Minggu, 05 Juni 2016

(Katanya) Pancasila

Katanya...
Ketuhanan yang maha esa
nyatanya...
Keuangan yang maha kuasa
katanya..
kemanusiaan yg adil dan beradab
nyatanya...
kemanusiaan yg bathil dan biadab
katanya...

Senin, 16 Mei 2016

Kisah menemukan Pantai Kusik di Anambas

Letung, 16 Mei 2007

Pagi itu saya sarapan di warung dekat lapangan Letung ditemani beberapa pemuda Letung. Salah satunya Anis.
Kami saling bercerita ttg berbagai hal, salah satunya ttg tujuan saya dan Eman Sulaeman ke Letung.
Anis tampak antusias sekali. Dia kemudian bercerita ada sebuah pantai indah di sisi timur pulau Jemaja. Perjalanan harus ditempuh menggunakan motor sekitar 45 menit dan jalan kaki sekitar 30 menit.
Pantai Kusik namanya.

Saya dan Eman sangat tertarik tapi kami ingat jam 1 nanti kami sdh janji dgn pak Adnrim utk ambil gambar kesenian Gubang.
Sedangkan saat itu waktu sdh menunjukan pukul 09.00 pagi.

Sedikit nekad, kami langsung ajak Anis utk ke Pantai Kusik.

Saya dibonceng oleh Eman dan Anis menggunakan motor sendiri.

Perjalanan motor selesai krn sdh tdk ada jalan lagi lalu kami lanjut jalan kaki menaiki satu bukit. Setibanya di puncak bukit, pantai Kusik mulai keliatan. Seketika saya dan Eman terdiam takjub.
Adrenalin kami seperti terpacu kembali. Setengah berlari saya dan Eman menuruni bukit tsb dan menuju ke arah pantai Kusik.

Tiba di Pantai Kusik, saya mendadak kesurupan! Bukan kesurupan jin atau gaib. Tapi akal saya seperti terlupakan krn terpukau oleh keindahan Pantai Kusik.
Kamera Canon EOS 300D dgn memory kosong 1 Gb saya hajar terus2an dan tanpa sadar ISO masih ter-setting di ISO 400.

Untung suara Eman memanggil menyadarkanku. Ternyata dia sudah duduk dgn beberapa pemuda dan seorang tua yg namanya pak Pitar.
Mereka dgn ramah menawarkan jeruk bali dan air kelapa segar. Tentu dgn obrolàn yg hangat juga.
Pak Pitar mengajak kami ke rumahnya. Obrolan berlanjut sampai kami harus pamit krn ingat janji dgn pak Andrim di Letung

Rabu, 04 Mei 2016

Ada-ada Saja Cinta

Ada ada saja cinta

Ada hansip ngajarin tentara berperang. Adaaa...
Ada murai yg ngaku cantik depan Cendrawasih. Adaaa...
Ada lalat yg ngaku tau luar dalamnya gajah. Adaa
Ada tangan yg tidak bertepuk. Adaa..
Ada singa tua yg tersenyum liat anak kucing berjalan pongah. Adaaa...
Ada manusia ngerasa jd Tuhan. Adaa...
Ada anjing yg menggonggong fals. Adaa...
Ada cinta yg tidak terungkap. Banyaak...

Tanjung, 4 Mei 2016
YF saat Langit kelam

Rabu, 20 April 2016

Keang Ethnic Festival 2015




Para penari sedang semangat meliukkan badannya mengikut irama musik khas Dayak yang dimainkan dengan semangat. Gerakan badan para penari tersebut kadang cepat kadang lambat. Saya dan teman-teman dari Adaro Fotografer yang baru datang langsung terpaku diam menyaksikannya. Sementara di dalam Lewu Hante beberapa tangan-tangan terampil sedang berkarya membuat kerajinan khas Dayak Ma’anyan. Lewu Hante adalah sebutan untuk Rumah Besar atau rumah komunal. Adalah keluarga Soeta'ono yang sekarang menjaga dan mewarisi Lewu Hante ini. Soeta'ono adalah pimpinan kelompok Dayak Ma’anyan yang berdiam di Telang Siong, Kec. Paju Epat, Kab. Barito Timur, Kalimantan Tengah.

Jumat, 30 Oktober 2015

Mitos Anak Gembel Pada Masyarakat Dataran Tinggi Dieng

skripsi S1 Antropologi karya Yudi Febrianda dengan judul : 

"Mitos Anak Gembel di Dataran Tinggi Dieng", 2003

silahkan menggunakan isinya untuk kepentingan akademis, penulisan, dll asal mencantumkan sumbernya

Ki Temenggung Kolodete atau Kyai Kolodete


     Sifat “aeng” yang melekat (inherent) pada nama “Dieng” tidak hanya didominasi oleh ajaibnya fenomena alam dan peninggalan bersejarah situs komplek percandian Dieng saja. Akan tetapi juga “Ke–aeng–an” atau “keanehan” terlihat pada bentuk rambut anak-anak Dieng yang berjalin-jalin membentuk ikatan yang saling melekat keras tidak mudah diurai, yang oleh masyarakat Dieng disebut “gembel” atau “gimbal”.

Kamis, 29 Oktober 2015

Baduy : Penjaga Amanah Pegunungan Kendeng





#Baduy #KearifanLokal #BulanAdat #Kepercayaan #SundaWiwitan #Kawalu #Seba
 *disarikan dari twitter @kudaliarr pada Januari 2013*

Kenapa orang Baduy memilih hidup sederhana di tengah pegunungan Kendeng? Bahkan sampai detik ini. Urang Baduy hidup di hulu sungai Ciujung karena dititipkan amanah untuk menjaga alam sana. Dan mereka sangat teguh memegang amanah tersebut. "Kami dapat amanah untuk menjaga alam ini. Dan amanah ini harus kami jalankan, bagaimana pun kondisinya" sehingga orang Baduy hidup sangat alami. Ada banyak pantangan yang berlaku di Baduy Dalam dan sedikit longgar di Baduy luar. Pada intinya smua pantangan tersebut untuk menjaga.

Kamis, 27 Agustus 2015

Explore Anambas 2007

Pada bulan Mei 2007, saya berkesempatan eksplorasi kepualauan Natuna, khususnya di kawasan Anambas. Lebih kurang sebulan keliling kawasan yang termasuk daerah perbatasan ini sangat banyak hal baru yg di temui.

Alam yang masih asri, penduduk yang bersahaja, kebudayaan yang unik, menghasilkan suatu pengalaman yang menakjubkan selama di Anambas ini

Sejak Desember 2008, Kawasan Anambas menjadi kabupaten tersendiri.

Pantai Kusik di Pulau Jemaja

Minggu, 05 Juli 2015

Novel Perjalanan Ke Atap Dunia : Racun!


https://31.media.tumblr.com/a22cbaa3f33874f95e3a66b005c98e14/tumblr_inline_my6sdneI0y1rzwi9q.jpg 
Membaca Perjalanan ke Atap Dunia karya Daniel Mahendra ini seperti menyeret kita ikut ada dalam alur ceritanya. Kita seperti malaikat yang ikut di samping si penulis menyaksikan apa dan ngapain aja dia. Alur ceritanya mengalir secara runut dan detil tapi tidak membosankan. Porsi untuk metafornya pas, tidak berlebih. Kadang ada juga novel yang metaforanya berpanjang-panjang sehingga jadi malas untuk membacanya.

**Tulisan ini ditulis untuk keperluan bedah buku “Perjalanan ke Atap Dunia“, di Rumah Dunia, Serang, Banten, 3 Agustus 2012. **


Tidak seperti tulisan tentang traveling lainnya yang memulai ceritanya dari lokasi atau objek yang akan diceritakan. “Perjalanan ke Atap Dunia” ini justru memulai dari proses niat, merealisasikan niat, proses realisasi sampai perjalanan/traveling itu sendiri. Hal ini tidak hanya membuat pembacnya tertarik untuk datang ke daerah yang diceritakan tapi juga memahami proses untuk mencapai daerah tersebut. Mulai dari bagaimana mengurus visa, tiket, mengatur waktu, bagaimana menyiapkan dananya sampai mengatur itineraryyang sesuai dengan kantong dan keinginan.

Menarik menyimak bagaimana proses DM yang tadinya menyimpan mimpi untuk pergi ke Tibet karena masa kecilnya membaca komik Tintin di Tibet lalu mimpi itu tiba-tiba membuncah karena seorang teman bernama Ijul. Pada bagian ini saya mendapatkan pelajaran bahwa kita butuh keberanian untuk mewujudkan mimpi. Selama ini seringkali saya punya alasan untuk menunda wujudkan mimpi-mimpi. Padahal sebenarnya itu hanya sekadar menutupi kegamangan karena tidak tahu bagaimana cara mewujudkan mimpi tersebut.

Senin, 29 Juni 2015

Puisi Cinta secinta-cintanya.

Aku cinta kau karena aku cinta saja.
Cinta secinta-cintanya. 
Utuh. Penuh
Tidak tercemar oleh nafsu, karna kau pun tidak se seksi aura kasih
Juga bukan karena prestise, karna kau bukan seleb
Pun tidak pula karena kasihan, kau tidak kerempeng dan menggenaskan
Kau hanya perempuan dgn tingkat kecantikan ke 3.638.920.
Kau juga sering sakit2an
Kau kadang pemarah, suka ngeyel
Jadi usah ditanya kenapa aku cinta
Aku cinta karena cinta itu sendiri
Ada paham kau, dek?

Senin, 16 Maret 2015

Menyiapkan Diri Menghadapi Pasca Tambang



Pada suatu ketika di sebuah forum media sosial masyarakat suatu wilayah yang memiliki pertambangan di Kalimantan, ada sebuah postingan tentang kisah Sawahlunto pasca tambang. Disitu diceritakan bagaimana Sawahlunto sempat down dan perekonomian nyaris kolaps hingga muncul inisiatif, ide kreatif dan usaha keras dari Pemerintah dan masyarakatnya untuk membangkitkan kembali Sawahlunto. Ada yang menanggapi bahwa pemerintah dan perusahaan tambang harus menyiapkan pasca tambang. Ada yang menanggapi bahwa masyarakat juga berperan besar dalam persiapan pasca tambang tersebut. Tidak ada yang salah. Semua memang benar. Semua pihak, baik itu Pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan sang penguasa wilayah adalah tokoh kunci dalam persiapan pasca tambang. Perusahaan tambang yang memang punya kewajiban dan itu ditetapkan dalam berbagai peraturan negara. Dan yang tidak kalah penting adalah masyarakat sekitar tambang itu sendiri

Minggu, 22 Februari 2015

Rumah Pohon Jawukn, Desa Sungai Rumbia, Upau, Tabalong - Kalsel





Tempat yang disebut Rumah Pohon ini bukanlah rumah dalam artisan sebenarnya. Hanya pondokan yang dibangun pada sebuah pohon untuk tempat nongkrong. Dibuat dari bahan-bahan bambu dan potongan kayu yang mudah didapat dari sekitarnya. Istimewanya rumah pohon yang terletak di bukit Jawukn, Desa Sungai Rumbia, Kec. Upau, Kab. Tabalong ini adalah pemandangannya yang mengundang decak kagum dan bikin betah duduk berjam-jam. Arah barat terhampar hutan tropis khas Borneo yang rimbun dan jika cuaca cerah, mentari mengeluarkan keindahannya yang menakjubkan ketika turun perlahan lalu tenggelam. Entah siapa yang tidak akan terkesima melihat atraksi warna kuning keemasan bercampur merah merona dan hijaunya dedaunan pohon-pohon hutan.

Nothing is Impossible if You and Me Became Us

Babak perdelapan final Liga Champion 2016-2017 antara Paris Saint Germain vs Barcelona, pada pertandingan pertama dimana PSG jadi tuan ru...