Para penari
sedang semangat meliukkan badannya mengikut irama musik khas Dayak yang
dimainkan dengan semangat. Gerakan badan para penari tersebut kadang
cepat kadang lambat. Saya dan teman-teman dari Adaro Fotografer yang baru
datang langsung terpaku diam menyaksikannya. Sementara di dalam Lewu Hante beberapa tangan-tangan
terampil sedang berkarya membuat kerajinan khas Dayak Ma’anyan. Lewu Hante adalah
sebutan untuk Rumah Besar atau rumah komunal. Adalah keluarga Soeta'ono yang
sekarang menjaga dan mewarisi Lewu Hante ini.
Soeta'ono adalah pimpinan kelompok Dayak Ma’anyan
yang berdiam di Telang Siong, Kec. Paju Epat, Kab. Barito Timur, Kalimantan
Tengah.
Rabu, 20 April 2016
Jumat, 30 Oktober 2015
Mitos Anak Gembel Pada Masyarakat Dataran Tinggi Dieng
skripsi S1 Antropologi karya Yudi Febrianda dengan judul :
"Mitos Anak Gembel di Dataran Tinggi Dieng", 2003
silahkan menggunakan isinya untuk kepentingan akademis, penulisan, dll asal mencantumkan sumbernya
![]() |
| Ki Temenggung Kolodete atau Kyai Kolodete |
Sifat “aeng” yang melekat (inherent)
pada nama “Dieng” tidak hanya didominasi oleh ajaibnya fenomena alam dan
peninggalan bersejarah situs komplek percandian Dieng saja. Akan tetapi juga
“Ke–aeng–an” atau “keanehan” terlihat pada bentuk rambut anak-anak Dieng yang
berjalin-jalin membentuk ikatan yang saling melekat keras tidak mudah diurai,
yang oleh masyarakat Dieng disebut “gembel” atau “gimbal”.
Kamis, 29 Oktober 2015
Baduy : Penjaga Amanah Pegunungan Kendeng
#Baduy #KearifanLokal #BulanAdat #Kepercayaan
#SundaWiwitan #Kawalu #Seba
*disarikan dari twitter @kudaliarr pada Januari 2013*
Kenapa orang Baduy memilih hidup sederhana di tengah pegunungan
Kendeng? Bahkan sampai detik ini. Urang Baduy hidup di hulu sungai Ciujung karena dititipkan
amanah untuk menjaga alam sana. Dan mereka sangat teguh memegang amanah
tersebut. "Kami dapat
amanah untuk menjaga alam ini. Dan amanah ini harus kami jalankan, bagaimana
pun kondisinya" sehingga orang Baduy hidup sangat alami. Ada banyak
pantangan yang berlaku di Baduy Dalam dan sedikit longgar di Baduy luar. Pada intinya smua pantangan tersebut untuk
menjaga.
Kamis, 27 Agustus 2015
Explore Anambas 2007
Pada bulan Mei 2007, saya berkesempatan eksplorasi kepualauan Natuna,
khususnya di kawasan Anambas. Lebih kurang sebulan keliling kawasan
yang termasuk daerah perbatasan ini sangat banyak hal baru yg di temui.
Alam yang masih asri, penduduk yang bersahaja, kebudayaan yang unik,
menghasilkan suatu pengalaman yang menakjubkan selama di Anambas ini
Sejak Desember 2008, Kawasan Anambas menjadi kabupaten tersendiri.
![]() |
| Pantai Kusik di Pulau Jemaja |
Minggu, 05 Juli 2015
Novel Perjalanan Ke Atap Dunia : Racun!
Membaca Perjalanan ke Atap Dunia karya Daniel Mahendra ini
seperti menyeret kita ikut ada dalam alur ceritanya. Kita seperti
malaikat yang ikut di samping si penulis menyaksikan apa dan ngapain aja
dia. Alur ceritanya mengalir secara runut dan detil tapi tidak
membosankan. Porsi untuk metafornya pas, tidak berlebih. Kadang ada juga
novel yang metaforanya berpanjang-panjang sehingga jadi malas untuk
membacanya.
**Tulisan ini ditulis untuk keperluan bedah buku “Perjalanan ke Atap Dunia“, di Rumah Dunia, Serang, Banten, 3 Agustus 2012. **
Tidak seperti tulisan tentang traveling lainnya yang memulai ceritanya dari lokasi atau objek yang akan diceritakan. “Perjalanan ke Atap Dunia” ini justru memulai dari proses niat, merealisasikan niat, proses realisasi sampai perjalanan/traveling itu sendiri. Hal ini tidak hanya membuat pembacnya tertarik untuk datang ke daerah yang diceritakan tapi juga memahami proses untuk mencapai daerah tersebut. Mulai dari bagaimana mengurus visa, tiket, mengatur waktu, bagaimana menyiapkan dananya sampai mengatur itineraryyang sesuai dengan kantong dan keinginan.
Menarik menyimak bagaimana proses DM yang tadinya menyimpan mimpi untuk pergi ke Tibet karena masa kecilnya membaca komik Tintin di Tibet lalu mimpi itu tiba-tiba membuncah karena seorang teman bernama Ijul. Pada bagian ini saya mendapatkan pelajaran bahwa kita butuh keberanian untuk mewujudkan mimpi. Selama ini seringkali saya punya alasan untuk menunda wujudkan mimpi-mimpi. Padahal sebenarnya itu hanya sekadar menutupi kegamangan karena tidak tahu bagaimana cara mewujudkan mimpi tersebut.
Senin, 29 Juni 2015
Puisi Cinta secinta-cintanya.
Aku cinta kau karena aku cinta saja.
Cinta secinta-cintanya.
Cinta secinta-cintanya.
Utuh. Penuh
Tidak tercemar oleh nafsu, karna kau pun tidak se seksi aura kasih
Juga bukan karena prestise, karna kau bukan seleb
Pun tidak pula karena kasihan, kau tidak kerempeng dan menggenaskan
Kau hanya perempuan dgn tingkat kecantikan ke 3.638.920.
Kau juga sering sakit2an
Kau kadang pemarah, suka ngeyel
Pun tidak pula karena kasihan, kau tidak kerempeng dan menggenaskan
Kau hanya perempuan dgn tingkat kecantikan ke 3.638.920.
Kau juga sering sakit2an
Kau kadang pemarah, suka ngeyel
Jadi usah ditanya kenapa aku cinta
Aku cinta karena cinta itu sendiri
Aku cinta karena cinta itu sendiri
Ada paham kau, dek?
Senin, 16 Maret 2015
Menyiapkan Diri Menghadapi Pasca Tambang
Pada suatu
ketika di sebuah forum media sosial masyarakat suatu wilayah yang memiliki
pertambangan di Kalimantan, ada sebuah postingan tentang kisah Sawahlunto pasca
tambang. Disitu diceritakan bagaimana Sawahlunto sempat down dan perekonomian nyaris kolaps hingga muncul inisiatif, ide
kreatif dan usaha keras dari Pemerintah dan masyarakatnya untuk membangkitkan
kembali Sawahlunto. Ada yang menanggapi bahwa pemerintah dan perusahaan tambang
harus menyiapkan pasca tambang. Ada yang menanggapi bahwa masyarakat juga
berperan besar dalam persiapan pasca tambang tersebut. Tidak ada yang salah.
Semua memang benar. Semua pihak, baik itu Pemerintah sebagai pengambil
kebijakan dan sang penguasa wilayah adalah tokoh kunci dalam persiapan pasca
tambang. Perusahaan tambang yang memang punya kewajiban dan itu ditetapkan
dalam berbagai peraturan negara. Dan
yang tidak kalah penting adalah masyarakat sekitar tambang itu sendiri
Minggu, 22 Februari 2015
Rumah Pohon Jawukn, Desa Sungai Rumbia, Upau, Tabalong - Kalsel
Tempat yang disebut
Rumah Pohon ini bukanlah rumah dalam artisan sebenarnya. Hanya pondokan yang
dibangun pada sebuah pohon untuk tempat nongkrong. Dibuat dari bahan-bahan
bambu dan potongan kayu yang mudah didapat dari sekitarnya. Istimewanya rumah
pohon yang terletak di bukit Jawukn, Desa Sungai Rumbia, Kec. Upau, Kab.
Tabalong ini adalah pemandangannya yang mengundang decak kagum dan bikin betah
duduk berjam-jam. Arah barat terhampar hutan tropis khas Borneo yang rimbun dan
jika cuaca cerah, mentari mengeluarkan keindahannya yang menakjubkan ketika
turun perlahan lalu tenggelam. Entah siapa yang tidak akan terkesima melihat
atraksi warna kuning keemasan bercampur merah merona dan hijaunya dedaunan
pohon-pohon hutan.
Selasa, 13 Januari 2015
Balada Pi Ik
Namanya Pi Ik. Sebuah nama yang
tidak biasa di telingaku. Dia baru kelas 7 SMPN 3 Halong di Desa Uren, Balangan, Kalsel. Perawakannya
rata-rata seperti perempuan desa lainnya. Kulit agak gelap, jelas karena sering
disinari matahari. Setiap hari dia berangkat sekolah dari rumahnya jam 5 pagi
dan tiba di sekolah jam 8 pagi. 3 jam ia tempuh perjalanan melewati kebun,
hutan, jalanan setapak naik turun dengan berjalan kaki.
Tadi kubertemu dengannya
sepulang sekolah di rumah singgah yang didirikan melalui
program CSR sebuah perusahaan tambang di Kalsel. Bersama teman-teman sekolahnya
ia beristirahat di rumah singgah tersebut. Mereka ini adalah murid-murid
tangguh. Tidak hanya Pi Ik ternyata yang harus menembus dinginnya subuh untuk
mencapai sekolah mereka beberapa jam kemudian. Tapi tidak ada tersirat sedikit
pun beban dari wajah-wajah mereka.
Kutanya ke Pi Ik, "kenapa kamu mau sekolah? Padahal kamu harus jalan kaki 6 jam sehari?"
"hmmm....karena saya ingin sekolah aja. Saya ingin jadi guru", kata Pi ik
"lalu apakah kamu akan tinggal di rumah singgah ini biar gak perlu jalan kaki berjam-jam lagi?", tanyaku lagi
"tidak pak. Bagaimana pun saya harus pulang ke rumah karna ibu saya sedang sakit", jawab Pi Ik dengan nada biasa. Tidak ada nada sedih atau menghiba dari suara dan raut wajahnya. Seakan semua yang dialaminya itu adalah hal biasa. Seperti perjuangan anak-anak di kota yang mesti berjalan dari parkiran ke dalam mall. Atau sama seperti menceritakan ibunya yang kecapekan fitness.
Jika Laskar Pelangi punya tokoh
Lintang yang berjuang sedemikian berat utk bersekolah, di belahan bumi lain di
negara ini ternyata banyak Lintang-Lintang lain yang kadang jauh lebih berat
dari Lintang perjuangannya
Minggu depan insyaallah aku akan
coba datang ke rumah Pi Ik
*Tanjung, 13 Januari 2015*
Rabu, 31 Desember 2014
Pantai Kusik, Pantai Indah dan Penduduk Yang Bersahabat
Aku terusik untuk membongkar catatan lama tentang pantai Kusik ini ketika melihat twit dari @liburanlokal yang me-retwet postingan @wisataanambas yg menggunakan fotoku
Catatan ini merupakan penggalan dari cerita tentang perjalananku menyusuri Natuna dan Anambas (waktu itu Anambas masih masuk kabupaten Natuna) di Mei - Juni 2007 lalu yg tidak pernah selesai kurapihkan. sebuah catatan
Catatan ini merupakan penggalan dari cerita tentang perjalananku menyusuri Natuna dan Anambas (waktu itu Anambas masih masuk kabupaten Natuna) di Mei - Juni 2007 lalu yg tidak pernah selesai kurapihkan. sebuah catatan
Letung,
16 Mei 2007
Hari ini hari Rabu, tapi bukan hari Rabu seperti
biasanya, Rabu ini kami di Letung, Pulau Jemaja. Suatu pulau yang entah
disengaja atau tidak oleh Tuhan, dianugerahi alam yang indah, rancak! Pantai-pantainya bikin orang betah
berlama-lama. Tenang, sunyi, alami, masyarakatnya yang hangat dan masih kuat kekeluargaannya.
Jujur aja, hatiku tertambat di sini. Apalagi setelah aku melihat bagaimana
indahnya pantai Kusik. Ini pantai seperti diciptakan oleh Tuhan di kala hatinya
sedang berbunga-bunga. Pantai yang landai, airnya yang jernih berwarna
hijau, seakan memanggil untuk segera mencumbui kesejukannya. Kalo tidak ingat
waktu terbatas, mungkin aku sudah terjun ke airnya yang jernih itu.
Sebelumnya Pantai Kusik ini sama sekali tidak masuk dalam daftar objek yang akan kami kunjungi dalam rangka pemetaan potensi wilayah Anambas. kebetulan pagi itu ketika sedang sarapan di pasar Letung, kami bertemu dgn Anis, seorang pemuda Letung yang punya banyak mimpi untuk memajukan daerahnya. dari obrolan tersebut, tercetuslah informasi dari Anis tentang keberadaan suatu pantai yang indah berada di utara Jemaja. rasa penasaran kami menggiring naluri berpetualan untuk mencari dimana pantai Kusik tersebut. Padahal jam 14.00 WIB kami sudah ada janji untuk mendatangi tempat pak Adnan untuk meliput tentang kesenian Gubah
Jumat, 05 Desember 2014
Anak Gembel Dieng, Mitos, Eksistensi dan Realita
skripsi S1 Antropologi karya Yudi Febrianda dengan judul :
"Mitos Anak Gembel di Dataran Tinggi Dieng", 2003
silahkan menggunakan isinya untuk kepentingan akademis, penulisan, dll asal mencantumkan sumbernya
![]() |
| Ki Temenggung Kolodete atau Kyai Kolodete |
Sifat “aeng” yang melekat (inherent)
pada nama “Dieng” tidak hanya didominasi oleh ajaibnya fenomena alam dan
peninggalan bersejarah situs komplek percandian Dieng saja. Akan tetapi juga
“Ke–aeng–an” atau “keanehan” terlihat pada bentuk rambut anak-anak Dieng yang
berjalin-jalin membentuk ikatan yang saling melekat keras tidak mudah diurai,
yang oleh masyarakat Dieng disebut “gembel” atau “gimbal”.
Warna
rambut anak-anak itu berwarna coklat, dan bila bentuk dan warna rambut anak itu
kita amati, ternyata mengesankan rambut yang tidak terurus dan tidak terawat
baik, mirip dengan gaya rambut bintang sepak bola kenamaan Belanda, Ruud
Gullit. Namun “gaya” rambut anak-anak
Dieng bukan buatan tetapi alami.
Fenomena rambut gembel ini hanya dapat ditemukan pada masyarakat
Wonosobo dan masyarakat yang hidup di lereng Gunung Sundoro.
Langganan:
Komentar (Atom)
Nothing is Impossible if You and Me Became Us
Babak perdelapan final Liga Champion 2016-2017 antara Paris Saint Germain vs Barcelona, pada pertandingan pertama dimana PSG jadi tuan ru...





