar tambang itu sendiri

Minggu, 22 Februari 2015

Rumah Pohon Jawukn, Desa Sungai Rumbia, Upau, Tabalong - Kalsel





Tempat yang disebut Rumah Pohon ini bukanlah rumah dalam artisan sebenarnya. Hanya pondokan yang dibangun pada sebuah pohon untuk tempat nongkrong. Dibuat dari bahan-bahan bambu dan potongan kayu yang mudah didapat dari sekitarnya. Istimewanya rumah pohon yang terletak di bukit Jawukn, Desa Sungai Rumbia, Kec. Upau, Kab. Tabalong ini adalah pemandangannya yang mengundang decak kagum dan bikin betah duduk berjam-jam. Arah barat terhampar hutan tropis khas Borneo yang rimbun dan jika cuaca cerah, mentari mengeluarkan keindahannya yang menakjubkan ketika turun perlahan lalu tenggelam. Entah siapa yang tidak akan terkesima melihat atraksi warna kuning keemasan bercampur merah merona dan hijaunya dedaunan pohon-pohon hutan.

Selasa, 13 Januari 2015

Balada Pi Ik


 Namanya Pi Ik. Sebuah nama yang tidak biasa di telingaku. Dia baru kelas 7 SMPN 3 Halong di Desa Uren, Balangan, Kalsel. Perawakannya rata-rata seperti perempuan desa lainnya. Kulit agak gelap, jelas karena sering disinari matahari. Setiap hari dia berangkat sekolah dari rumahnya jam 5 pagi dan tiba di sekolah jam 8 pagi. 3 jam ia tempuh perjalanan melewati kebun, hutan, jalanan setapak naik turun dengan berjalan kaki.

Tadi kubertemu dengannya sepulang sekolah di rumah singgah yang didirikan melalui program CSR sebuah perusahaan tambang di Kalsel. Bersama teman-teman sekolahnya ia beristirahat di rumah singgah tersebut. Mereka ini adalah murid-murid tangguh. Tidak hanya Pi Ik ternyata yang harus menembus dinginnya subuh untuk mencapai sekolah mereka beberapa jam kemudian. Tapi tidak ada tersirat sedikit pun beban dari wajah-wajah mereka.

Kutanya ke Pi Ik, "kenapa kamu mau sekolah? Padahal kamu harus jalan kaki 6 jam sehari?"
"hmmm....karena saya ingin sekolah aja. Saya ingin jadi guru", kata Pi ik
"lalu apakah kamu akan tinggal di rumah singgah ini biar gak perlu jalan kaki berjam-jam lagi?", tanyaku lagi
"tidak pak. Bagaimana pun saya harus pulang ke rumah karna ibu saya sedang sakit", jawab Pi Ik dengan nada biasa. Tidak ada nada sedih atau menghiba dari suara dan raut wajahnya. Seakan semua yang dialaminya itu adalah hal biasa. Seperti perjuangan anak-anak di kota yang mesti berjalan dari parkiran ke dalam mall. Atau sama seperti menceritakan ibunya yang kecapekan fitness.

Jika Laskar Pelangi punya tokoh Lintang yang berjuang sedemikian berat utk bersekolah, di belahan bumi lain di negara ini ternyata banyak Lintang-Lintang lain yang kadang jauh lebih berat dari Lintang perjuangannya

Minggu depan insyaallah aku akan coba datang ke rumah Pi Ik


*Tanjung, 13 Januari 2015*

Rabu, 31 Desember 2014

Pantai Kusik, Pantai Indah dan Penduduk Yang Bersahabat

Aku terusik untuk membongkar catatan lama tentang pantai Kusik ini ketika melihat twit dari @liburanlokal yang me-retwet postingan @wisataanambas yg menggunakan fotoku
Catatan ini merupakan penggalan dari cerita tentang perjalananku menyusuri Natuna dan Anambas (waktu itu Anambas masih masuk kabupaten Natuna) di Mei - Juni 2007 lalu yg tidak pernah selesai kurapihkan. sebuah catatan





Letung, 16 Mei 2007

Hari ini hari Rabu, tapi bukan hari Rabu seperti biasanya, Rabu ini kami di Letung, Pulau Jemaja. Suatu pulau yang entah disengaja atau tidak oleh Tuhan, dianugerahi alam yang indah,  rancak! Pantai-pantainya bikin orang betah berlama-lama. Tenang, sunyi, alami, masyarakatnya yang hangat dan masih kuat kekeluargaannya. Jujur aja, hatiku tertambat di sini. Apalagi setelah aku melihat bagaimana indahnya pantai Kusik. Ini pantai seperti diciptakan oleh Tuhan di kala hatinya sedang berbunga-bunga. Pantai yang landai, airnya yang jernih berwarna hijau, seakan memanggil untuk segera mencumbui kesejukannya. Kalo tidak ingat waktu terbatas, mungkin aku sudah terjun ke airnya yang jernih itu. 
Sebelumnya  Pantai Kusik ini sama sekali tidak masuk dalam daftar objek yang akan kami kunjungi dalam rangka pemetaan potensi wilayah Anambas. kebetulan pagi itu ketika sedang sarapan di pasar Letung, kami bertemu dgn Anis, seorang pemuda Letung yang punya banyak mimpi untuk memajukan daerahnya. dari obrolan tersebut, tercetuslah informasi dari Anis tentang keberadaan suatu pantai yang indah berada di utara Jemaja. rasa penasaran kami menggiring naluri berpetualan untuk mencari dimana pantai Kusik tersebut. Padahal jam 14.00 WIB kami sudah ada janji untuk mendatangi tempat pak Adnan untuk meliput tentang kesenian Gubah

Jumat, 05 Desember 2014

Anak Gembel Dieng, Mitos, Eksistensi dan Realita

skripsi S1 Antropologi karya Yudi Febrianda dengan judul : 

"Mitos Anak Gembel di Dataran Tinggi Dieng", 2003

silahkan menggunakan isinya untuk kepentingan akademis, penulisan, dll asal mencantumkan sumbernya

Ki Temenggung Kolodete atau Kyai Kolodete


     Sifat “aeng” yang melekat (inherent) pada nama “Dieng” tidak hanya didominasi oleh ajaibnya fenomena alam dan peninggalan bersejarah situs komplek percandian Dieng saja. Akan tetapi juga “Ke–aeng–an” atau “keanehan” terlihat pada bentuk rambut anak-anak Dieng yang berjalin-jalin membentuk ikatan yang saling melekat keras tidak mudah diurai, yang oleh masyarakat Dieng disebut “gembel” atau “gimbal”.
      Warna rambut anak-anak itu berwarna coklat, dan bila bentuk dan warna rambut anak itu kita amati, ternyata mengesankan rambut yang tidak terurus dan tidak terawat baik, mirip dengan gaya rambut bintang sepak bola kenamaan Belanda, Ruud Gullit.  Namun “gaya” rambut anak-anak Dieng bukan buatan tetapi alami.  Fenomena rambut gembel ini hanya dapat ditemukan pada masyarakat Wonosobo dan masyarakat yang hidup di lereng Gunung Sundoro. 

Minggu, 07 September 2014

Ipaket, Nyepi ala Dayak Maanyan Warukin


Di keheningan malam itu Desa Warukin, Kec. Tanta, Kab. tabalong nampak tenang. Nyaris tidak terlihat aktivitas penduduk desa tempat bermukimnya masyarakat adat Dayak Maanyan tersebut. Di jalan utama desa hanya ada sesekali kendaraan yang melintas membelah kegelapan malam. Salah satunya adalah kendaraan mang Husin Nafarin yang ditumpangi oleh saya menuju kediaman pak Rudy Lucky, Ketua/Penghulu Adat Dayak Maanyan Warukin. Kami datang untuk menghadiri Upacara Ritual Adat Pagar Banua atau disebut Ipaket

Minggu, 06 Juli 2014

Selamat Datang Satrio Piningit (?)



Sekitar pertengahan 2003, kunjungan terakhir saya dalam rangkaian penelitian skripsi di Dieng tentang Mitos Anak Gembel. Kunjungan kali ini sebenarnya hanya untuk silaturahmi dan konfirmasi data-data yang telah saya kumpulkan lebih kurang sekitar 2 tahun di Dieng. 

Pada saat itu bangsa Indonesia sedang bersiap menghadapi Pemilu Presiden. Kalo tidak salah ingat waktu itu SBY yang menjabat sebagai Menkopolkam mengundurkan diri karena hendak mencalonkan diri sebagai Presiden. Megawati kabarnya agak tersinggung dan sejak itu hubungan keduanya memburuk.

Tentang kepemimpinan Indonesia, Joyoboyo meramalkan akan munculnya Satrio Piningit yang nanti akan membawa Indonesia kemasa keemasannya. Ramalan itu dituliskan ulang oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito. Sebenarnya saya tidak terlalu percaya dan cenderung menolak ramalan tersebut. Konsep satrio pingit sebagai Ratu Adil menunjukan kepasrahan masyarakat terhadap kemakmuran bangsanya sehingga mengharapkan pertolongan dari sosok hebat seperti Satrio Piningit.

Nothing is Impossible if You and Me Became Us

Babak perdelapan final Liga Champion 2016-2017 antara Paris Saint Germain vs Barcelona, pada pertandingan pertama dimana PSG jadi tuan ru...